Memang Aku Bukan Sebuah Symphony, Ini Untukmu yang Pergi dan Kuharap Selalu Bahagia

 22 Mar 2017  Unknown
Memang Aku Bukan Sebuah Symphony, Ini Untukmu yang Pergi dan Kuharap Selalu Bahagia

Ya, seperti kata orang dimana sebuah simfoni yang indah akan berakhir dengan manis dan tak terlupakan. Mungkin itu sedikit harapanku untukmu yang tak bisa kumiliki hatimu, namun aku sangat berterima kasih karena sudah mengajarkan apa arti cinta untukku. Inilah aku yang kini berjuang tanpamu dan ku harap kamu akan selalu bahagia.

Baca juga : Terkadang Teman Memang Jahat, Tapi Hal Ini Bisa Membuatmu Tetap Memahami

Aku yang selama ini selalu terabaikan, aku yang selama ini selalu berharap kelak kamu akan datang. Untuk kesekian kalinya aku berharap hal yang tak mungkin terjadi. Terhitung sudah sepuluh tahun aku memendam perasaan ini. Perasaan terabaikan, tersakiti, dan perasaan yang tak menentu. Aku tahu kamu sudah mengerti perasaanku ini bahkan kamu sudah tahu bahwa aku sudah lama menyukaimu, karena kita memang sudah bersahabat dari kecil. Terkadang aku bingung dengan diriku sendiri yang tak bisa melupakanmu yang tak bisa menerima orang lain singgah ke hati walau untuk sejenak.

Aku tahu aku salah.. bahkan aku memang egois dengan tetap menyukaimu ketika kamu sudah memiliki pilihan hatimu sendiri dan merusak persahabatan kita. Salahkan perasaanku yang selalu memihakmu yang bahkan terkadang dan memperdulikan apa itu sakit dan apa itu membuatku bahagia. Salahkan perasaanku yang terlalu lemah ini.

Saat temanku bilang kalau kamu sudah memiliki pacar seketika aku langsung down dan bahkan tak habis pikir ketika pacarmu itu temanku sendiri. Tahun 2014 lalu dokter mengatakan kalau aku memiliki kelainan jantung yang bisa menyebabkan penyakit stroke kapan saja. Bahkan saat itu aku belum genap berusia 17 tahun tetapi dokter sudah mengatakan hal seperti itu. Dokter mengatakan aku tidak boleh terlalu banyak memikirkan hal yang tidak terlalu penting, aku paham apa yang dimaksud dokterku itu karena beliau paham betul kondisi psikologisku.

Saat beban berat benar-benar di pundakku, orang tuaku, kamu, ujian sekolah yang membelitku di saat itulah aku berharap ingin tidur sejenak melupakan semuanya beban-beban itu. Kemudian saat bangun, aku melihat orang orang yang kusayangi tersenyum dan Tuhan mendengarkannya. Seharian aku tidak sadar, ditambah suhu badanku yang meninggi. Dokter memasangkan berbagai alat medis di tubuhku yang bahkan aku merasakan betapa sakitnya jarum jarum itu menusukku tapi mataku berat untuk dibuka, ketika aku sudah bangun bukan senyum yang kulihat tetapi raut kekhawatiran keluargaku. Tak ada kamu di sana.

Sejak saat itulah aku sadar bahwa memikirkanmu terlalu berat dan aku harus melepaskanmu untuk orang lain yang kamu pilih. Dan sejak saat itulah aku hanya fokus terhadap Kesehatan dan sekolah. Bukan berarti aku sudah tak menyukaimu, aku lebih memilih mengalah dan tetap menyimpannya. Sampai tiba saatnya nanti aku bertemu seseorang yang mampu menyembuhkan luka-luka lamaku, mampu menerimaku dengan segala kekuranganku dan mampu membuatku melupakanmu.

Aku sehat sampai saat ini dan akan terus sehat untuk hidup lebih bahagia. Aku harap kamupun bahagia dan sehat selalu dimanapun kamu berada. Sekarang aku lebih bahagia dengan hidupku yang penuh keceriaan dan penuh senyuman, kuharap kamu pun juga seperti itu.

Memang Aku Bukan Sebuah Symphony, Ini Untukmu yang Pergi dan Kuharap Selalu Bahagia

Baca juga : Karena Janda Tidaklah Lemah, Ini Bukti Mereka Bisa Sekuat Benteng Sebuah Kota!

Terima kasih, tanpa kamu ketahui kamu mengajarkanku apa arti mencintai, menghargai dan mengalah untuk tak menjadi egois.

Terima kasih, karenamu akupun bisa merasakan bagaimana sakit hati dan berjuang mempertahankan.

Kuharap kita bisa menjadi teman dikemudian hari.

Untukmu, seseorang yang kini telah meninggalkan torehan tinta cerita untukku, dan aku akan terus merajut simfoni yang indah dengan, atau tanpa dirimu.

(Sebuah kisah yang diulas oleh seorang yang luar biasa, dimana mampu bertahan menjemput kebahagiaan, dimana ketika cinta meninggalkannya, namun ia tetap tak pantang menyerah.)