Dinilai Tak Ada Kemaksiatan, Ini Asal-Usul Tari Gandrung yang Sempat Diingatkan FPI Banyuwangi

Komentar

Festifal Gandrung Sewu (foto:liputan6.com)

Kendati mendapat peringatan, Festival Gandrung Sewu tetap akan digelar pada Sabtu (20/10)

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menilai tarian ini tak ada kemakistan, sehingga semua pihak harus saling menghormati.

Lantas bagaimana sih asal usul tarian ini? Berikut ulasannya...

Secara resmi, DPW FPI Banyuwangi menolak digelarnya kegiatan Festival Gandrung Sewu 2018.

FPI mengeluarkan surat pernyataan sikap yang tertuang dalam surat No. 0003/SK/DPW-FPI Banyuwangi/II/1440 Tertanggal 11 Oktober 2018.

FPI Banyuwangi menilai, setiap hari banyak terjadi bencana di Indonesia. Ini dikarenakan kemaksiatan tumbuh subur di Indonesia.

Oleh karena itu FPI memberi peringatan jangan sampai bencana terjadi di Banyuwangi.

Kendati demikian, Festival Gandrung Sewu tetap akan digelar pada Sabtu (20/10).

Festival tersebut rencananya akan menampilkan seribuan penari Tari Gandrung di Pantai Boom Banyuwangi.

"Kami saling menghormati saja. Karena memang tidak ada kemaksiatan dalam Gandrung Sewu ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Muhammad Yanuar Bramuda seperti dilansir dari detikcom, Kamis (18/10/2018).

Bramuda mengatakan, Tari Gandrung sudah diakui dunia merupakan tarian asli Banyuwangi.

Festival ini sekaligus memperkenalkan Tari Gandrung kepada khalayak lebih luas lagi.

Lantas bagaimana sih asal usul Tarian ini?


Gambar dilansir dari wekipedia.org

Ditilik dari asal-usulnya, Tari Gandrung sudah lama dikenal masyarakat Banyuwangi.

Tampak dari pakaiannya, Tari Gandrung banyak dipengaruhi budaya Bali semasa Kerajaan Blambangan.

Kerajaan Blambangan sendiri berdiri pada abad ke-16 yang merupakan kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. Kerajaan itu berpusat di ujung Pulau Jawa.

Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Tari Gandrung adalah khas Banyuwangi yang merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat setelah panen.

Pada mulanya tarian ini adalah bentuk syukur kepada Dewi Sri atau Dewi Padi. Gandrung juga berarti 'yang disenangi atau digandrungi' sehingga tarian ini mengungkapkan suka cita.

Pada mulanya, Tari Gandrung dilakukan oleh pria

Menurut tulisan Scholte tahun 1927, Tari Gandrung mulanya ditarikan oleh pria yang berdandan seperti wanita. Instrumen utama tarian ini adalah gendang atau gamelan khas Osing.

Namun ketika agama Islam masuk wilayah Blambangan, penari Gandrung laki-laki mulai perlahan hilang. Ini karena dalam ajaran Islam, pria tak boleh berpakaian wanita.

Dalam buku 'Roepa, roepa, tjerita Radja Blambangan namanja Pangeran Pateh' yang ditulis oleh Hendrik Arkelaus Gerrits pada 1871 disebutkan bahwa agama Islam sudah masuk wilayah Jawa. Pada buku itu ditulis 'Egama Mohamat' atau Agama Nabi Muhammad.

Baca Juga: FPI Banyuwangi Peringatkan Festival Gandrung Sewu 2018, Ini Tanggapan Panitia!

Dalam perkembangannya kini, Tari Gandrung dipentaskan oleh wanita

Tarian tradisional dengan pakaian dominan merah dan emas ini sering di pertontonkan di berbagai acara.

Tari Gandrung pernah dipentaskan di Istana Negara pada peringatan Sumpah Pemuda tahun 2016 dan Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi pada tahun 2017.

Pada saat peringatan HUT RI itu, para penari kemudian membentuk angka 72 yang merupakan usia RI di tahun 2017.
Top