Rumput Tetangga Lebih Hijau, Hei...Tak Semua Hal itu Seindah Kulitnya

 14 Mar 2017  Dzikir Pikir

Rumput Tetangga Lebih Hijau, Hei...Tak Semua Hal itu Seindah Kulitnya

Ilustrasi via jalanjalanbali

"Alhamdulillah kemarin liburannya mengesankan saat ke Bali" kata tetangga sambil bawakan oleh-oleh.

Rumput tetangga lebih hijau? Atau "tampak" lebih hijau? Kalau "tampak", berarti kita harus ke dokter mata. Jadi saat ini profesi dokter spesialis mata sangat dibutuhkan karena banyak orang salah memandang. Hehehe, becanda. Namun kenyataanya kita hanya memandang orang sekilas saja.

Padahal kata orang Jawa itu "Sawang Sinawang" apa artinya? Sebenarnya makna mendalamnya juga saya tidak tahu, namun secara sederhana adalah kita melihat secara kasat mata bahwa orang lain itu terlihat selalu lebih dari kita, padahal begitupun sebaliknya mereka melihat kita juga dengan kaca mata pesimis bahwa hidupnya lebih menderita dari kita.

Dan langsung pada kesimpulan, bahwa hidup adalah tentang seberapa bisa kita bersyukur, ya mensyukuri apa yang kita punya.

Sudah sesimple itu?

Padahal saya sudah bersyukur dan tetap saja kehidupan orang lain nampak lebih indah.

Nah, rasa syukur mana lagi yang harus saya luapkan?

Kalau sudah seperti ini kan susah. Apakah dengan bersyukur kita tidak ada "motivasi lagi". Kenapa saya garis bawahi kata motivasi? Karena kelihatan saat kita sudah bersyukur, rasanya masih saja "pesimis" bahwa hidup kita tidak sebahagia hidup orang lain.

Sudah seharusnya begitu, tapi yang jadi masalah adalah rasa "pesimis" kita. Jika kita mau memotivasi diri lebih baik lagi seperti apa yang kita inginkan, ubah perspektif pesimis itu menjadi "optimis". Ya normal memang ada banyak orang diluar yang hidupnya lebih mapan, lebih enak dari kita. Itu yang semestinya menjadi cambuk bagi kita untuk memotivasi diri.

Tentunya hal pertama yang terpenting adalah doa. Karena orang yang tidak mau memotivasi diri dengan berusaha disertai doa adalah orang yang sombong. Dan dimana tempat orang yang sombong? Tentunya bukan di surga Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Mukmin.

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mukmin: 60).

Dan apalagi yang bisa memotivasi kita tanpa menggoreskan sisi pesimis di hati?

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Baca Juga: "Kula niku mpun dinengke kaliyan anak kula 5taun niki , jarene 'Aku isin ndelok Dapuranmu' ujar Mbah Aminah

Ya kita selalu mengingat-Nya. Bersyukur tanpa ada dorongan dari luar, tanpa ada ketakutan dalam diri, tanpa ada motivasi yang menuntut kepada Illahi. Bersyukur yang benar-benar bahagia atas apa yang kita punya, kita bisa bernafas lega, kita bisa merasakan hembusan angin, kita bisa berjalan, kita bisa melihat, mendengar dan semua yang Allah berikan kepada kita.

Jadi masih saja melihat rumput tetangga lebih hijau? Mungkin memang, tetapi di setiap kelebihan biasanya ada kekurangan, dan kita tidak tahu itu. Karena tak ada gading yang tak retak. Maka dari itu kita harus tetap yakin dalam doa dan bersyukur dalam usaha.

DISCLAIMER: Tulisan ini secara ekslusif diberikan hak terbit kepada www.wajibbaca.com. Semua jenis kopi tanpa izin akan diproses melalui hukum yang berlaku di Indonesia.

KOMENTAR