"Skizofrenia", Gangguan Jiwa yang Harusnya Tak Disebut Gila, Ada Hubunganya dengan Pembunuhan?

Komentar

Foto via detik.com

Masih hangat peristiwa yang katanya orang gila, tapi mereka punya nama-nama ustadz....

Apa mereka benar-benar gila atau alami Skizofrenia...?

Apa itu Skizofrenia...?

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.

"Skizo (skizofrenia, red) ini siapa saja bisa berpotensi untuk terkena. Yang terjadi pada mereka adalah perubahan proses berpikir, perilaku dan emosinya," terang Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Eka Viora, SpKJ , Kamis (22/2/2018).

Untuk memudahkan masyarakat mengidentifikasi seperti apa pengidap skizofrenia, berikut ciri-ciri umum yang kerap terlihat pada mereka, sebagaimana dikutip detikHealth.com.


1. Berbicara tak jelas

Saat diamankan, pelaku penyerangan seorang ulama di Lamongan beberapa waktu lalu ditemukan dalam keadaan mengomel tak jelas, terkadang menggunakan logat Ngapak (Banyumas), Madura, hingga Sunda.
Kondisi ini dipicu oleh ketidakmampuan mereka untuk berkonsentrasi. Biasanya mereka memberikan jawaban yang tidak berkaitan, mengulang-ulang perkataan atau mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal.

Ini biasanya juga disertai dengan tingkah laku yang aneh atau tak terduga.


2. Kehilangan identitas

Ketika ditanya, pria itu mengaku bernama Paijo. "Saya orang Turki," katanya, juga sembari mengomel.

Aslinya, pria ini memiliki nama Nandang dan berasal dari Cirebon. Keluarga menyebut Nandang tidak bekerja dan hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMP.

"Keterangan dari keluarganya bahwa, yang bersangkutan (pelaku penyerangan, red) sudah meninggalkan keluarganya sejak 4 tahun lalu," terang Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera.
3. Mengalami halusinasi dan delusi

Masih ingat dengan Sabar Nababan? Ia adalah seorang dosen yang mengaku Tuhan dan mendirikan sebuah agama baru di Mataram, Nusa Tenggara Barat di tahun 2017 silam.

Pria ini juga pernah mengaku diganggu jin saat mengambil studi S3 di Denmark. Dijelaskan dr Andri, SpKJ dari RS Omni Alam Sutera, halusinasi dan delusi ini umumnya tidak disadari oleh yang bersangkutan.

"Pasien merasa halusinasi itu memang benar ada dan tidak bisa dipatahkan oleh orang sekitarnya. Pasien juga kesulitan dalam mengendalikan halusinasi tersebut sehingga menimbulkan gangguan fungsional pada pasien," ungkapnya.


4. Tanpa ekspresi

Dr Ashwin Kandouw, SpKJ dari Sanatorium Dharmawangsa mengungkapkan bahwa pasien skizofrenia tak memiliki mood yang jelas atau disebutnya 'tumpul'.

"Kalau dia gembira, nggak terlalu gembira, kalau sedih ya nggak terlalu sedih, lempeng (lurus-red) aja gitu. Emosinya nggak terlalu hidup," katanya.

Mereka juga cenderung mengabaikan fungsi normalnya, seperti menjaga kebersihan diri atau berinteraksi dengan orang lain.

Baca Juga : Kakek "Gangguan Jiwa" yang Dihajar Massa Akibat Hoax Telah Diamankan Polisi


Penyebab skizofrenia

Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizofrenia secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.


Diagnosis dan pengobatan skizofrenia

Jika Anda memiliki kerabat atau teman-teman yang menunjukkan gejala skizofrenia, segera bawa ke dokter. Makin cepat penyakit ini terdeteksi, semakin baik. Peluang sembuh penderita skizofrenia akan lebih besar jika diobati sedini mungkin.

Karena skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Penyakit skizofrenia akan terdeteksi pada diri pasien jika:

Baca Juga : Hati-Hati, Suka Selfie Gaya 'Bibir Monyong' Mengindikasikan Gangguan Jiwa
Mengalami halusinasi, delusi, bicara meracau, dan terlihat datar secara emosi. 
Mengalami penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala di atas. 
Gejala-gejala di atas bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau efek samping penyalahgunaan obat-obatan.
Dalam mengobati skizofrenia, dokter biasanya akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif (CBT) dengan obat-obatan antipsikotik.

Untuk memperbesar peluang sembuh, pengobatan juga harus ditunjang oleh dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat.

Meskipun sudah sembuh, penderita skizofrenia tetap harus dimonitor.

Biasanya dokter akan terus meresepkan obat-obatan untuk mencegah gejala kambuh. Selain itu, penting bagi penderita untuk mengenali tanda-tanda kemunculan episode akut dan bersedia membicarakan kondisinya pada orang lain.
Top