Di Jepang, Orangtua yang Punya Anak akan Dibayar Pemerintah Hingga Rp 23 Juta, Di Indonesia ?



Sebelum abad XX, di negara barat sudah ada usaha pencegahan kelangsungan hidup anak karena berbagai alasan. Caranya adalah dengan membunuh bayi yang sudah lahir, melakukan abortus dan mencegah atau mengatur kehamilan. KB di Indonesia dimulai pada awal abad XX.

Di Inggris, Maria Stopes. Upaya yg ditempuh u/ perbaikan ekonomi keluarga buruh dg mengatur kelahiran. Menggunakan cara-cara sederhana.

Dikutip dari lusa.web.id, Amerika Serikat, Margareth Sanger, memperoleh pengalaman dari Saddie Sachs, yang berusaha menggugurkan kandungan yang tidak diinginkan. Ia menulis buku “Family Limitation” (Pembatasan Keluarga). Hal tersebut merupakan tonggak permulaan sejarah berdirinya KB.

Baca Juga : Shafa, Siswi Yatim ini Dipukul Guru Hingga Giginya Rontok dan Trauma, Hanya Karena Tak Hafal Rumus

Memiliki anak atau tidak sebenarnya merupakan hak asasi setiap individu. Tapi memang tiap negara sudah mempunyai aturan dan batasan sendiri dalam mengendalikan jumlah penduduknya. Jadi tiap-tiap orangtua diberikan hak serta kewajibanya untuk memmpunyai jumlah anak tertentu.

Namun bagaimanapun angka kelahiran anak yang rendah bisa menimbulkan masalah baru pada sebuah negara. Jika di Indonesia, kita bisa menjumpai angka kelahiran cukup tinggi namun tidak di Jepang. Di negara Jepang memang dikenal sebagai negara dengan angka kelahiran rendah. Namun sekarang tampaknya prediksi tersebut bakal segera berubah.

Dikutip dari laman rocketnews24, hal tersebut lantaran peran aktif pemerintah Jepang yang mengadakan banyak program untuk menggenjot angka kelahiran. Salah satu program yang paling luar biasa adalah membayar pasangan yang memiliki anak.

Hal tersebut nyatanya bukan omong kosong, sebab sudah diterapkan di Distrik Minato, Tokyo.
Di Distrik ini, pasangan orangtua yang memiliki anak bakal dibayar sekitar 180.000 yen atau sekitar Rp 23 jutaan.

Baca Juga : Konyol, Di Rumah Sakit ini Peluk Bayi Sendiri Harus Bayar Rp 520 Ribu

Dari pengamatan yang dilakukan oleh Christopher Wood dari CLSA juga mengungkapkan fakta menarik yakni peningkatan angka kelahiran terbesar ada di Kota Ama, Nakanoshima.

Di kota ini, orangtua akan dibayar 100.000 yen atau Rp 12 jutaan untuk kelahiran bayi pertama mereka.
Bahkan jika anak keempat lahir, uang yang diberikan bisa mencapai 1 juta yen atau setara Rp 128 jutaan.
Program ini terbukti ampuh untuk menggenjot angka kelahiran di Jepang, di mana tercatat dari tahun 2014 hingga tahun 2015 terjadi peningkatan signifikan.

Dari laporan Bloomberg juga mengungkapkan angka kelahiran rata-rata di Jepang telah mencapai rekor tertinggi dalam kurun waktu 21 tahun terakhir.
Top