Strategi Ampuh yang Dipakai Banyak Negara untuk Tangani Corona 

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 28 Mar 2020

Strategi Ampuh yang Dipakai Banyak Negara untuk Tangani Corona 

ilustrasi cek suhu tubuh - Image from seuramoeaceh.com

Strategi ini terbukti berhasil tangani corona di berbagai negara. 

Diantaranya telah dilakukan oleh Pemerintah China, Singapura, Korea Selatan, Hongkong dan Taiwan. Selain itu cara-cara ini juga dibenarkan oleh ahli penyakit menular, Tolbert Nyenswah, Profesor di Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health. 

Penyebaran virus corona di seluruh dunia membawa dampak besar di berbagai bidang, mulai dari bidang ekonomi, sosial, kesehatan, politik, dan lainya. 

Selain itu, penyebaran corona juga memunculkan kepanikan pada masyarakat, penutupan kota bahkan tingkat negara, pembatalan penerbangan, festival, olimpiade dan berbagai kegiatan lainnya.

Eropa kini menjadi pusat penyebaran, setelah Wuhan mampu menyelesaikan epidemi di wilayahnya. Asia berangsur pulih sebagian, tapi sebagian negara sedang bersiap menghadapi puncak wabah corona. 

Namun di tengah berita-berita ini sekelompok negara berhasil mengendalikan penyebaran virus corona ini, sebagaimana yang diungkap oleh ahli penyakit menular, Tolbert Nyenswah, Profesor di Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health. 

"Ada beberapa negara yang berhasil mengambil langkah untuk mengendalikan wabah ini, dan menurut saya kita bisa belajar dari mereka," kata Tolbert. 

Baca juga : Tata Cara Pengurusan Jenazah Covid-19 dari Pemda DKI Jakarta

"Di China kasus sudah berkurang, tapi langkah sangat agresif yang mereka lakukan tak mudah ditiru oleh negara-negara demokratis. Di beberapa negara lain telah melakukan langkah berbeda yang sama agresifnya, dan mereka berhasil," tambahnya.

Taiwan dengan jumlah penduduk 23,6 juta dan bertetangga dengan China, hingga Senin (16/3/2020), melaporkan ada 67 kasus dan satu kematian. Kasus tersebut ditemukan selama lebih dari dua bulan mereka melawan virus corona.

Sementara itu Hong Kong yang berpenduduk sekitar 7,5 juta orang dan berbatasan langsung dengan China mencatat adanya 155 infeksi dan empat kematian selama dua bulan.

Jepang yang populasinya 120 juta, kasusnya tak melebihi 800, sedangkan Korea Selatan melaporkan 8.000 kasus, tetapi mereka berhasil menekan kasus baru. Selain itu, jumlah kematian turun drastis dalam minggu-minggu terakhir.

Menurut Prof Nyenswah, angka kasus negara-negara ini tidak hanya tergantung dari lokasi geografis atau jumlah penduduk. 

Meskipun keduanya memainkan faktor besar dan bisa sangat berpengaruh. Tetapi yang menjadi kunci penting adalah kebijakan yang inovatif, kesiapan dan respons yang cepat.

Apa Langkah-langkah yang Lebih Efektif?

1. Tes massal yang dilakukan secara masif

Badan Kesehatan Dunia ( WHO) dan para ahli yang ditanya oleh BBC Mundo sepakat bahwa deteksi cepat merupakan faktor utama dalam menghambat penyebaran pandemi Corona ini. 

"Kita tak bisa mengambil langkah atau tahu dampak sesungguhnya dari virus ini jika kita tak tahu berapa orang yang telah terinfeksi," kata Nyenswah.

Pakar penyakit menular di Temple University, Amerika Serikat, Krys Johnson sepakat bahwa faktor ini memberikan perbedaan hasil antara satu negara dengan negara lainnya.

Pengetesan memperlihatkan hasil yang lebih baik, sementara di tempat lain yang tanpa melakukan pengetesan, kasus meningkat dengan pesat.

"Korea Selatan mengetes lebih dari 10.000 orang sehari yang berarti orang yang mereka tes dalam dua hari lebih banyak daripada orang yang dites di Amerika dalam sebulan," katanya.

Dalam jumpa pers Senin, Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa tes bagi siapapun yang punya gejala merupakan "tulang punggung" bagi penghentian penyebaran pandemi Corona. 

Namun ia mengingatkan, banyak negara yang hanya melakukan pemeriksaan pada pasien yang punya gejala serius. Sebab hal ini bisa jadi catatan statistik yang keliru, sebab kebijakan tersebut membuat orang dengan gejala ringan padahal terinfeksi terus melenggang bebas menyebarkan virus. 

Baca juga: Kabar Baik, Ilmuwan Peraih Nobel Prediksi Wabah Corona akan Segera Berakhir

2. Isolasi mereka yang terinfeksi

Johnson berkata bahwa pemeriksaan kesehatan tak hanya berujung pada isolasi mereka yang sakit dan mencegah virus berkembang lebih luas, namun juga membuka jalan untuk mendeteksi kemungkinan infeksi yang belum berkembang menjadi gejala Covid-19.

"Korea Selatan dan China telah melakukan kerja luar biasa dalam melacak, mengetes, dan mengendalikan warga mereka," katanya.

Menurutnya, China sangat waspada dalam mendeteksi kasus-kasus potensial yang bisa jadi merupakan salah satu penyebab turun drastisnya kasus positif baru yang dilaporkan. 

