Sungguh Ngeri Azab Bagi Orang yang Menjual Ayat Allah Demi Kepentingan Jabatan dan Dunia

Komentar

Orasi politik dengan menggunakan Ayat-ayat Allah, diolah dari dakwahkampus.com

Apapun alasanya jangan pernah mengiluti orang-orang semacam ini...

Apalagi mendukung kegiatan mereka menjual Ayat Allah demi kepentingan dunia dan jabatan. Ketahuilah, azabnya sungguh pedih.

Sesungguhnya, Allah swt telah melaknat orang-orang musyrik, karena keingkaran mereka terhadap Allah swt, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya.

Allah swt telah memberitahukan kepada kita, bahwa tabiat orang musyrik, adalah mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, yaitu perkara dunia.

Sebagaimana firman-Nya:

{ اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [التوبة: 9]

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah, 9: 9).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan dalam tafsirnya, bahwa Firman Allah swt dalam ayat di atas dalam rangka mencela kaum musyrikin dan memotivasi kaum muslimin untuk memerangi mereka,“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” Maksudnya telah menukar antara mengikuti ayat-ayat Allah dengan perkara dunia yang hina nan melalaikan.

Sedangkan Imam Al-Qurthubi mengatakan, “ada yang mengatakan bahwa mereka mengganti Al-Quran dengan harta benda dengan kemewahan dunia.” seperti dikutip dari nahimunkar.org.

Menukarkan ayat Allah dengan harga yang sedikit, adalah ciri khas kaum musyrikin.

Maka hendaklah seorang muslim yang menginginkan kebaikan dunia dan akhirat, tidak mengikuti golongan yang telah dipastikan merugi tersebut. karena Allah SWT mencela mereka “Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.”

Adapun di zaman sekarang, maka dengan mudah kita bisa menemukan segolongan dari kalangan kita sendiri yang telah menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang rendah.

Yaitu orang-orang yang menghafal Al-Quran dan Hadits, dengan niat mendapatkan kedudukan dan harta dunia.

Terkait ayat ini juga, misalkan orang yang dijadikan sebagai juru kampanye, apabila dia adalah orang yang pandai bersilat lidah, dan menghafal banyak ayat Al-Quran dan Hadits, serta pendapat para ulama, maka disinilah dia akan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.

Perlu dipahami, bawasanya mencari kedudukan dunia bukan tempat ayat-ayat Allah Ta’ala digunakan.

Sering sekali, bahkan setiap hari kita melihat orang yang membawa nama-nama Allah, dan ayat-ayat-Nya untuk merebut jabatan, berbondong-bondong mendapatkannya dalam naungan sistem demokrasi sebagaimana sekarang, benar-benar telah menjual ayat-ayat Allah Ta’ala, dengan harga yang murah.

Padahal Allah telah mengingatkan tentang hal tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ} [البقرة: 41]

“Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Dan bertaqwalah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2: 41).

Imam Ibnu Katsir mengataka, artinya janganlah kalian menukar iman kalian terhadap ayat-ayat-Ku dan pembenaran terhadap Rasul-Ku dengan dunia dan segala isinya yang menggiurkan, karena ia merupakan sesuatu yang sedikit lagi fana.

Bahkan kita juga sudah biasa menemukan dan mendengar, mereka dengan mudah mengeluarkan firman Allah dalam pidato-pidato mereka dalam merebut kekuasaan.

Begitu juga hadits-hadits yang mereka jadikan sebagai bahan kampanye, pendapat para ulama, bahkan mereka mencampuradukkannya dengan pendapat para thagut.

Mereka menjadikan mayoritas umat Islam sebagai objek, dan ayat-ayat Allah, hadits, pendapat para ulama, sebagai alat untuk meraih simpati masyarakat. Teramasuk dalam hal ini adalah partai politik, beraliran sekuler apalagi beridiologi Islam sekalipun.

BACA JUGA: Astaghfirullahal Adzim, Gerhana dan Gempa Tanda Kiamat Sudah Dekat Sesuai Hadis Rasulullah

Maka berfikirlah olehmu wahai orang-orang yang dikaruniai akal. Karena Rasulullah saw bersabda mengancam orang yang seperti ini:

سنن أبي داود (3/ 323)

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» يَعْنِي رِيحَهَا

[حكم الألباني] : صحيح

“Barang siapa yang mempelajari ilmu agama yang seharusnya ditujukan kepada Allah azawajallah, namun dia gunakan untuk mendapatkan kedudukan di dunia dan untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan pernah mencium wanginya surga di hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad, 2/No.338. Abu Dawud, No.3664 hadits sahih).

Mencari jabatan, tempat di hati masyarakat, agar diakui sebagai orang cerdas, alim, pintar, ulama, ustadz, fuqaha, agar diakui sebagai ahli fiqih, dan pengakuan lainnya, termasuk dalam redaksi hadits mendapatkan kedudukan dunia, sebagaimana hadits di atas.

Maka berhati-hatilah dengan orang-orang seperti ini. Jangan pernah mau mengikuti apalagi mendukung hal-hal semacam ini, atau kita akan masuk dalam golongan tersebut.

Dan semoga Allah selalu melindungi kita dari perbuatan-perbuatan yang membawa kemurkaan Allah SWT, Aamiin.

Demikian, Wallahu A'lam.
Top