Tak Selamanya Komplain Itu Baik, Kisah Nyata Pria Ini Buktikan Terima Keadaan Malah Bawa Hoki

Komentar
Terima keadaan menyesakkan di bandara dan tak berniat komplain, pria ini akhirnya mendapatkan hal tak terduga seperti ini.


Apalah arti kita yang sering kali mungkin merasa semua harus berjalan dengan semestinya. Seringkali memang hal-hal yang tak berjalan pada tempatnya malah akan mempersulit kegiatan sehari-hari. Misalnya saja kita memesan ojek online tapi terlambat datang, atau barang yang hendak kita beli telah habis padahal sudah menunggu lama akan benda tersebut.

Also read : Sungguh Miris, Banyak Digilai, Tahukah Apa yang Kita Lakukan untuk Rambut Ini Malah Dilarang Islam?

Sehingga apa yang akan kita lakukan pertama kali jika mengalami hal tersebut adalah komplain dan merasa mereka bersikap tak adil kepada kita. Parahnya banyak yang meminta ganti rugi akan hal tersebut bahkan sampai berkali lipat.

Sungguh tak terduga memang, namun tahukah bahwa sebelum kita berniat komplain atas kesalahan mereka, maukah kita menyisihkan sebanyak mungkin ego dan berniat untuk menerima keadaan tersebut? Pasti banyak yang mengatakan "kok enak, nanti malah mereka yang kurang ajar. Nggak disiplin dan nggak menghargai kustomer".

Mungkin benar, tapi tahukah bahwa ketika kita menerima keadaan tersebut, bisa jadi malah akan banyak muncul kebaikan lain yang datang kepada diri kita?

Seperti kisah dari seorang pria yang mengaku sebagai Zia Ulhaq dalam akun Facebook pribadinya. Ia bercerita tentang sebuah kekuatan untuk menahan diri dan memaafkan keadaan. Berawal ketika dia tak mendapatkan kursi penumpang karena over booked, padahal dia telah memesan jauh hari, dan pada saat akan berangkat malah ia kena geser ke penerbangan yang lain.

Sontak, bagi siapapun yang menerima kejadian seperti itu pasti tak akan terima. Namun berbeda halnya dengan Zia yang malah tenang dan bersedia di pindahkan jadwalnya. Beberapa saat kemudian, hal tak terduga inilah yang terjadi kepadanya.

Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

The power of menahan diri dan memaafkan keadaan

"Mohon maaf seat pesawatnya penuh, Pak," kata petugas di counter check in Garuda sedikit gugup. "Saya antar ke kantor customer service ya, Pak, untuk bantu menjelaskan permasalahannya."

Saya melempar senyum, berjalan gegas namun tenang. Tak ingin menjadi bagian dari masalah, saya menunjukan sikap biasa yang tak sedikitpun menggambarkan kekesalan. "Tuhan tahu apa yang terbaik buat hambaNya," kata saya dalam hati.

Di kantor CS Garuda, petugas berambut ikal itu meminta maaf berulang kali dengan gerakan dan air muka yang begitu merendah. Saya katakan padanya, tidak apa-apa. Tak usah merasa bersalah. Tak perlu begitu merendah di depan manusia hanya karena sebuah ketakutan demikian. CS dan petugas counter bukan penjual tiket, tidak ada yang perlu dirasa salah.

"Iya, sekali lagi kami mohon maaf karena over booked sehingga terjadi kelebihan penumpang. Terimakasih banyak atas pengertian Bapak," katanya dengan senyuman. Dia begitu lega, begitu tenang mendapati saya yang tak melempar kata komplain sedikitpun. Bahkan saya tak menanyakan alasan over booked yang terjadi, karena semua sudah terjadi.

Kalau pun saya tahu alasannya, so what? Petugas itu hampir mengepalkan tangan kanan kirinya dan berkata "yes yes yes" seperti penggemar bola yang menyaksikan jagoannya membobol gawang lawan, saking ketakutannya terhadap customer ternyata tidak kejadian, dan tak perlu.

"Kami geser ke penerbangan berikutnya ya, Pak. Dari jam 6:40 ke Jam 8:55?"

Saya mengangguk dan tetap melemper senyum.

"Kami kasih cashback 600 ribu atas perubahan jadwal yang mendadak ini ya," lanjutnya. Saya menolak. Karena itu bukan hak saya. Tiket dibayar kantor, masa saya harus mengambil untung.

"Kami kasih seat di bussines class saja kalau begitu. Sebentar saya buatkan surat keterangan keterlambatan penerbangan, mungkin bisa bapak pakai untuk keperluan di kantor karena bapak mengalami keterlambatan."

Saya ditinggal sendirian di ruang tunggu kantor CS, saya menyibukkan diri dengan selfie kanan kiri atas bawah. Saya tetap chatting seperti biasa dengan Ifat -if tanpa berusaha membuatnya khawatir dengan adanya sedikit masalah. Saya tak mengkhabarkan perkara over booked.

Tak lama petugas datang dan memberi kejutan. "Bapak bisa ikut penerbangan sekarang, sesuai jadwal. Tetap mendapat Bussines Class karena barusan kami update, ada seat depan yang kosong." Saya menyalami petugas itu, saling memantulkan sorot mata yang memancarkan rasa saling senang dan saling tenang. YEAH!

Menikmati Bussines Class dengan bayaran Economy Class adalah gokil lalala yeyeye!

Saya menikmati fasilitas dan layanan yang diberikan tanpa rasa bersalah. Coba saya komplain, marah-marah, pas dikasih lebih pasti awkard lah. Malu kali, teriak maling tapi mengambil bagian dari hasil curian. Maaf kalau analoginya kurang pas, tapi hanya itu yang terlintas di kepala saat mengetik tulisan ini.

Kemarin malam juga ada kejadian mirip, loh!

Tiba di Hotel Aviary Bintaro, saya disuruh menunggu sebentar waktu oleh sang resepsionis karena kamar Deluxe yang dipesan kantor untuk saya sudah penuh, padahal dipesan dari minggu lalu. "Bapak terlambat sehari ya? Karena kemarin bapak gak datang, gak ada check in, kamarnya kami kasih ke penginap lain. Mohon menunggu ya Pak."

Santai aja. Gak ada yang dikejar ini.

Saya sedikit menjelaskan bahwa jadwal saya memang senin malam bukan minggu malam. Sebelum saya menunjukkan bukti email, sang petugas mengatakan keterangan saya benar. Mereka yang salah lihat, karena saking banyaknya orang se-perusahaan dengan saya menginap di situ.

Alhasil, saya dikasih kamar Premiere yang harganya dua kali lipat. Harusnya dapat kamar agak sempit, eh malah dapat kamar dua ruangan yang dilengkapi dapur dan ruang tamu. Saya pakai buat dancing gak jelas deh, sambil salto ke sana kemari.

Menikmati Premiere Room dengan bayaran Deluxe Room adalah gokil lalala yeyeye!


Also read : Cemas Produk Olahan Babi Banyak Beredar, BPOM: "Sekarang Semua Harus Ada Tulisan dan Gambar Penandanya"

Sungguh tak terduga bukan? Selain orang-orang akan memandang bahwa kita adalah orang yang arogan. Ternyata komplain juga bisa mengganggu kesehatan lho. Salah satunya adalah menghilangkan kemampuan otak kita untuk berpikir positif. Duh, jangan sampai ya.

Maka dari itu, jika mungkin saja hari ini dirimu mengalami hal seperti kisah tersebut, cobalah untuk berdamai dengan keadaan dan menahan diri sendiri. Siapa tahu hal tak terduga itu juga bisa kita rasakan.
Top