Kisah Nabi Saleh, Nabi Ishaq dan Nabi Ilyasa

Komentar

Kisah nabi saleh, kisah nabi ishaq, dan kisah nabi ilyasa / Pic source : vadimpanov

Islam sebagaimana agama yang sempurna, yakni mengajarkan tentang pelajaran untuk memperbaiki diri dari hari ke hari.

Seperti halnya Nabi dan Rasul yang diutus pada masa lampau, untuk mengingatkan kaumnya akan bahayanya jika masih mempertahankan ajaran nenek moyang dan tak segera bertaubat.

Dari setiap kisah yang ada, kita sebagai umat Islam pastilah bisa mengetahui hikmah apa yang terkandung di dalam semua cerita perjalanan hidup Nabi dan Rasulu utusan Allah SWT.

Artikel pilihan : Kisah - Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad SAW

Di samping itu, ada beberapa hal bisa diambil sebagai acuan dalam beribadah, seperti misalnya saat Nabi Ayyub diberi cobaan berupa sakit, dan kesabaranlah yang menuntunnya untuk sembuh.

Pun layaknya Nabi Sulaiman yang rajin bersedekah untuk beribadah kepada Allah SWT. Sehingga dari hal tersebut bisa kita jadikan sebagai contoh atau pun pedoman guna kehidupan yang lebih lagi.

Membahas perihal kisah nabi, mungkin banyak dari kita yang hanya tahu beberapa cerita saja tentang mereka.

Atau hanya kisah-kisah yang tertera di buku pelajaran dan Nabi yang dimaksud juga sudah banyak yang mengetahuinya.

Jika memang begitu, sekarang ada sebuah pertanyaan, tahukah kita mengenai cerita hebat Nabi Saleh, Ishaq, dan Nabi Ilyasa?

Mungkin bagi beberapa dari kita nama dari ketiga nabi tersebut pernah terdengar namun tak tahu seperti apa kisah mereka.

Oleh karena itulah, berikut adalah ringkasan mengenai kisah Nabi saleh, Ilyasa, sampai kisah nabi ishaq lengkap.

Kisah Nabi Saleh, Nabi Ishaq dan Nabi Ilyasa

Membahas perihal kisah nabi saleh singkat dan bagaimana kaum beliau yang terkena azab.

Di mana mereka yang menyepelekan kemurkaan Allah SWT dan malah menantang Nabi Saleh untuk mendatangkan azab kepada mereka.

Astaghfirullah, sebenarnya apa yang terjadi? Inilah kisah lengkapnya.

Kisah antara Nabi Saleh AS, seekor unta, dan Kaum Tsamud

Kisah nabi saleh, kisah nabi ishaq, dan kisah nabi ilyasa / Pic source : dailymoslem

Sebuah cerita islami penuh hikmah yaitu cerita nabi saleh as. Ya, Nabi saleh as merupakan putra dari Ubaid bin jabir bin Tsamud.

Kaumnya bernama Tsamud, ia adalah nama yang dibangsakan kepada nama kakeknya yang bernama Tsamud bin Air bin iram bin sam bin Nuh.

Nabi Shaleh as merupakan keturunan Nabi Nuh as yang keenam. Tsamud menempati daerah yang semula ditempati oleh kaum Aad. Negeri itu telah kosong ditinggalkan oleh bangsa Aad.

Tsamud adalah nama suatu suku dan oleh sejarah dimasukkan bagian dari bangsa arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi.

Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama “Alhjir” terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad.

Di mana dulunya telah habis binasa disapu angin topan yang dikirim oleh Allah SWT sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud as.

Kaum Tsamud menetap di sana karena memang faktor tanahnya yang subur. Keadaan alam wilayah ini mendukung bagi kaum Tsamud untuk memulai kehidupan baru.

Kaum Tsamud memahat gunung untuk digunakan sebagai tempat tinggal mereka, dan juga menanam pohon-pohon sehingga mendapatkan hasil panen yang sangat banyak.

Dengan demikian, mereka hidup senang dan penuh dengan kemewahan. Kesenangan dan kenikmatan memungkinkan setan untuk menyesatkan mereka.

Hingga akhirnya melalui kesenangan itu, setan membuat kaum ‘Ad ataupun manusia pada umumnya menjadi lupa kepada Allah.

Lama-kelamaan, mereka mengingkari bahwa nikmat itu dari Allah Ta’ala. Akhirnya, mereka benar-benar tersesat dengan menyembah selain Allah.

