Orangtua Yang Abaikan Anak Demi Gadget Perlu Baca Ini "Kategori Orangtua Yang Lalai"



ORANG TUA YANG ABAIKAN ANAK DEMI GADGET PERLU BACA INI

Pernah nyuekin anak karena asyik sendiri sama gadget? Awas, mengabaikan anak sama dengan menghambat diri kita ke surga lho!

Perubahan zaman memiliki pengaruh kuat pada diri seseorang, baik dalam berpikir, menentukan langkah kehidupan ke depan, ataupun dalam berinteraksi dengan sesama.

Jika dulu adalah perilaku yang tidak sopan berbicara dengan orangtua tanpa memandang wajahnya, maka sekarang hal itu seperti lumrah saja terjadi. Dahulu, saat anggota keluarga berkumpul dalam suasana santai, tak mungkin rasanya masing-masing berdiam diri tanpa suara, tapi saat ini hal itu sudah menjadi fenomena. Perubahan zaman dengan hadirnya gadget di tangan, betul-betul mengubah perilaku siapapun.

Jangan jadi Orangtua yang Lalai

Sudahlah kurang dalam menanamkan nilai-nila agama kepada anak, kehadiran gadget menambah alasan panjang minimnya perhatian orangtua akan masalah fundamental ini. Terutama orangtua yang sejak pagi hingga senja bekerja di luar, di rumah masih pula sibuk dengan gadget-nya. Waspadalah, karena hal ini bisa masuk dalam ketegori orangtua yang lalai, seperti yang dikutip dari majalahummi.

Seperti yang dialami bunda ini:



Awal perkenalan dengan gadget pas Shafraan umur 10 bulan. Awalnya terbiasa liat kakak kakaknya main game di tab. Dari sekedar jadi penonton lama kelamaan dia jadi tertarik untuk mencoba.

Seiring bertambahnya usia, gadget merupakan barang yang tidak bisa terpisahkan dalam kesehariannya. Bermain berbagai jenis game bisa sampai berjam-jam bahkan game bagaikan lagu nina bobo buat dia. Pokoknya main game dulu baru bisa tidur.Dan itu berlangsung setiap hari.

Singkat cerita, Di umurnya yang ke-2 tahun sebenarnya saya sudah melihat tanda tanda ke’kaku’an dari caranya berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya saja bagaimana dia merespons permainan manual (mobil-mobilan, pesawat, dan jenis permainan lain yang dia punya).

Pernah sekali saya mendapati dia hanya memegang mobil-mobilannya sambil diam saja. Tidak ada gerakan layaknya seorang anak laki-laki yang diberi mobil-mobilan yang pasti sudah memainkannya sambil meniru suara mobil. Dia kebingungan tebak saya. Karena selama ini dia hanya terbiasa menggerakkan jari-jarinya mengikuti alur permainan dari dalam gadgetnya.

Dalam hati, saya sudah waswas…khawatir dengan perkembangan anak lelaki semata wayang saya. Sempat konsultasi dengan dokter anak mengenai adakah hubungan antara riwayat alergi tinggi yang di derita Shafraan dengan kondisinya ini.


Dan jawabannya adalah tidak ada. Kemungkinan besar pengaruhnya adalah kurangnya interaksi dari orangtua dan anggota keluarga yang kurang berkomunikasi atau menstimulasi Shafraan agar memperbanyak kosakatanya.

Menurut dokter, Shafraan sekarang dalam kondisi speech delay atau keterlambatan bicara. Tidak tanggung-tanggung perkembangan bicara Shafraan terlambat 1 tahun dari umurnya yang sudah 3 tahun 4 bulan waktu itu.


Speech delay adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya.

Ini adalah pelajaran bagi saya sebagai orangtua. Kita sayang sama anak…orangtua mana yg tidak?
Tapi orangtua pun harus lebih cermat memilah mana yg bisa dan tidak sepatutnya diberikan kepada anak. Jangan sampai karena pola asuh kita bisa berdampak buruk bagi masa depan mereka.


Saya tidak melarang atau menghakimi orangtua yang masih memberikan gadget kepada anak-anaknya. Saya hanya berbagi pengalaman saja. Jangan sampai apa yang terjadi pada Shafraan terjadi pada anak-anak lain. Save our children from gadget. Biarkan mereka menikmati golden age mereka dengan cara alami karena belum waktunya mereka bersentuhan dengan canggihnya teknologi.

BACA :  Inilah 7 Karakter Orangtua Calon Pemilik Anak Sukses, Bunda Masuk Kategori Nomor Berapa?


Ketika orangtua mengabaikan, menyepelekan atau malah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai orangtua terhadap anak, utamanya dalam hal agama, akhlak, ibadah, dan perkembangan anak. Misalnya lebih memperhatikan gadget dari kebutuhan anaknya, suka menggantikan kehadiran orangtua dengan memberikangadget pada anak, atau menganggap cukup mewakilkan kehadiran orangtua hanya lewat komunikasi maya. Waspadalah ancaman Rasulullah saw, “Cukup berdosa seorang yang mengabaikan orang yang menjadi tanggungannya,” (HR Abu Dawud, Nasa’I, dan Hakim).

Pengasuhan di Dunia, Balasan di Akhirat

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah saat akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kelak ia akan berkata, ‘Wahai Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?’ Dijawab-Nya, ‘karena permohonan ampunan anakmu untukmu,’” (HR Ibnu Majah).

Jika doa anak bisa mengangkat orangtua ke surga, maka dalam pengertian terbalik yang biasa disebut mafhum mukhalafah,orangtua juga bisa mendapat balasan yang buruk di akhirat karena lalai dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Karenanya kita perlu berhati-hati, jangan sampai perlakuan kita kepada anak membuat kita tak bisa masuk surga.
Top