Sungguh Miris, Kisah Hidup Manusia Albino Yang Hidup Dalam Bayangan Kematian



Beberapa manusia dilahirkan di dunia ini dengan beberapa kekurangan, salah satunya adalah terlahir albino. Di mana kulit tidak mampu membentuk pigmentasi, sehingga akan terlihat lebih putih cenderung merah muda.

Hidup sebagai manusia albino memang tidak begitu menyenangkan, apalagi mereka sangat rentan sekali dengan cahaya terutama cahaya matahari. Bahkan di Benua Afrika, mereka kerap diburu, dimutilasi dan dibantai.

BACA JUGA : Hal yang tidak banyak diketahui orang, Cara Ampuh Menghilangkan Kebiasaan Menunda Pekerjaan

Albino di Afrika sering hidup dalam ketakutan, apalagi saat mereka berjalan sendirian. Bahkan anggota badan mereka pun kerap dipotong, untuk dijadikan jimat keberuntungan. Lantas masihkah kehidupan para albino di sana keras?

Gadis yang erlahir albino ini menjelaskan, ketika lahir, kakek dari Loise Lihanda ini ingin membunuhnya, dan saat itu ia yakin jika Loise adalah kutukan jahat bagi keluarganya.

Tapi sekarang, ia dinobatkan menjadi Miss Albino 2016. Bagi Loise, tumbuh sebagai albino di Kenya kerap membuatnya menjadi target pemburu dan penculik, yang tak segan-segan untuk membunuhnya.

"Kakek saya ingin saya mati karena dia pikir aku ini roh jahat. Kalau bukan karena ibu saya yang melindungi dengan agresif, saya yakin saya tidak akan selamat," kata Loise kepada MailOnline dari rumahnya di Kenya.

Ia menjelaskan kesulitan yang dihadapinya saat tumbuh di Kenya, di mana ia satu-satunya di antaranya saudaranya yang albino. Mereka juga kerap melindunginya jika ingin keluar, termasuk dari panas matahari.

"Mereka memastikan saya tidak mendapatkan kulit terbakar dari matahari, dan hal-hal lainnya. Saya selalu merasa sangat aman dengan mereka," tambahnyanya.

Hingga saat ini, ia terus-menerus hidup dalam ketakutan bahwa ia akan diculik dari jalanan dan dibunuh karena bagian-bagian tubuhnya.

Banyak mitos jika tulang-tulang orang albino bisa menangkal roh jahat, yang membuat mereka lebih berharga dari emas. Bahkan, serangan telah begitu marak dalam dua tahun terakhir.

Sekarang ia belajar di perguruan tinggi dengan belajar jurnalistik dan PR. Ia juga menjadi relawan di sebuah badan amal yang peduli terhadap anak-anak albino, banyak di antaranya mereka telah ditinggalkan oleh orang tuanya karena merasa malu memiliki anak dengan kondisi tersebut.

loading...
Top