Setelah Menikah Suami Malah Menang Sendiri dan Egois, Ini 10 Cara Jitu Menghadapinya

Komentar

source: islamidia.com

Kita tidak pernah tahu siffat asli pasangan setelah menikah dan menghadapi konflik bersamanya.

Begitu pun dengan kamu dan suamimu. Saat pacaran, dia terlihat mesra, penuh kasih sayang, dan perhatian.

Tetapi, setelah menikah, baru deh kamu tahu bahwa dia adalah orang yang egois.

Berikut ini ada beberap tip yang mungkin bisa Anda jalankan untuk menyikap sikap suami yang ingin menang sendiri tanpa memperdulikan saran dan pendapat Anda.

Mudah-mudahan Anda berhasil mewujudkan keluarga yang harmonis dan bahagia.

1. Perlu Anda sampaikan bahwa di dunia ini dia tidak hidup sendiri, tapi ada orang lain yang harus dipenuhi hak-haknya. Ada istri, anak, orangtua, tetangga, dan masih banyak lagi. Mereka berhak didengar pendapatnya, berhak diajak bermusyawarah, dan juga berhak menyampaikan aspirasinya. Sementara mau menang sendiri merupakan sikap yang menindas hak-hak tersebut.

2. Ingatkan pula, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, yang selalu benar. Jangankan kita, sebagai manusia biasa, nabisa saja masih berbuat salah. Bila dia menganggap dirinya selalu benar, berarti dia telah memposisikan diri sebagai tuhan. Orang yang selalu menganggap dirinya benar justru malah menunjukkan kelemahan, kekurangan, dan kebodohannya.

3. Ajaklah suami mencari penyebab daari munculnya sukap yang cenderung arogan dan angkuh itu. Untuk kemudian carikan pula jalan keluar terbaik baginya, agar dia bisa mendapat tempat di tengah-tengah keluarga, rekan-rekan kerja, atau masyarakat sekitar rumahnya.

4. Sebagai seorang pemimpin, mestinya dia harus menampung semua aspirasi dan pendapat orang yang dipimpinnya. Bahkan juga dia ingin sukses memimpin, dia harus tau dan mengausai keadaan orang-orang yang dipimpinnya. Dalam skala rumah tangga, misalnya, dia adalah kepala keluarga. Harusnya dia mengetahui apa yang menjadi keinginan istri atau anak-anaknya. Apa pula yang menjadi keluhan mereka. Sehingga dia bisa memberikan yang terbaik bagi mereka dan berhasil menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin

5. Anda juga perlu mengingatkan suami bahwa tindakannya itu tidak mengenakkan orang lain, termasuk Anda sendiri. Kalau perlu tanyakan, bagaimana sikap dan perasaannya jika dia sendiri yang diperlakukan seperti itu. Hendaklak dia menghargai orang lain, seperti dia ingin dihargai mereka.

6. Dan ketika suami ngotot, Anda tidak perlu ikut ngotot dan tegang. Biarkan dia melampiaskan kehendaknya dan tunggu sampai reda. Dan ketika sudah santai, ajak dia berbicara dari hati ke hati, tanpa nada menuduh, juga tidak menghakimi, serta tidak harus mengatakan dia salah atau membeberkan beberapa kesalahan sebelumnya. Dengan kata lain, carilah waktu dan kesempatan yang tepat untuk menyadarkannya.

7.  Dibutuhkan kesabaran ekstra dalam menghadapai suami tipe ini. Anda harus bisa mengendalikan emosi dan diri. Sebab, jika emosi yang Anda kedepankan, bukan tidak mungkin api pertengkaran akan terus berkobar di dalam rumah tangga Anda. Bahkan jika tidak pandai-pandai memenej diri dan melatih mental, Anda bisa mengalami depresi. Dia bukan tidak mampu berbuat lebih baik, mungkin ‘jiwa mudanya’ masih mendominasi gaya hidupnya, sementara asam garam kehidupan belum banyak dia rasakan. Butuh waktu untuk merubah karakternya.

8. Jangan memaksa dirinya untuk mengikuti gaya dan cara Anda. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Yang Anda harus lakukan adlah membuat dirinya tahu dan menyadari bahwa gaya dan caranya dia bersikap itu tidak baik dan akan merugikan dirinya sendiri. Orang tipe ini agak sulit jika harus meniru atau mengadopsi gaya dan cara orang lain. Karena itu, biarkan dia sendiri yang menentukan dan mengganti gaya dan caranya menjadi yang lebih baik

9. Bisa juga Anda meminta bantuan pihak ketiga yang netral. Mungkin dia bisa membantu memberikan masukan bahwa ternyata cara yang dia terapkan selama ini membuat Anda tertekan. Pandai-pandailah memilih orang ketiga untuk Anda libatkan dalam urusan rumah tangga, karena bisa-bisa dia malah akan menjadi penyebar aib keluarga, atau bahkan memperunyam masalah. Pilihlah orang yang tidak membuat suami Anda beranggapan bahwa orang itu adalah sekutu Anda.

10. Bila suami seorang yang suka baca, sodorkan kepadanya buku-buku yang mengulas tentang pengolahan sikap dan karakter negative menjadi positif, juga buku-buku tentang kepemimpinan, motivasi, dan pembentukan karakter. Pembelajaran melalui buku akan lebih efektif karena buku sifatnya tidak mempermalukan
Top