Siapa Yang Rugi: Yang Disakiti Atau Yang Menyakiti?


Gambar sebagai Illustrasi

Siapa sih sebenarnya yang rugi? Yang menyakiti atau yang disakiti? Yang direndahkan atau yang merendahkan? Yang menyombongkan diri ataukah yang sebaliknya?

Dunia mungkin sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehancurannya. Salah satu indikatornya adalah dengan banyaknya orang yang berbicara tanpa lebih dahulu dipikir. Menuruti hawa nafsu bernama ego daripada logika. Dan, ingin menjadi lebih dan lebih di mata orang lain.

Namanya juga hidup dalam pergaulan makhluk bumi. Hehe

Tentu, perasaan kecewa, sakit hati, atau yang sejenis adalah hal yang lumrah.

Kembali lagi pada pertanyaan di atas. Jadi, siapa yang rugi?

Salah bila dikatakan bila yang rugi adalah mereka yang disakiti, direndahkan, dan dilecehkan. Justru sebaliknya, pelaku kejahatan psikologislah yang sebenarnya rugi.

Bayangkan, betapa tersiksanya hidup orang-orang yang suka menyakiti orang lain baik dalam sikap maupun kata-kata. Apa tidak capek? Pun ketika dirinya merasa lebih hebat daripada orang lain/yang direndahkan tersebut, terus emang kenapa? Penting banget?

Sebaliknya, mereka yang dizolimi justru orang-orang yang diuntungkan. Setidaknya, mereka mendapatkan pelajaran berharga untuk tidak melakukan hal yang sama bila tidak ingin sama hinanya.

Saya masih ingat salah satu filosofi jawa yang diajarkan ayah saat saya masih belia.

Nglurug tanpo bolo, Sugih tanpo bondho, Sakti tanpo aji, lan Menang tanpo ngasorake.

Kurang lebih artinya adalah sebagai berikut:

BACA :  Ketika Kehilangan Orang yang Dicintai (Direbut Pelakor), Relakanlah Karena Ada Balasan Surga Untuk Istri Yang Tabah


1. Nglurug Tanpo Bolo

Tak perlu mendompleng nama besar suami, ayah, atau keluarga bila hanya ingin dipandang wah oleh orang lain karena hal itu justru menunjukkan bahwa kita tak percaya diri. Pun tak perlu sok-sokan bergaul dengan orang yang terlihat wah hanya karena kita ingin dipandang wah. Bila kita percaya dengan kemampuan diri sendiri yang telah diberikan oleh Allah, kita pasti tak gentar dengan apapun yang menghadang. Kita “mengalahkannya” dengan ketenangan dan kecerdasan, bukan dengan emosi atau membawa-bawa nama besar orang lain. :D

2. Sugih Tanpo Bondho

Maksudnya dengan kemampuan dan semangat yang kita miliki, kita tak perlu khawatir hidup terlunta-lunta. Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin, biar DIA yang memutuskan yang terbaik untuk kita. Lahir dari keluarga apapun dan kondisi seperti apapun, bukanlah kesalahan kita. Orang keren yang sesungguhnya bukanlah orang yang menggantungkan diri pada keadaan, tapi orang yang mampu mengubah keadaan. Tak perlu repot-repot, banyak contoh orang-orang sukses yang masa kecilnya buruk. :)

3. Menang Tanpo Ngasorake

Inilah poin penting yang ada hubungannya dengan postingan kali ini. Intinya, untuk menang, kita tak harus merendahkan atau mempermalukan orang lain di depan banyak orang. Emang penting ya merendahkan orang lain? Tak perlu kita sebut-sebut kita ini siapa dan bagaimana hanya karena ingin mendapat pengakuan hebat dari manusia, toh mereka sudah tahu kok. Hal-hal yang bisa membuat orang lain merasa rendah bukanlah hal yang hebat karena orang hebat yang sesungguhnya adalah orang yang bisa menghargai orang lain. Pun pemenang yang sesungguhnya adalah mereka yang mampu membuat “musuh” mengakui kehebatannya tanpa harus merasa si musuh tak berharga. Bahasa sederhananya, mengubah “musuh” menjadi sahabat. :D

Jadi, bila ada orang yang merasa puas karena telah merendahkan orang lain atau mencaci maki saudaranya, seharusnya kita mengasihani karena orang tersebut rugi. Bagaimana mungkin usaha dan doanya bisa lancar bila masih ada noda (gak penting) dalam hatinya.

Semangat!

Mari memerdekakan hati!
Top