Semakin Tegang, Kini Rusia Perintahkan Warganya Bersiap Hadapi Perang Nuklir Melawan AS


Siswa SD di Rusia ikut latihan militer. ©REUTERS/Eduard Korniyenko

Pertanda apakah ini? Seperti sebuah prediksi National Intelligence Council (NIC) Amerika menurunkan laporan yang berjudul “Mapping The Global Future” (Memetakan Masa Depan Global) dengan memasukkan analisis badan-badan intelejen dari 15 negara. Ada sesuatu yang besar terjadi di tahun 2020. Selengkapnya disini: Prediksi di 2020.

Seperti yang kita tahu bahwa hubungan Rusia dan Amerika saat ini berada pada titik yang terendah. Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim sinyal cukup jelas kepada Amerika Serikat dan negara Barat sekutunya bahwa dia siap menghadapi perang menyusul makin panasnya konflik di Suriah. Ada spekulasi menyebutkan Washington kemungkinan akan melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap pasukan pemerintah Suriah, rezim yang selama ini didukung Rusia.

Ketegangan antara Washington dan Moskow belakangan ini adalah yang paling parah sejak Perang Dingin. Pemerintah Rusia sudah mengumumkan kepada warganya untuk mengikuti instruksi jika perang benar-benar terjadi dengan negara Barat.

Baca Juga : Tak Puas Beristri 97 Wanita, Kakek di Nigeria Ini Masih Ingin Menikah Lagi

Menurut stasiun televisi ABC News, melalui media pemerintah, warga diperintahkan memeriksa dan mencari lokasi bunker perlindungan terdekat dan menyiapkan topeng gas. Pihak berwenang juga disiapkan untuk memberi tahu warga apa yang harus disiapkan dan dilakukan jika terjadi serangan bom nuklir.

"Jika perang nuklir itu terjadi suatu hari, kalian harus tahu di mana letak bunker perlindungan terdekat," kata sebuah laporan dari stasiun televisi pemerintah, NTV. Selanjutnya dalam tayangan itu NTV memperlihatkan sebuah lokasi bunker perlindungan di Ibu Kota Moskow.

Meski begitu, banyak pengamat menilai Putin tidak akan benar-benar melancarkan perang militer melawan AS dan sekutunya. Dia hanya memperlihatkan respon serius terhadap spekulasi yang menyebut AS akan melancarkan serangan udara terhadap pasukan pemerintah Suriah, seperti dikutip Inquisitr, Ahad (16/10).

AS sebelumnya secara resmi menuding pemerintah Rusia berada di balik serangan siber terhadap institusi AS, termasuk Komite nasional Demokrat dan kampanye Hillary Clinton.

Pejabat intelijen AS selanjutnya mengatakan kepada NBC News, CIA siap melancarkan serangkaian serangan siber yang dirancang khusus untuk melumpuhkan kemampuan Rusia dalam mengganggu hasil pemilu presiden AS pada bulan depan.

Menurut NBC News, sumber CIA mengatakan operasi itu sudah berjalan, termasuk memilih target dan menyiapkan operasi selanjutnya.

Baca Juga : Hebohkan Media Besar Inggris, Sosok Tinggi Besar Berbulu Lebat Tertangkap Kamera di Air Terjun Indonesia

"Kami sedang mengirim pesan kepada Putin dan kita yang tentukan kapan serangan itu akan terjadi. Dampaknya akan besar," kata Wakil Presiden Joe Biden dua hari lalu.

Sebagai respon atas ancaman itu Kementerian Pertahanan Rusia balik mengancam akan menembak jatuh jet tempur AS yang akan melancarkan serangan terhadap pasukan Presiden Basyar al-Assad.

Dikutip dari merdeka, Rusia sudah memperingatkan mereka telah menempatkan senjata pertahanan udara S-300 yang punya kemampuan menembak jatuh jet tempur AS. Setiap serangan terhadap pasukan Suriah adalah serangan terhadap pasukan Rusia, kata mereka.


SA 23 Gladiator Rusia armyrecognition.com

Awal bulan ini pemerintah Rusia juga sudah menggelar latihan menghadapi serangan militer yang melibatkan sekitar 40 juta warga. Pihak berwenang menyampaikan informasi tentang bagaimana pemerintah akan beroperasi di tengah keadaan perang dan lembaga pemerintah mana yang akan memegang kendali komando.

Kantor berita RIA Novosti melaporkan, Rusia juga menggelar uji coba peluncuran rudal balistik pekan ini dan menembakkan tiga rudal dalam sehari. Dua dari rudal yang bisa membawa hulu ledak nuklir diluncurkan dari kapal selam di Pasifik dan satunya lagi dari suatu lokasi peluncuran di darat.

Menurut analisis pengamat, pengumuman Moskow tentang persiapan perang ini sengaja dilakukan untuk meningkatkan dukung terhadap Putin di dalam negeri dan mengirim pesan kepada negara Barat bahwa Negeri Beruang Merah akan tetap mempertahankan dukungan terhadap rezim Basyar al-Assad.

Baca Juga : Ketika Harta Sudah Mengendalikan Manusia

Sebagian kalangan menilai, persiapan perang Rusia yang hanya berjarak kurang dari empat pekan dari pemilu presiden AS bukanlah kebetulan. Kremlin secara tidak langsung seolah ingin mempengaruhi pilihan rakyat Amerika terhadap dua kandidat presiden saat ini, yaitu Donald Trump dan Hillary Clinton.

Kremlin tampaknya ingin mengatakan kepada rakyat Amerika, memilih Clinton berarti memilih perang dengan Rusia, karena capres Demokrat itu digadang akan meneruskan atau bahkan mempertegas kebijakan luar negeri Presiden Barack Obama yang sangat ditentang Rusia.

Top