Mereka tidak hanya menyembah berhala, tetapi mereka juga suka berbuat kerusakan dan bersifat bengis.

Dakwah Nabi Saleh untuk Kaum Tsamud

Sudah terlewat batas, kaum Tsamud pun mulai melakukan perbuatan syirik dengan menyembah berhala.

Oleh karena itu, Allah swt mengutus orang yang berasal dari kaum Tsamud untuk mengajarkan kebenaran dan jalan yang lurus.

Dia adalah Nabi Saleh yang memiliki akhlak baik, sampai pada akhirnya Allah memerintahkan Nabi Saleh untuk mengajak kaum Tsamud untuk menyembah Allah semata.

Nabi Saleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu  dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.

Oleh karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS. Hud : 61).

Kaum Tsamud menolak seruan Nabi Saleh. Mereka meragukan kenabian dan kerasulan Nabi Saleh. Nabi Saleh berusaha terus berdakwah agar kaumnya mengikuti ajaran-Nya.

Pada suatu ketika, kaum Tsamud berkumpul di suatu tempat. Mereka membicarakan tentang ajaran yang dibawa oleh Nabi Saleh.

Hasil pembicaraan mereka ialah meminta Nabi Saleh membuktikan kenabiannya dan bahwasanya benar beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyelamatkan mereka.

Ketika itu, kaum Tsamud meminta Nabi Saleh menunjukkan mukjizatnya dengan cara mengeluarkan seekor unta betina dari batu besar.

Mereka mengira Nabi Saleh tidak akan mampu memenuhi permintaan mereka, dan tak menyadari bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu Jadi Nabi Saleh pun bersedia memenuhi permintaan mereka dengan suatu syarat.

Jika Nabi Saleh mampu memenuhinya, kaum Tsamud harus menerima ajaran Nabi Saleh. Kaum Tsamud pun menyanggupinya. Setelah itu, Nabi Saleh berdoa. Batu besar itu pun retak dan terbelah.

Dari batu yang terbelah, keluarlah seekor unta betina sesuai dengan permintaan kaum Tsamud. Kaum Tsamud terkejut dengan kejadian tersebut.

Seketika mereka terdiam, kemudian mereka terbagi menjadi dua. Sebagian dari mereka mau mengakui kenabian Nabi Saleh.

Namun, sebagian besar yang lain tidak mengakuinya. Kaum Tsamud mengingkari janji mereka, mereka tetap saja berada dalam kesesatan, padahal mereka telah melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.

Unta Betina Nabi Saleh

Berlanjut pada kisah nabi saleh dan unta betinanya. Kemudian nabi Saleh meminta kaum Tsamud untuk memberikan air minum kepada unta di telaga mereka sehari penuh.

Sementara itu, mereka mendapatkan giliran air minum pada hari berikutnya. Unta Nabi Saleh juga dapat memakan rumput di mana pun.

Nabi Saleh memerintahkan kaum Tsamud untuk tidak mengganggu unta tersebut. Jika mereka mengganggunya, azab Allah akan menimpa mereka.

Kaum Tsamud tidak menyadari bahwa unta itu sebenarnya adalah suatu ujian bagi mereka. Allah hendak menguji keimanan mereka kepada Allah.

Dalam surat Al-Qamar ayat 27, Allah berfirman, “Sesungguhnya kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah”.

Sebagian dari mereka mematuhi perintah Nabi Saleh, sebagian yang lain enggan mematuhinya. Pada suatu hari, mereka bersepakat untuk membunuh unta Nabi Saleh.

Ada Sembilan orang yang bertanggung jawab dalam pembunuhan unta Nabi Saleh. Di antaranya adalah Qadar bin Salaf dan Mushra bin Muhraj.

Mushra melempar lembing yang kemudian mengenai kaki unta. Unta pun terjatuh. Kemudian, Qadar menyembelih unta tersebut dengan menggunakan pedangnya.

Kaum Tsamud bergembira dengan penyembelihan unta Nabi Saleh. Mereka sama sekali tidak mengkhawatirkan azab Allah, sehingga apa yang mereka takutkan pun terjadi.

Namun bukannnya mengiyakan, malahan kaum Tsamud meragukan perkataan Nabi Saleh tentang datangnya azab Allah.

Mereka justru menantang Nabi Saleh untuk mendatangkan Azab.

Wahai Saleh ! Datangkanlah azab yang telah kamu janjikan kepada kami sekiranya kamu benar-benar utusan Allah." kata kaum Tsamud.