"Orang demam dikirim ke 'klinik demam' dan dites untuk flu dan covid-19. Ketika hasilnya positif covid-19, mereka diisolasi di tempat yang disebut 'hotel karantina' untuk mencegah penularan ke anggota keluarga," kata Johnson.

Tak seperti China, di Taiwan, Singapura dan Hong Kong, meskipun tak ada karantina. Ketiganya menegakkan aturan agar orang tetap berada di rumah, salah satunya adalah dengan menerapkan denda yang besarnya bisa mencapai Rp47 juta.

Namun menurut Nyenswah, melacak potensi infeksi merupakan landasan utama dari strategi isolasi ini. 

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah Taiwan dan Singapura mengembangkan strategi untuk melacak orang yang kontak dengan pasien yang sakit. 

Strategi itu dilakukan mulai dari melakukan wawancara hingga melihat CCTV keamanan dan catatan perjalanan, hotel, serta pengujian kepada mereka yang berpotensi terpapar virus corona. 

3. Persiapan yang tepat dan reaksi cepat

Menurut Nyenswah, salah satu kunci penting untuk mengendalikan wabah adalah bertindak cepat sebelum penularan meluas di suatu komunitas. 

"Negara seperti Taiwan dan Singapura memperlihatkan langkah cepat untuk mendeteksi dan mengisolasi kasus baru. Ini bisa jadi faktor penentu dalam mengendalikan penyebaran," katanya.

Dalam artikel yag diterbitkan di Journal of the American Medical Association, respons di Taiwan memperlihatkan bahwa pengendalian mereka meniru cara penanganan epidemi yang pernah dilakukan. Pada 2003 mereka pernah membuat komando terpusat untuk mengendalikan epidemi pada saat itu. 

Badan ini mencakup beberapa agensi penyelidikan dan pemerintahan, dibentuk sesudah krisis yang disebabkan oleh SARS. 

Sejak itu mereka melakukan berbagai langkah persiapan dan penyelidikan untuk menanggapi kemungkinan terjadinya pandemi di wilayahnya. 

"Persiapan dan langkah cepat sangat penting dalam tahap awal wabah. Di Eropa dan Amerika Serikat, kita menyaksikan kurangnya persiapan dan lambatnya tanggapan," kata Nyenswah.

Sebelum dipastikan terjadinya penularan antara manusia di pertengahan Januari, Taiwan sudah mengambil langkah awal dengan memeriksa semua penumpang dari Wuhan, tempat pertamakali wabah terjadi.

Hong Kong mulai menerapkan aturan ketat yakni deteksi temperatur mulai tanggal 3 Januari dan menerapkan karantina 14 hari bagi turis yang masuk wilayah mereka. 

Selain itu, mereka juga menginstruksikan setiap dokter untuk melaporkan semua pasien yang demam atau punya masalah pernapasan akut serta sejarah bepergian ke Wuhan.

"Sekali lagi, faktor waktu adalah kunci," katanya.

4. Social Distancing 

Menurut Nyenswah, ketika penularan pertama dilaporkan di sebuah komunitas, langkah pencegahan sulit untuk diterapkan. Maka langkah berikutnya, seperti menjaga jarak (social distancing), lebih efektif untuk mencegah pihak yang paling rentan tertular virus corona ini. 

"Sekali ada penyakit ini di satu negara, langkah pencegahan tidak lagi tepat. Anda harus mulai mengambil langkah yang tepat atau kehilangan kemungkinan penghentian yang efektif terhadap wabah ini," katanya.

Menurutnya, kecepatan penerapan perintah untuk jaga jarak seperti di Hong Kong dan Taiwan adalah kunci menghambat proses penularan. 

Hong Kong telah meminta orang dewasa untuk bekerja dari rumah sejak akhir Januari serta menutup sekolah dan acara yang mengumpulkan massa.

Langkah ini ditiru di banyak negara, tapi menurut Johnson, kuncinya adalah seberapa cepat keputusan itu dibuat oleh pemerintah. Semakin cepat, maka akan semakin baik. 

Berbeda halnya dengan Singapura yang tak pernah menutup sekolah karena adanya dampak ekonomi bagi keluarga yang punya anak kecil. 

Strategi yang dilakukan, menurut koran The Straits Times adalah mengetes dan mengawasi murid dan pengajar setiap harinya, sehingga bisa menjadi sistem lain dibandingkan menutup sekolah.

5. Mengedukasi masyarakat untuk hidup higienis

Sejak wabah virus corona mulai dilaporkan terjadi di luar China, WHO berkeras menyarankan untuk jaga jarak, mencuci tangan secara rutin dan menjalani gaya hidup higienis guna mencegah penyebaran virus corona. 

"Banyak negara di Asia yang belajar dari pengalaman SARS di tahun 2003. Di sana juga ada kesadaran menjalankan hidup higienis tak hanya untuk menghindar penyakit, tapi juga agar tak menulari orang lain. Sangat penting dalam kasus ini," kata Nyenswah.

Di Taiwan, Singapura dan Hong Kong, banyak tersedia cairan anti bakteri yang diletakkan di jalan. Pemakaian masker juga biasa dilakukan, bahkan sebelum wabah virus corona menyerang, sehingga tak sulit menginstruksikan hal ini. 

Pemerintah Taiwan juga mempromosikan cuci tangan lewat internet sembari memperkuat mekanisme pembersihan jalan serta tempat-tempat publik. 

"Ini satu faktor yang kadang terlupa di tengah langkah-langkah drastis yang sedang diambil. Menurut saya langkah-langkah yang dilakukan oleh warga seperti cuci tangan terbukti merupakan salah satu yang paling efektif," kata Nyenswah.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb