Marwah Daud Ibrahim Sebut Dimas Kanjeng Bukan Orang Biasa dan Mengadakan Uang Adalah Anugrah Allah



Sekedar informasi, Marwah Daud Ibrahim, Ph.D. adalah politikus berkebangsaan Indonesia. Ia pernah mengemban tugas sebagai anggota DPR RI selama tiga periode, asisten peneliti UNESCO dan Bank Dunia. Wanita kelahiran Sulawesi Selatan ini, tak tanggung-tanggung telah meraih gelar Ph.D. nya di American University, Washington DC, Amerika Serikat.

Sebagai Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng, Marwah Daud Ibrahim menegaskan guru besar mereka Taat Pribadi tidak pernah menggandakan uang melainkan mengadakan uang untuk kemaslahatan umat.

Baca Juga : Ini Sosok Pengacara yang Mau Bela Dimas Kanjeng

Hal ini diungkapkan Marwah pada wartawan di sela-sela kunjungannya ke Padepokan Dimas Kanjeng di Dusun Cemengkalang, Desa Wangkal, Probolinggo, Sabtu (1/10).

"Jadi ini bukan penggandaan tapi ini pengadaan," tegas Marwah pada wartawan saat berkunjung di Padepokan Dimas Kanjeng.

Marwah juga menegaskan di Padepokan Dimas Kanjeng tidak pernah ada mahar dari para santri yang ingin bergabung. Wanita yang juga pengurus MUI dan ICMI ini mengibaratkan seperti di sebuah organisasi yang mewajibkan seluruh anggotanya untuk bayar iuran wajib.

"Sama dengan organisasi, ada iuran pokok, kalau di sini mahar. Kalau koperasi simpanan wajib kalau di sini biasanya sesuai dengan keperluan dan kemampuan. Misalnya mau bangun jalan, pendopo. Tapi di sini juga biasa disebut saweran tapi dicatat meski sifatnya saweran," ungkap Marwah.

Lihat selengkapnya melalui wawancaranya,


Apakah Dimas Kanjeng menjanjikan kepada para santri?

"Beliau tidak pernah berjanji, tapi dengan melihat gambar-gambar. Insya Allah, masya Allah," pungkas Marwah. Ratusan pengikut Taat Pribadi di Padepokan Dimas Kanjeng menyambut meriah kedatangan Marwah Daud Ibrahim, saat mengunjungi para padepokan, Sabtu (1/10).

Para pengikut yang masih tinggal di tenda tampak sumringah melihat ketua yayasannya (Marwah Daud) tiba di padepokan. Para pengikut laki-laki dan perempuan langsung bersalaman dan sungkeman. Bahkan disambut dengan pembacaan salawat. Setelah itu pengikut memberikan yel-yel "merdeka! Allahu Akbar! Hidup padepokan!".

Tak hanya itu, di depan tenda, Marwah Daud menanyakan kepada pengikut. "Sudah makan kan? Makanan di sini cukup kan?" tanya Marwah Daud kepada ratusan pengikut.

Pertanyaan Marwah Daud langsung dijawab oleh pengikut,"Alhamdulillah sangat cukup bunda, kami di sini tidak kekurangan untuk makan."

Baca Juga : BODOH atau apa? Punya Uang Ratusan Juta disetor ke Dimas Kanjeng, tapi disana Tidur Beralas & Beratap Terpal, Hingga tak Makan

Marwah Daud selanjutnya meminta pengikut untuk menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar. Para pengikut tampak semangat dan menuruti serta menjawab dengan tegas apa yang minta dan ditanyakan Marwah.

Para pengikut padepokan meminta kepada Marwah, agar padepokan tetap bisa utuh, aktivitas tetap berjalan. Mereka menginginkan Dimas Kanjeng tetap menjadi pemimpin di padepokan. Mereka ingin sekali bertemu dengan maha gurunya.

"Kondisi padepokan saat ini masih baik-baik saja, santri di sini masih setia, buktinya mereka masih semangat untuk dan masih ingin melaksanakan kegiatan di padepokan. Tidak ada paksaan dari siapa-siapa, mereka melakukan apa kata hati mereka sendiri," kata Marwah kepada wartawan saat mengunjungi para pengikut padepokan.

Satu persatu tenda dikunjungi, Marwah memberi semangat terhadap semua pengikut padepokan Taat Pribadi. Dia berpesan agar para pengikut tetap menjalankan pengajian dan kegiatan lainnya.

Sebelum menggaung lagi karena membela Dimas Kanjeng Taat Pribadi, nama Marwah Daud Ibrahim sejak akhir 1990-an dikenal sebagai sosok yang keras. Seniman Danarto menyebut perempuan kelahiran Soppeng, 8 November 1956 sebagai Beauty Iron Lady dari Sulawesi. Alasannya, menurut Danarto, Marwah Daud sering membuat orang terperangah.

Tidak seperti politikus atau anggota DPR sekarang yang lahir karena popularitas, perempuan yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Islam ini justru sudah sejak mahasiswa tahun 1984 menjadi anggota Partai Golkar di Sulawesi Selatan.Puncak karir di Golkar ketika ia dipercaya menjadi Ketua DPP Golkar Pusat pada 1999.

Marwah Daud mengawali karir politik di DPR sejak periode 1992. Ketika itu ia ditawari menjadi calon anggota legislatif mewakili Golkar di daerah pemilihan Sulawesi Selatan. Namanya tercatat di nomor urut 16. Ia beruntung masuk ke gelanggang politik di DPR karena Golkar di provinsi itu meraih 21 kursi.

Kini nama Marwah Daud Ibrahim, yang sejak April 2015 menjadi politikus Partai Gerindra, mencuat lantaran membela habis-habisan Dimas Kanjeng, tersangka kasus pembunuhan dan penipuan bermodus penggandaan uang. Menurut Marwah, Dimas Kanjeng bukan orang biasa.

Marwah, yang didaulat menjadi Ketua Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, mengaku pernah melihat karomah Dimas Kanjeng yang mampu mengeluarkan duit dari bagian tubuhnya. "Dia bisa dikatakan sebagai aset bangsa," kata anggota Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia itu.

Lah, apa ibu ini belum tahu ada uang hasil penggandaan Dimas Kanjeng yang palsu. Baca disini.
Top