Nabi Saleh sangat sedih membayangkan bencana yang akan menimpa kaumnya. Nabi Saleh berkata,

Bersukarialah kamu sekalian selama tiga hari sebelum azab menimpa kalian”.

Pada hari kamis, Allah menghujani mereka dengan batu-batu. Wajah mereka berubah menjadi kekuningan.

Pada saat itu, pengikut Nabi Saleh naik ke atas gunung untuk menghindari bencana.

Pada saat seluruh pengikut Nabi saleh berada di puncak gunung, tiba-tiba gunung menjadi tinggi menyentuh awan. Burung pun tidak mampu terbang mencapai puncak gunung.

Pada hari jumat, wajah kaum Tsamud yang ingkar berubah menjadi merah. Mereka menganggap bahwa hari pertama dan hari kedua merupakan kematian bagi mereka.

Oleh karena itu, pada hari ketiga mereka bersukaria. Mereka menganggap hari kematian mereka telah berlalu, padahal pada hari itu azab bagi mereka akan datang.

Pada hari itu, wajah mereka telah berubah menjadi hitam. Kaum Tsamud masih menunggu azab yang dijanjikan. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar yang sangat menakutkan dari langit.

Suara itu disertai dengan gempa bumi yang kuat. Demikian cepatnya mereka dihancurkan oleh Guntur itu.

Mereka hancur lebur oleh Guntur itu dan tanpa bekas. Seakan-akan mereka tidak pernah ada. Tidak seorang pun yang selamat dari azab Allah kecuali yang beriman kepada-Nya.

Subhanallah, sungguhlah sikap kaum Tsamud dalam kisah Nabi Saleh dan unta mukjizat tersebut bisa menjadi sebuah gambaran tentang pedihnya azab Allah SWT perihal perintah-Nya untuk setiap manusia.

Kemudian ada juga kisah Nabi Ishaq dalam al quran sebagai pemimpin bangsa isra'il, dimana merupakan nabi kesembilan yang diutus Allah SWT untk menjadi khalifah di bumi.

Kisah Nabi Ishaq dan Ringkasan Ulasan Mengenai Beliau

Kisah nabi saleh, kisah nabi ishaq, dan kisah nabi ilyasa / Pic source : jalandamai

Diketahui bahwa kisah nabi ishaq dan kaumnya dimulai dari kelahiran beliau, yang mana Nabi Ishaq sendiri adalah putra kedua Nabi Ibrahim setelah Ismail.

Ibunya bernama Sarah yang juga merupakan orang tua dari Nabi Yaqub.

Nabi Ishaq diutus untuk masyarakat Kana'an, khususnya di kota Hebron (al-Khalil), karena kaumnya tidak mengenal Allah.

Kisah Nabi Ishaq sangat sedikit diceritakan dalam Al-Qur'an, karena Nabi Ishaq disebutkan dalam Al-Qur'an hanya sebanyak 17 kali.

Nama Ishaq berasal dari bahasa Yahudi Yis.h.a-q yang berarti tertawa atau tersenyum.

Kata itu didapatkan dari ibunya, Sarah yang tersenyum tidak percaya ketika mendapatkan kabar gembira dari malaikat Jibril.

Sebelum kelahiran Ishaq, Sarah dan suaminya, Ibrahim, mendapat kabar gembira dari Allah melalui malaikat Jibril.

Dalam pesan itu malaikat Jibril menyampaikan bahwa Sarah akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ishaq yang kelak akan menjadi seorang nabi. Namun, Sarah tersenyum karena merasa heran dan aneh.

Dia merasa aneh karena tidak mungkin dia dan suaminya dapat memberi keturunan jika usia mereka sudah cukup tua, yaitu Sarah berusia 90 tahun dan Nabi Ibrahim 120 tahun.

Ishaq pun akhirnya terlahir di kota Hebron di daerah Kana'an pada tahun 1897 SM.

Ishaq merupakan anak kedua dari Nabi Ibrahim dan Sarah setelah Ismail. Bersama Ismail, ia mejadi penerus ayahnya untuk berdakwah di jalan Allah.

Ketika Ibrahim telah sangat tua, Ishaq belum juga menikah. Ibrahim tidak mengizinkan Ishaq menikah dengan wanita Kana'an karena masyarakatnya tidak mengenal Allah dan asing terhadap keluarganya.

Karena itu, Ibrahim memerintah seorang pelayan untuk pergi ke Harran, Irak dan membawa seorang perempuan dari keluarganya.

Perempuan yang dimaksud itu adalah Rafqah binti Batuwael bin Nahur, saudara Ibrahim yang kemudian dinikahkan dengan Ishaq.

