Beginilh Nasib Malang Para Manusia Perahu "Pengungsi Rohingya" yang Mencari Tanah Harapan

Orang-orang Rohingya bagai kaum ditolak bumi. Di dua negeri yang mereka sebut rumah--Myanmar dan Bangladesh--mereka tidak diakui sebagai warga negara. Di luar 'kampung halaman', mereka terpasung di kamp pengungsian belaka. Label "manusia perahu" melekat pada anggota suku Rohingya yang mencari tanah harapan dan seakan mempertebal identitas mereka sebagai bangsa tertampik daratan.



Seperti yang dikutip dari inspirasidata.com Gumpalan Asap Mengepul dalam lautan langit. Membawa kepulan kepedihan yang tak berujung. Jikalah bumi ini bisa bicara, mungkin ia akan mengatakan kepada seluruh manusia. Jika kau tak pernah melukai mereka. Jangankan melukai, menyentuh pun tidak. Tapi, apa yang mereka perbuat? Bagai membakar kayu dalam tungku.

Jangan Lewatkan : Sebaiknya Anda Jangan Pernah Mengambil Struk di ATM, Jika Tidak Ingin Terkena Dampak Mengerikan Ini!

Jikalah langit bicara kepada seluruh penjuru bumi yang berada di bawahnya, masihkah mereka diam? Sedangkan kau menjerit, menahan rasa sakit dan panas dari kobaran api. Jasad bergelimpangan bak arang dalam perapian. Hati-hati yang tak berdosa dihancurkan tanpa pandang bulu. Entah dimana mereka letakan nuraninya. Mereka pisahkan antara anak dan orangtua, kerabat dan sanak saudara.



Jikalah mata dan hati manusia buta. Telinganya tuli. Tapi semua itu takkan membuatmu berputus asa.

Dalam sujud kau panjatkan doa dan pertolongan. Hanya kepada-Nya kau memohon dan meminta kemudahan. Disaat saudara lain di sebrang pulau, mendoakan dan berusaha untuk meringankan bebanmu. Kau senantiasa tegar dalam lindungan-Nya.

Disini kami sadar, bahwa kau lebih tangguh dan tegar. Bersyukur dalam kesempitan, membuat hatimu lapang. Sang kesatria kesabaran, ketangguhan dan keteguhan dalam menjaga kalimat La Ilaha Illallah.
loading...
Top