Buat Suami yang Sering Menyepelekan dan Menghina Istri, Baca Ini

Komentar

Gambar ilustrasi diolah via twitter.com

Wahai suami...

Bagimu yang masih suka menghina dan bersikap kasar kepada istri...Baca ini!

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tentu kita tak pernah lepas dari perkara perselisihan.

Contoh kasus yang terjadi dilansir dari republika.co.id:

"Saya sangat sedih dan juga bingung"

"Saya merasa tidak berharga karena selama menikah delapan tahun saya mendapat perlakuan yang kasar dari suami"

"Saya sering dicaci, dihina, dan dipanggil dengan kata-kata yang menurut saya tidak pantas"

"Selama ini saya mencoba untuk bertahan, tapi kok ya tidak kuat"

"Makin lama suami saya makin menjadi-jadi, dia bahkan menyalahkan saya bila saya mencoba menjawab atau menyanggahnya"

Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya bertahan? Terima kasih.

Someone, Jakarta

Tidak ada manusia yang sempurna.

Setiap orang pasti pernah berbuat salah, termasuk suami Anda.

Untuk menghadapinya tentunya Anda harus mempraktekan cara mengatasi masalah rumah tangga secara islami.

Sebab pada dasarnya wanita itu lemah, ia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok maka seorang suami harus bisa melindunginya.

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari)

Meskipun islam telah menjelaskan secara lengkap tata cara berperilaku terhadap istri yang baik, namun tetap saja sebagian orang mengabaikannya.

Seorang pria yang terbawa emosi terkadang khilaf lalu menghina istrinya bahkan bermain tangan.

Nah, kira-kira bagaimana sih hukum suami menghina istri dalam islam? Berikut ulasan lengkapnya!

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk berkisap saling menghina.

Sebaliknya, manusia dianjurkan untuk bisa bertutur kata yang baik. Apabila tidak sanggup maka harusnya diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Begitupun dengan sikap suami terhadap istrinya.

Tidak boleh suami mengina atau berkata keji kepada istri-istri mereka.

Terlebih lagi memukul maka hukumnya haram. Rasulullah mencontohkan untuk berbuat baik terhadap istri. Sebab istri adalah pententram hati. Dialah  ibu rumah tangga dalam Islam yang bekerja membersihkan rumah, memasak, mengurusi anak, dan menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga.

Kalaupun istri punya sedikit kekurangan maka kewajiban suami terhadap istri dalam Islam harus menerimanya.

Atau paling tidak menasehatinya dengan cara lembut.

Ingatlah perjuangan istri saat mengandung dan melahirkan bayi.

Dia bertaruh antara hidup dan mati, maka sudah tentu suami menghargai semua itu.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwasahnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yang lain.” (HR. Muslim)

Dalil-Dalil yang Memerintahkan Suami Berbuat Baik Kepada Istri

Terdapat banyak dalil yang memaparkan tentang perintah agar suami berbuat baik kepada istri. Diantaranya yakni:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku” (HR. At-Tirmidzi)

“Barang siapa menggembirakan hati istrinya, maka seakan-akan ia menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah akan memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Saat suami memegang telapak tangan istri, maka bergugurlah dosa-dosa suami istri itu lewat sela-sela jari mereka.” (Diriwayatkan dari Maisarah bin Ali)

“Dan pergaulilah istrimu-istrimu dengan baik. Lalu, jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[1] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. An-Nisaa’ : 34)

“Orang-orang yang menyakiti mu’min laki-laki dan mu’min perempuan tanpa perbuatan yang mereka lakukan, Maka sesungguhnya mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS. Al-Ahzab: 84)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159)

Didoakan

Saat suami marah maka sebaiknya jangan dibalas dengan amarah.

“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dibawanya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Menasehati bukan berarti menggurui.

Namun berbagi ilmu tentang agama dengan cara yang baik. Anda bisa mengajak istri duduk berdua. Lalu ceritakan tentang hadist atau ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan akhlak atau lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR.Ahmad, Dawud, Tirmidzi, dan Ibu Majah)

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR. At-Thabrani)
Top