Setelah 10 tahun Ishaq menikah dengan Rafqah, lahirlah dua anak kembar. Anak pertama diberi nama Al-Aish dan anak kedua Yaqub yang lahir dengan memegang kaki saudaranya.

Dari Ishaq-lah kemudian terlahir nabi-nabi Bani Israil. SAmpai akhirnya kisah tentang perjalanan menegakkan Islam oleh Nabi Ishaq yang meninggal pada tahun 1717 SM, pada usia 180 tahun.

Masyaallah, itulah sedikit tentang gambaran kehidupan masa lalu Nabi Ishaq as. Semoga dengan kisah penutupnya ini akan menambah kadar keimanan kita kepada Allah SWT pastinya.

Yakni dengan kisah Nabi Ilyasa alaihissalam yang juga luar biasa adanya.

Bagaimanakah cerita lengkapnya? Berikut yang bisa dipahami dalam ulasan ini.

Sejarah Nabi Ilyasa dan Mukjizatnya

Nabi Ilyasa adalah anak Akhtub bin ‘Ajuz, yang dijadikan anak angkat oleh Nabi Ilyas Alahissalam yang juga merupakan utusan Allah.

Meski merupakan anak angkat, namun dalam kisah Nabi, nama Nabi Ilyasa disebutkan terlebih dahulu dibandingkan Nabi Ilyas.

Adapun Ismail, Ilyasa, Yunus dan Luth, semuanya itu telah Kami berikan kepadanya kelebihan derajatnya di atas umat (di masanya)”. (QS. Al An’aam: 86)

Nabi Ilyasa merupakan putra dari paman Nabi Ilyas. Beliau mulai Melaksanakan dakwah setelah Nabi Ilyas wafat dan berpegang pada syari’at dan metode Nabi Ilyas.

Dalam riwayat ceritanya, Ilyasa telah membantu Nabi Ilyas sejak ia masih belia.

Saat Nabi Ilyas dikisahkan mengalami sakit, Nabi Ilyasa selalu mendampingi dan membantu menyembuhkan penyakit Nabi Ilyas.

Ilyasa menjadi sahabat Ilyas yang selalu mendampingi untuk menyeru ke jalan kebaikan, itupun ia tetap laksanakan usai Nabi Ilyas wafat.

Saat meneruskan dakwah, Nabi Ilyasa mengalmi kesulitan dimana kaum bani Israel mulai kembali kejalan yang sesat, padahal sebelumnya mereka berada dijalan ajaran Nabi Ilyas.

Namun meski mendapat penolakan terus menerus, Nabi Ilyasa tak pernah berhenti menyerukan jalan kebenaran hingga pada akhirnya Allah SWT memberi adzab kepada kaumnya berupa bencana kekeringan yang luar biasa.

Al Qur’an tidak banyak menceritakan tentang Nabi Ilyasa criters.

Hanya ada beberapa penjelasan  diantaranya: ”Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Q.S. Shaad : 48)

Nabi Ilyasa diriwayatkan masuk digolongan terbaik sebagai salah satu hamba Allah. Konon Nabi inilah yang disebut dalam kitab Taurat.

Nabi Ilyasa diriwayatkan diberi mukjizat oleh Allah untuk bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati.


Kisah nabi saleh, kisah nabi ishaq, dan kisah nabi ilyasa / Pic source : nu

Artikel pilihan : Kurma Sampai Tidak Kuat Menahan Tangisannya Karena Rindu Rasulullah SAW

Dalam riwayat lain mengatakan, Pada zaman Nabi lIyasa, umat Bani Israil hidup aman dan makmur, karena ketaatan mereka terhadap ajaran yang dibawa Nabi Ilyasa.

Hanya saja, Setelah Nabi Ilyasa wafat, umatnya kembali menjadi orang-orang yang durhaka kepada Allah.

Maka dari itu, Allah melenyapkan segala nikmat dan kesenangan hidup yang pada akhirnya mereka mendapat kesengsaraan. Selanjutnya pada zaman itu lahirlah Nabi Yunus Alaihissalam.

Astaghfirullah, jangan sampai kita menjadi seperti umat Nabi Ilyasa yang hanya patuh pada peraturan ketika ada hukum, dan bertingkah seenaknya saat dirasa belum ada efek negatif yang tercipta.

Semoga kita menjadi orang-orang yang mawas diri dan memperbaiki diri dari kemarin, untuk hari ini, esok, dan seterusnya.
Top