Ingin Anak yang Shalih? Kuncinya Cuma Satu, Bahagiakan Istrimu

Komentar

Gambar diolah dari tandapagar.com

Istri bahagia, anak jadi shaleh...?

Adakah kolerasinya?

Memang sebaik-baik suami adalah yang paling baik kepada istrinya. Tapi apa kolerasinya dengan anak yang sholeh,...? Berikut jawabannya!

Demikianlah Rasulullah SAW bersabda dan sejelek-jelek suami adalah yang paling buruk kepada istrinya. Allah SWT, menganugerahkan pasangan hidup kepada seorang suami, tidak lain dan tidak bukan, untuk dihormati, dikasihi, dan dimuliakan.

Wahai suami bahagiakan istrimu jika ingin memiliki anak yang shalih dan berakhlak.

Menjalani kehidupan sebagai istri sekaligus ibu, tugas wanita memang tidak mudah.

Seringkali istri akan menghadapi situasi dan kondisi yang membuatmu stres dan tertekan, hal itu bisa berasal dari anak dan suami.

Survey yang dilakukan today.com menunjukkan bahwa mayoritas wanita lebih sering mengalami stres karena suami daripada oleh anak.

Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ibu akan mengalami tingkat stres setinggi 8,5 dari 10, dan sebanyak 46% disebabkan oleh suami. seperti dilansir dari vemale.com

Stres pada orangtua bukanlah hal sepele.

Tidak hanya dirinya sendiri yang mendapat imbas dari masalah psikologi ini, tetapi juga anak-anak yang diasuhnya. Erlanger A. Turner, psikolog klinis dan asisten profesor Psikologi dari University of Houston-Downtown, menuliskan di Psychology Today, dari studi-studi terdahulu ada temuan bahwa orangtua dengan stres tinggi berkemungkinan menjadi otoriter, kasar, dan berinteraksi secara negatif dengan anaknya. Stres ini pula yang bisa menyebabkan berkurangnya kualitas relasi orangtua-anak.

Anak-anak adalah makhluk pengimitasi perilaku orang dewasa.

Saat orangtuanya gagal mengelola stres dengan baik atau kerap melampiaskan emosinya dengan cara tidak sehat, anak akan menirunya di kemudian hari.

Hal ini lantas dapat berdampak terhadap kehidupan sosial si anak. Tindakan penuh emosional yang dilakukan orangtua depresi akan memengaruhi cara pandang dan kepercayaan anak terhadap orang-orang lain yang ditemuinya kelak.

Ibu yang stres bisa memicu anak-anaknya mengalami kesulitan belajar, punya masalah perilaku, bahkan mendapat masalah kesehatan termasuk kesehatan jiwa.

Wahai suami sadarilah

Ibu tidak saja adalah pihak yang dekat secara emosional kepada seorang anak, tapi ia juga memiliki pengaruh besar terhadap masa depan akhlak dari generasi yang dilahirkannya.

BACA JUGA: Jangan Mungkir! Banyak Suami Istri “berselingkuh" Terang-terangan Bahkan Saat Berdua Diranjang

Ibu sebagai makhluk yang dikodratkan sebagai perantara lahirnya manusia di bumi ini.

Ibu sanggup mengandung, melahirkan, memelihara calon manusia dan mendidiknya, sungguh suatu tugas yang tidak ringan.

Allah SWT telah menentukan kodrat "wanita" yang berat itu, kadang kala kaum Adam kurang mau memahami.

Disinilah letak peranan "wanita" sebagai "ibu", cukup berat menuntut rasa tanggung jawab yang tidak ringan. Berhasil tidaknya generasi yang ideal di tangan kaum "wanita". Tidaklah berlebihan apabila Rasulullah SAW memberi penghargaan terhadap kaum "ibu".

Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imam Ahmad, bahwa Rasulullah bersabda: "Surga itu berada di bawah telapak kaki para "ibu".

Ibu adalah ustadzah pertama, sebelum si kecil berguru kepada ustadz besar sekalipun

Begitulah, ibu memiliki peran begitu besar dalam menentukan masa depan si kecil.

Ibu, dengan kasih sayangnya yang tulus, merupakan tambatan hati bagi si kecil dalam menapaki masa depannya.

Di sisinya lah si kecil mendapatkan kehangatan, senyuman dan belaian tangan ibu akan mengobarkan semangatnya.

Jari-jemari lembut yang senantiasa menengadah ke langit, teriring doa yang tulis dan deraian air mata bagi si buh hati, ada kunci kesuksesannya di hari esok.

Wahai suami, Anda adalah pemimpin rumah tangga

Laki-laki dikaruniai kelebihan atas wanita yaitu lebih tenang dan lebih bijak menghadapi sesuatu.

Suami harus yang lebih tenang dalam menghadapi problematika rumah tangga.

Suami lebih sering memaklumi wanita yang “bengkok” dan sering-sering memperbaiki dan menasehati, seringnya wanita hanya emosi sesaat dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti suami

Tetapi ketahuilah bahwa wanita itu sangat cinta suaminya, maka pelukan kepada istri sambil terus mendengarkan dan menenangkan adalah solusinya.

Perhatikan juga para suami, Jika ada sesuatu yang tidak beres pada istri dan anak-anak bisa jadi akibat maksiat suami, maka intropeksi diri dan perbanyak istigfar

Sebagian ulama berkata,

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

“Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku.”

Nah, kebahagiaan dalam keluarga tentunya yang dibimbing dengan syariat akan melahirkan seluruh anggota keluarga yang berbudi pekerti dan berakhlakul karimah.
Top