Ini Hukum Orang yang Menerima Upah dari Memandikan Jenazah

Komentar

foto via youtbe.com dan uangonline.com

Hukum menerima upah dari memandikan jenazah dan tukang gali kubur

Dikota-kota besar, biasanya orang yang bekerja sebagai tukang gali kubur atau memandikan jenazah itu ada upahnya. 

Tapi ada yang mengatakan kalau menerima upah dari pekerjaan itu dilarang. BENARKAH ITU?

Agar anda tak salah paham, ini penjelasannya menurut islam bagaimana hukum dari menerima upah dari memandikan jenazah atau tukang gali kubur.

Mengutip konsultasisyariah.com, mengurusi jenazah kaum muslimin termasuk ibadah yang Allah wajibkan bagi kaum muslimin. Baik bentuknya menggali kuburan, memandikan, mengkafani atau memakamkan. Karena itu, bagi mereka yang melaksanakannya idealnya diniatkan dalam rangka mencari pahala, bukan dalam rangka mencari upah.

Bagaimana jika keluarga mayit memberi sesuatu?

Ada 2 rincian dalam masalah ini:

[1] jika keluarga mayit memberikan sesuatu tanpa disyaratkan di depan, tidak jadi masalah untuk menerimanya. Karena statusnya hadiah.

Baca Juga : Saat jenazah Dimandikan Hal Mengerikan ini yang Akan Terjadi Pada Ruhnya

[2] jika pemberian ini karena disyaratkan di depan, berarti ini upah. Dan pendapat yang benar, boleh diambil, hanya saja mengurangi kadar pahalanya.

Dalam Kasyaful Qina’ dinyatakan,

وَيُكْرَهُ أَخْذُ أُجْرَةٍ عَلَى تغسيل الميت وَالتَّكْفِين وَالْحَمْل وَالدَّفْن . قَالَ فِي الْمُبْدِعِ : كَرِهَ أَحْمَدُ لِلْغَاسِلِ وَالْحَفَّارِ أَخْذَ أُجْرَةٍ عَلَى عَمَلِهِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ مُحْتَاجًا ، فَيُعْطَى مِنْ بَيْتِ الْمَالِ ، فَإِنْ تَعَذَّرَ أُعْطِيَ بِقَدْرِ عَمَلِهِ

Dimakruhkan untuk mengambil upah dari memandikan mayit, mengkafaninya, mengangkatnya, dan memakamkannya. Dalam kitab al-Mubdi’ dinyatakan, “Imam Ahmad memakruhkan bagi yang memandikan mayit atau yang menggali kuburan untuk mengambil upah dari tugasnya. Kecuali jika dia sangat membutuhkan, dan dia boleh diberi dari baitul mal. Jika tidak memungkinkan, dia diberi sesuai ukuran kerjanya.” (Kasyaf al-Qina’, 2/86)


foto via konsultasisyariah.com

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya,

Baca Juga : Tata Cara Memandikan Jenazah dan Doa Memandikan Jenazah

‘Bolehkah mengambil upah sebagai ganti untuk memandikan dan mengkafani jenazah?’

Jawaban beliau,

إذا كانت هذه الأجرة أو هذا العطاء بدون شرط فلا شك في جوازه ولا حرج فيه ؛ لأنه وقع مكافأة لهذا الغاسل المكفن على عمله ، وقد قال النبي عليه الصلاة والسلام : “من صنع إليكم معروفاً فكافئوه”

Jika upah atau pemberian ini diberikan tanpa ada kesepakatan di depan, jelas ini dibolehkan dan tidak masalah. Karena pemberian ini sebagai bentuk balasan terima kasih untuk yang memandikan jenazah atau yang mengkafani atas kerja mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Siapa yang diberi kebaikan oleh orang lain, maka berikanlah balasan terima kasih.”

Lalu beliau melanjutkan,

أما إذا كانت هذه الأجرة مشروطة فإنها بلا شك تنقص أجر الغاسل المكفن ؛ لأن الغاسل المكفن ينال أجراً كبيراً ؛ لأن تغسيل الميت وتكفينه من فروض الكفاية ؛ فيحصل للغاسل والمكفن أجر فرض الكفاية.

Jika upah ini disyaratkan di depan, jelas menerima upah ini akan mengurangi pahala orang yang memandikan dan mengkafani. Karena yang memandikan dan mengkafani akan mendapatkan pahala besar; karena memandikan dan mengkafani mayit termasuk fardhu kifayah, sehingga yang melaksanakannya akan mendapatkan pahala melaksanakan fardhu kifayah.


foto via youtube.com

Beliau melanjutkan,

لكن إذا أخذ على ذلك أجرة فإن أجره سوف ينقص ، ولا حرج عليه إذا أخذ أجرة على هذا ؛ لأن هذه الأجرة تكون في مقابل العمل المتعدي للغير ، والعمل المتعدي للغير يجوز أخذ الأجرة عليه ، كما جاز أخذ الأجرة على تعليم القرآن على القول الصحيح

Namun jika dia mengambil upah, maka pahalanya akan berkurang, meskipun tidak masalah baginya mengambil upah ini. Karena upah ini sebagai ganti atas kerja yang bermanfaat bagi orang lain (amal muta’adi). Dan orang yang melakukan amal muta’addi (kerja manfaat) bagi orang lain, dia berhak mendapat upah. Sebagaimana orang yang mengajarkan al-Quran boleh mengambil upah menurut pendapat yang shahih. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, 7/36)

Baca Juga : Proses Mengerikan Pengurusan Jenazah Orang Mati Bunuh Diri, Begitu di Luar Nalar

Keterangan Lajnah Daimah juga serupa. Ketika menjawab pertanyaan mengenai hukum mengambil upah karena memandikan jenazah, baik upah yang disyaratkan di depan atau tanpa syarat di depan. Jawaban Lajnah Daimah,

تجوز ، والأولى أن يقوم بها متبرع إذا تيسر ذلك . وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Boleh, meskipun yang lebih bagus orang itu melaksanakannya dengan suka rela, jika tidak menyusahkannya. Wa billah at-taufiiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihii wa shahbihii wa sallam…

(Fatawa Lajnah Daimah, 15/112).
Top