Dampak Perceraian, Gadis ini Mendapatkan Perlakuan Mengerikan Setelah Orang Tuanya Bercerai

Komentar

Gambar via redaksi sumbar

Dampak terbesar dari perceraian adalah kehidupan anak

Sebagai pasangan suami istri yang telah berkomitmen di hadapan Allah haruslah berusaha untuk menyelesaikan segala permasalahan rumah tangga bersama-sama. Sayangnya, dewasa ini makin banyak pasangan suami istri malah bercerai. tentunya hal ini sanagt berdampak bila pasangan sudah mempunyai anak.

Tidak menutup kemungkinan jika keputusan bercerai yang mereka ambil akan membawa masalah berikutnya, terutama yang berkaitan dengan hak asuh anak, psikologis anak, jaminan hidup anak dll.

Bahkan islampun tidak menganjurkan perceraian.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Mereka belajar dari keduanya sihir yang bisa memisahkan antara seseorang dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Dari Jabir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya, maka yang akan menjadi pasukan yang paling dekat dengan dia adalah yang paling banyak fitnahnya. Lalu ada yang datang dan berkata, ‘Saya telah berbuat ini dan itu’. Maka iblis berkata, ‘Engkau tidak berbuat apa-apa’. Kemudian ada yang datang lagi dan berkata, ‘Saya tidak meninggalkan seorang pun kecuali telah aku pisahkan antara dia dengan istrinya’. Maka iblis mendekatkan dia padanya dan mengatakan, ‘Engkaulah sebaik-baik pasukanku’.” (Muslim, no.2167)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Wanita mana saja yang minta cerai pada suaminya tanpa sebab, maka haram baginya bau surga.” (HR. Abu Dawud: 2226, Darimi: 2270, Ibnu Majah 2055, Amad: 5/283, dengan sanad hasan)

kasus yang terjadi karena dampak perceraian

Nasip mengharukan dialami seorang anak, mencari orang tua dan kakinya di rantai.


Gambar diolah via redaksi sumbar

Pasca kedua orang tuanya bercerai, nasib yang sungguh tragis menimpa salah seorang bocah perempuan di Kota Padang. Sebut saja namanya Melati (11), yang bermukim di kawasan Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat.

Dirinya diketahui kerap mendapatkan kekerasan. Kakinya dirantai. Dia dikekang. Parahnya, anak tersebut dipaksa untuk meminta-minta.

Tak tahan dengan deraan itu, dirinya mencoba kabur. Sembari memohon untuk ke kamar mandi untuk buang air kecil, Melati nekad kabur hingga sampai di kawasan Asrama Polisi (Aspol) Lolong, Kelurahan Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat pada Kamis (11/1/2018) malam. Sesampainya disana, Melati berhenti. Dia duduk sejenak di rumah seorang perwira polisi.

ditemukan oleh petinggi di Polda Sumbar.

Ternyata Melati berhenti di rumah seorang petinggi di Polda Sumbar, Kombes Margiyanta yang saat ini masih menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus).

“Saat saya datangi anak tersebut, saya berfikir masih dia putri dari polisi yang tinggal di kawasan ini, ternyata bukan. Sembari merintih, dia meminta tolong kepada saya untuk membuka rantai yang masih terikat di kakinya. Setelah saya tanyakan dan ajak Melati (nama samaran, red) berkomunikasi, dia menceritakan bahwa dirinya disiksa oleh kedua orang tuanya. Saya langsung menghubungi pihak Polsek Padang Barat. Semalam disana, anak ini kemudian dibawa ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Padang oleh polisi,” papar Kombes Margiyanta, Jumat (12/1/2018).

Ayah kandung datang ke polresta padang.


Gambar via merdeka.com

Mengetahui anaknya berada di Polresta Padang, ayah kandung dari Melati kemudian mendatangi Unit PPA untuk melihat kondisi terakhir dari buah hatinya tersebut.

Hatinya terenyuh melihat putri tercinta yang sudah lama ia rindukan pasca bercerai dari istrinya dan tak lagi bertemu berada di ruang penyidikan petugas kepolisian seperti dilansir dari merdeka.com.

“Saya tidak terima jika benar ibu kandung dan ayah tirinya yang tega berbuat seperti itu. Saya ingin polisi segera menindak lanjuti kasus tersebut, perbuatan mereka sungguh sangat keji,” tutur pria yang tak mau disebutkan namanya tersebut.

"Sudah empat tahun ini pisah sama istri dan terakhir kondisi anak baik-baik saja. Jika ingin ketemu biasanya dia datang sendiri ke rumah, terakhir satu minggu yang lalu, tapi dia di rantai gini saya tidak tahu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca

"Ini anak pertama, jadi setelah cerai, mantan istri saya yang rawat sedangkan saya merawat anak kedua. Sejak pisah saya tidak tahu mereka tinggal di mana," sambungnya.

Polisi kini mendalami kasusnya

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Padang, Kompol Daeng Rahman Marunduri menyebut bahwa ada dugaan kedua orang tua dari Melati melakukan ekspolitasi kepada dirinya dengan cara dikekang dan tak diberikan hak menempuh pendidikan reguler pada anak seusia bocah perempuan tersebut.

“Untuk kasus ini kita akan mendalami apakah disana ada unsur eksploitasi terhadap anak di bawah umur. Selanjutnya kita juga mencari tahu orang yang melakukan hal tersebut untuk dimintai penjelasan sebelum terbukti melakukan perbuatan tersebut,” terangnya.

Kementrian sosial kota padang ikut mendampingi.

Sementara itu, Pekerja Sosial (Peksos) Kementerian Sosial (Kemensos) RI dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padang, Rusmen menjelaskan bahwa pihaknya akan berupaya untuk mendampingi Melati, terutama dari sisi pendidikan.

“Kami akan mengawasi anak ini kedepannya dan menjamin memberi segala keperluan sang anak terutama hak-nya untuk menempuh pendidikan reguler, seperti sekolah,” kata Rusmen yang didampingi oleh Erdawati, petugas dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Padang.

Sementara, Ketua Devisi pelayanan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Rimbo Kaluang, Sumatera Barat, Erdawati, menjelaskan pihaknya akan penilaian dahulu. Jika telah memungkin, baru bisa dipulangkan kepada keluarga yang merupakan ayah kandung ZRS.

"Tapi tetap dalam pengawasan kita, apalagi anak ini menyandang status sosial yang sangat komplet di mana dia tidak sekolah setelah orangtuanya bercerai. Ini harus assessment jelas, nanti diskusikan mana yang tepat yang jelas sekolahnya harus diurus kembali," katanya.

Dijelaskannya, assessment tersebut seperti mencari tempat yang aman dan nyaman ke mana anak tersebut tinggal. Apabila ayah kandungnya tidak mau mengasuh, pihaknya akan berkoordinasi dengan pekerja sosial dan di sana juga akan ada panti asuhan.
Top