4 Potret Menyeramkan Erupsi Gunung Anak Krakatau yang Diduga Akibatkan Tsunami

Komentar
Erupsi anak gunung krakatau (sumber dari liputan6.com)

4 potret menyeramkan erupsi gunung anak Krakatau.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan penyebab tsunami Selat Sunda adalah longsor di bawah laut akibat pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau.

Begitupun menurut catatan, aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat mulai juni hingga Desember.

Letusan Anak Gunung Krakatau, yang disinyalir turut menyebabkan tsunami di Selat Sunda, pada Sabtu (22/12) kemarin, menewaskan ratusan orang. Faktanya, Anak Gunung Krakatau sudah kerap beraktivitas sebelum erupsi tadi malam, bahkan sudah diingatkan menyandang status waspada sejak Juni 2018.

Seperti yang dilansir oleh detikcom, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus meningkat sejak 18 Juni 2018. Bulan-bulan selanjutnya dari Juli hingga November, erupsi terus terjadi. Terakhir pada 22 Desember, erupsi ini diduga menyebabkan tsunami yang mengerikan di Banten dan Lampung.

Juni 

Pada 18 Juni, Gunung Anak Krakatau berstatus waspada (level II). Warga dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekat ke gunung.

Aktivitas Anak Gunung Krakatau tidak hanya disertai oleh gempa vulkanik, tapi juga disertai gempa tektonik. "Selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa tremor menerus dengan amplitudo 1-21 mm (dominan 6 mm)," demikian pernyataan Badan Geologi ESDM melalui situs resminya saat itu.

Aktivitas Krakatau berlanjut ke 19 Juni 2018, gempa meningkat menjadi 69 kejadian per hari, gempa frekuensi rendah juga terekam sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa tremor terjadi dengan amplitudo 1-14 mm (dominan 4 mm). 

Pada 20 Juni 2018, gempa hembusan terjadi 88 kali, 11 kali gempa low frequency, dan 36 kali gempa vulkanik dangkal. Aktivitas gempa itu masih terjadi di hari selanjutnya.

"Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa hembusan, 8 kali gempa low frequency, 50 kali gempa vulkanik dangkal, dan 4 kali gempa vulkanik dalam," imbuhnya. 

Gempa hembusan merupakan getaran yang disusul pelepasan uap air atau gas vulkanik dari kawah. 

Status waspada terus dipertahankan PVMBG. Pada 25 Juni 2018, pukul 07.14 WIB, erupsi terjadi dan melontarkan abu hingga ketinggian 1 km ke udara. Seismograf merekam amplitudo maksimum getaran erupsi sebesar 30 mm dengan durasi 45 detik. 

Menanggapi aktivitas Anak Krakatau, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banten mengeluarkan maklumat pelayaran agar para nakhoda meningkatkan kewaspadaan saat berlayar di Selat Sunda. 

Dini hari 12 Juli 2018, Anak Krakatau mengalami erupsi kecil. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga agar tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari gunung. Namun kondisi masih aman, moda transportasi laut dan udara tidak terganggu oleh aktivitas Anak Krakatau.

Juli 

Sejak 3 hingga 4 Juli 2018, Anak Krakatau terus erupsi hingga 227 kali. Abu, pasir, dan lava pijar keluar dari kawah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan dentuman letusan terdengar hingga Serang Banten dan Lampung.

"Masyarakat dapat menikmati lontaran batu pijar dan sensasi letusan di luar radius 2 km. Jangan takut," kata Sutopo saat itu.

Agustus

Pada 3 Agustus 2018, gunung di Selat Sunda yang masuk wilayah Lampung itu meletus lagi. Hingga sehari sesudahnya, terjadi 227 letusan yang melontarkan abu, pasir, dan lava pijar. Tinggi kolom mencapai 100-200 meter. Namun zona bahaya tetap 2 km dari gunung, belum ada peningkatan.

September 

Pada 25 September 2018, sejak pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, Anak Krakatau meletus sebanyak 99 kali. Muntahan lava pijar sampai ke laut. Tremor terjadi terus-menerus. Kepala Pos Pengamatan Pasauran Gunung Api Krakatau saat itu, Deny Mardiono, mengimbau masyarakat agar tak mendekat dalam radius 2 km dari gunung.

Oktober

Erupsi terjadi lagi pada 2 Oktober 2018. Sebanyak 94 erupsi tercatat oleh Pos Pengamatan Pasauran Gunung Api Anak Krakatau. Status masih tetap waspada (level II). Sedangkan objek wisata di Pantai Anyer-Carita masih dikatakan aman untuk dikunjungi.

3 Oktober 2018, Pos Pengamatan mendeteksi adanya sinaran api dan dentuman dari Anak Krakatau. Pada hari itu, letusan terjadi 422 kali. Lontaran lava akibat letusan itu terpantau ke segala arah. Status masih tetap waspada (level II).

November 

Erupsi terus terjadi pada November. Misalnya, pada 10 November 2018 pukul 09.39 WIB terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu 500 meter di atas puncak. Sebagaimana tertulis di situs VSI ESDM, kolom abu saat itu teramati berwarna hitam. Sejak 18 Juni hingga November, gunung ini mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Terekam dari seismograf tanggal 29 November 2018, gunung ini mengalami 7 kali gempa letusan, 13 kali gempa hembusan, 2 kali gempa vulkanik dangkal, 31 kali gempa vulkanik dalam, dan 1 kali gempa tremor harmonik.

Secara umum, karakter letusan Anak Krakatau adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi eksplosif lemah (strombolian) dan erupsi epusif berupa aliran lava. 

Desember 

Erupsi terbaru terjadi pada 22 Desember 2018. BMKG menyampaikan informasi, erupsi Anak Krakatau terjadi pada pukul 21.03 WIB. Erupsi ini diduga turut menyebabkan tsunami yang menewaskan ratusan orang korban jiwa di sekitar Selat Sunda, yakni kawasan Banten dan Lampung.

"Tanggal 22 Desember pukul 21.03 WIB menit, Badan Geoglogi mengumumkan terjadi erupsi lagi Gunung Anak Krakatau. Kemudian, pukul 21.27 WIB, tidegauge (pengamatan sementara) Badan Informasi Geospasial yang terekam oleh BMKG menunjukkan adanya tiba-tiba ada kenaikan muka air pantai. Jadi ada kenaikan air, dan analisis kami merekam waktu untuk menganalisis, apakah kenaikan air itu air pasang akibat fenomena atmosfer, ada gelombang tinggi kemudian bulan purnama, jadi saat ini itu memang pada fase seperti itu. Namun, setelah kami analisis lanjut, gelombang itu merupakan gelombang tsunami, jadi tipe polanya sangat mirip gelombang tsunami yang terjadi di Palu," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Berikut 4 potret menyeramkannya erupsi anak gunung krakatau :

Sumber dari liputan6.com

Sumber dari liputan6.com

Sumber dari liputan6.com

Sumber dari liputan6.com
Top