Puluhan Siswa SMAN 9 Tasik yang Jadi Korban Pulang Menangis Setelah Disuruh Lepas...

Komentar

Gambar diolah dari agammediacenter

Dugaan kasus penelanjangan terhadap puluhan murid SMP Terpadu dan MA Fajrul Islam terjadi saat mengikuti kegiatan pelatihan polisi siswa (polsis) di SMAN 9 Kota Tasik lalu. Pihak sekolah pun mengambil jalur hukum untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kepala Sekolah MA Fajrul Islam Arfan Afandi menyebut sudah menerima undangan dari SMAN 9 terkait penyelenggaraan latihan polsis pada Rabu (14/2) untuk diikuti pada hari Sabtu. Ia pun memberangkatkan siswa dan siswinya pada Sabtu pagi. Khusus jumlah siswi ada 21 orang terdiri dari 10 siswi SMP dan 11 siswi MA. Alangkah kecewanya dia lantaran sepulang kegiatan polsis, siswinya justru menangis. Saat ditanya ternyata para siswi mengatakan adanya kejadian penelanjangan.

"Anak-anak ngadu sambil nangis diceritakan diperlakukan senior proses itu masuk ke kelas disuruh berhadapan lalu buka kerudung, ciput, baju kancing atas, rok, telanjang 20 persen. Selanjutnya si anak disuruh pakai kerudung bukan ada di depan tapi di belakang, saat dalam kondisi terlucuti itu lari-lari sambil ambil kerudung," katanya pada wartawan, seperti yang dikutip dari republika.co.id.

Selanjutnya, ia melaporkan kejadian itu ke Polresta Tasik guna menempuh proses hukum. Di hari yang sama, pihak penyelenggara kegiatan dan Kepala Sekolah SMAN 9 berusaha meminta maaf pada para siswi yang merasa dilecehkan dengan mengadakan pertemuan.

"Lalu lapor ke Polres buat laporan. Selesai itu kami dapat SMS harus datang ke SMAN 9, kami disuruh datang ke sana, kami minta mereka lah yang harusnya datang ke kami. Akhirnya datang semua termasuk Kepsek, pengawas polsis, kesiswaan dan panitia. Saya minta semua panitia hadir, tapi tidak semua bahkan pelaku tidak hadir, itu saya kecewa," jelasnya.

BACA JUGA : Wanita ini Pesan Go-Food di Warung Sendiri, Sudah Dibeli Driver Malah Dicancel



Salah Satu Pihak Sudah Memaafkan

Walau sudah ada penerimaan maaf, dia tetap memproses kasus ini kepada pihak berwajib. Sebab ia khawatir kejadian serupa bisa saja terulang kembali.

"Kedatangan mereka duduk bersama akui kesalahan, minta maaf. Kami secara pribadi maafkan, tapi secara hukum tetap lanjut supaya jera tidak ada kejadian ini lagi," tuturnya.

Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Adi Nugraha mengatakan, siswi Yayasan Fajrul Islam yang menjadi korban dugaan penelanjangan dalam kegiatan Polisi Siswa di SMAN 9 Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, membutuhkan psikiater untuk merehabilitas psikologinya yang mengalami depresi.

Sesuai dengan permintaan Yayasan Fajrul Islam dalam kesepakatan damai dengan SMAN9 selaku penyelenggara kegiatan Polisi Siswa, perlu ada rehabilitasi psikis terhadap siswa yang diduga mendapatkan perlakuan tidak senonoh itu, kata AKBP Adi di Tasikmalaya, Jawa Barat, seperti yang dikutip dari antaranews.com.

Permintaan itu disampaikan dalam kesepakatan damai kedua sekolah untuk tidak melanjutkan masalah itu ke ranah hukum.

"Diminta pihak SMAN 9 merealisasikan permintaan Yayasan Fajrul Islam untuk menghadirkan psikiater," kata Kapolres.
Top