17 Pelaku Pengeroyokan Santri Hingga Tewas di Sumbar Tak Ditahan, Ini Alasan Kepolisian

 20 Feb 2019  Cheryl mikayla
17 Pelaku Pengeroyokan Santri Hingga Tewas di Sumbar Tak Ditahan, Ini Alasan Kepolisian

Robby Alhalim Santri yang tewas dikroyok temannya ketika dirawat dirumah sakit (riausky.com)

Bayangkan bagaimana perasaan orangtua korban...

Meski ditetapkan sebagai tersangka, 17 pelaku pengroyokan santri di Padang Panjang, Sumatera Barat, Minggu (10/2/2019) tak ditahan.

Mengenai putusan tersebut, ini alasan kepolisian...

Nasip pilu dialami Robi Alhalim, santri Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Padang Panjang, Sumatera Barat.

Robi harus meregang nyawa akibat dikroyok belasan rekannya di asrama pada Minggu (10/2/2019) dinihari.

Awalnya, ia dirawat di RSUD Padang Panjang. Namun karena kondisinya yang parah, kemudian dirujuk ke Padang.

Sayang, Robi meninggal di Rumah Sakit DR Muhammad Djamil setelah tak sadarkan diri selama lebih dari sepekan.

Polisi sudah menetapkan 17 orang sebagai tersangka pengeroyokan.

17 Pelaku Pengeroyokan Santri Hingga Tewas di Sumbar Tak Ditahan, Ini Alasan Kepolisian

TKP pengeroyokan santri (Foto: Istimewa)

Dalam pemeriksaan terungkap, korban dikeroyok selama tiga hari di kamar asrama.

"Dari hasil gelar perkara, penyidik sampai pada kesimpulan untuk menetapkan ke-17 anak tersebut sebagai anak pelaku. Anak pelaku merupakan sebutan lain bagi tersangka dalam kasus yang melibatkan anak-anak, karena kita berpedoman pada UU Perlindungan Anak," kata Kasat Reskrim Polres Padang Panjang Iptu Kalbert Jonaidi seperti dikutip dari detikcom, Jumat (15/2) lalu.

Ia menjelaskan, ada 19 santri yang diduga terlibat dan terkait kasus tersebut. Namun hanya 17 yang bisa langsung ditetapkan sebagai anak pelaku, sementara dua lainnya masih berstatus sebagai aksi.

Meski ditetapkan sebagai tersangka, 17 pelaku kini tak ditahan.

17 Pelaku Pengeroyokan Santri Hingga Tewas di Sumbar Tak Ditahan, Ini Alasan Kepolisian

Jenazah Robby Alhalim, dimakamkan di kampung halamannya di Tanah Datar usai salat isya, Senin (18/2/2019) malam. Pemakaman ini diiringi isak tangis keluarga. (tribunnews.com)

Kalbert mengungkapkan, sampai saat ini para santri yang telah ditetapkan sebagai anak pelaku tidak ditahan sesuai dengan permintaan pihak sekolah dan orang tua.

Polisi tidak menahan 17 santri yang telah ditetapkan sebagai tersangka, namun tetap diawasi polisi dengan ketat.

"Selama di pondok mereka tetap dalam pengawasan ketat kita, 24 jam kita awasi," ungkap Iptu Kalbert Jonaidi.

Baca Juga: Kronologi Video Viral Emak-Emak Senam dan Joget di Atas Sajadah, Ini Kata Kepolisian

Senada dengan Kasat Reskrim Polres Padang, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo dalam keterangannya di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019) mengatakan, untuk pelaku yang masih usia anak, ada perlakuan khusus.

"Kalau anak-anak di bawah umur itu ada perlakuan khusus. Oleh karenanya, penyidikannya pun, penanganannya pun juga berlaku secara khusus. Karena mereka memiliki masa depan, meskipun anak-anak tersebut memiliki masalah di bidang hukum," ungkapnya.

Dedi menambahkan penyidikan kasus yang melibatkan anak juga khusus. Begitu pula pengadilannya. Sebab, meski menjadi pelaku, anak tersebut masih memiliki masa depan.

"Jadi semuanya khusus untuk anak yang bermasalah di bidang hukum mulai dari penanganan di tingkat kepolisian, kejaksaan, pengadilan, sampai inkrah vonisnya semuanya penanganan khusus. Karena mereka masih memiliki masa depan, meskipun perbuatannya harus dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Kasus ini terbilang sungguh miris, sebab meskipun pelaku masih berusia remaja merka telah melakukan tindakan keji berupa pembunuhan.

Bayangkan saja bagaimana perasaan keluarga dan orangtua korban?

KOMENTAR