Seperti 6 Cara Mengajari Anak Bersyukur Dengan Berbagai Edukasi

Komentar


Sudah menjadi kesadaran setiap mahluk yang di ciptakan allah, apabila kita bersyukur atas nikmat allah pasti allah akan menambahkan nikmatnya, Namun apabila kita kufur sungguh azab allah sangatlah pedih.

Dasar aqidah yang menjadi menu pokok bagaimana mengajarkan bersyukur kepada anak-anak. Mendidik anak bersyukur bukan sekedar mengajarinya berterima kasih. Menyadari anugerah Allah yang tidak terhitung, terutama anugerah potensi diri, adalah nikmat yang tidak boleh didustakan.

Apa yang perlu dilakukan untuk mengajarkan anak bersyukur? Semoga tips di bawah ini membantu kita memulainya. Sebagaimana “watak” sebuah tips, ia adalah panduan ringkas untuk menuntun sikap dan langkah agar lebih mudah mempraktikkannya. Dapat mengembangkan tips di bawah ini sesuai kebutuhan dan situasi di lingkungan kita seperti yang dikutip dari majalahummi.

1. Bukan hanya memerintah, jadilah teladan


Membangun tata nilai dan akhlak selalu diawali dengan merubah diri menjadi sosok yang dapat diteladani. Menjadi teladan yang baik (uswatun hasanah), sebagaimana metode Rasulullah membimbing kita, dipastikan sangat kuat pengaruhnya pada anak. Teladan dalam hal apa? teladan bagi anak-anak bahwa orang tuanya adalah orang yang bersyukur dan mensyukuri apa yang ada. Saran ini sangat mudah diucapkan tetapi menjadi sangat berat ketika kita sedang berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan.

Mengingat begitu mudahnya kita mengeluh, mencaci, mengkritik – maka sebelum mendidik anak agar mau bersyukur – seyogyanya kita mulai membiasakan diri mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita. Artinya, mata pandang kita harus selalu menangkap kebaikan-kebaikan anak. Misalnya, “Terima kasih, kakak sudah meletakkan sepatu di tempatnya.” Atau, “Alhamdulillaah, adik bangun pagi ya.”

2. Mengajarkan sikap bersyukur dengan simulasi atau permainan



Saya pernah mengajak anak-anak di Rumah Ngaji Al-Syahidy bermain tema syukur. Mereka duduk melingkar. Setiap anak menemukan satu kebaikan teman di sebelah kanannya yang pernah dilakukan kepada dirinya. Kemudian setiap anak menyampaikan kepada teman di sebelah kanan dengan ungkapan: “Terima kasih Ani. Kamu pernah membelikan aku kue.” Ani menjawab, “Sama-sama.” Lalu ganti Ani mengucapkan terima kasih kepada teman di sebelah kanannya atas pertolongan atau perbuatan baik yang sudah diterimanya.

Atau kita bisa membuat simulasi sederhana tentang makanan, mengingat anak-anak (atau kita sendiri) begitu mudah mencela makanan. Simulasi ini bisa diterapkan saat berkumpul makan bersama. Nasi yang ada dihadapan kita bisa dijadikan bahan simulasi. Caranya, kita ajak anak-anak berfikir ke belakang, setahap demi setahap, melacak perjalanan sang nasi sampai ia tersaji di depan kita. Kesadaran moralnya adalah makanan yang terhidang di depan kita melibatkan banyak sekali bahan dan jerih payah, yang diproses sangat panjang dan bahkan penuh pengorbanan. Di tengah suasana yang santai dan rileks simulasi ini bisa menyegarkan obrolan bersama keluarga. Dan yang terpenting, anak-anak tidak suka mencaci makanan lagi.

3. Mengajak anak menulis ungkapan terima kasih


Prakteknya sederhana, Anak menulis surat terima kasih kepada ayah atau ibu, kakek-nenek atau orang terdekat lainnya. Momen spesial seperti Hari Raya idul Fitri, hari Ibu, atau saat ia menerima hadiah dari anggota keluarga lainnya jangan dilewatkan begitu saja. Ajaklah anak mengungkapkan rasa syukurnya dengan menulis surat atau cerita.

Bagaimana dengan anak yang belum bisa menulis? ada banyak cara, diantaranya kita minta ia mewarnai gambar bertema terima kasih. Seraya kita sampaikan padanya bahwa usai mewarnai akan kita berikan gambar ini pada seseorang sebagai ungkapan terima kasih.

Mengapa kita melakukan semua itu? prinsip dasarnya adalah siapa tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak berterima kasih kepada Allah.

4. Menikmati memberi kepada sesama


Di tengah kebiasaan anak menyampaikan daftar tuntutan yang harus dipenuhi orang tua, kita coba membalik arah. Mengapa kita tidak mengajak anak memberi apa yang sedang dibutuhkan orang lain? Kegiatan beramal bersama anak yang dirancang sebelumnya memberi manfaat ganda: sejak awal anak terlibat proses beramal dan ini kesempatan menanamkan kesadaran bahwa beramal atau memberi pada orang lain adalah aktivitas yang menyenangkan.

Merancang bersama kegiatan memberi merupakan cara ampuh bagi anak-anak untuk menyadari keberlimpahan hidup yang patut disyukuri.

5. Menulis nikmat dalam sehari


Meskipun kita tidak akan mampu menghitung nikmat dan anugerah Allah, bukan berarti mengidentifikasi apa yang sudah dilimpahkan Allah sama sekali tidak penting. Justru sebaliknya, dibutuhkan kepekaan dalam setiap momen untuk menyadari anugerah Allah Swt. Bahkan di tengah musibah pun tetap ditemukan nikmat anugerah. Bersama hadirnya kesulitan pasti diiringi oleh kemudahan.

Menyadari anugerah – bahkan dikala duka – mengapa tidak diajarkan kepada anak? caranya adalah anak menulis nikmat atau anugerah yang dia alami hari itu di buku hariannya. Manfaat aktivitas ini sungguh banyak sekali. Anak makin terbiasa dan terlatih merespon hal-hal positif yang dialaminya. Dengan demikian, secara perlahan, anak akan memiliki mental dan pikiran positif. Bukankah hanya mereka yang bersangka baik pada Allah yang gemar bersyukur?

6. Mengatakan “tidak” meskipun kita bisa “meng-iya-kan”


Dengan kata “tidak” kita bisa mengajarkan mereka bersyukur. Maksudnya, tidak setiap permintaan anak kita “iya-kan”. Ada kalanya permintaan itu kita jawab “tidak”. Permintaan yang selalu dituruti justru bisa mematikan: mematikan kepedulian, mematikan kesabaran, mematikan kepekaan. Matinya nilai-nilai dasar yang menjadi pondasi bagi terciptanya kemauan bersyukur.

Untuk bersikap “tidak”, kita harus berpikir jernih. Kita katakan “tidak” tatkala anak menuntut permintaan demi memuaskan keinginannya. Sedangkan untuk permintaan yang memang dibutuhkannya tentu kita katakan “ya”. Lantas apa kaitan semua itu dengan mengajarkan anak bersyukur? mensyukuri apa yang ada jauh lebih bermakna daripada mengangankan yang belum ada. Yang kita miliki, sekarang ini, disini, itulah yang perlu disyukuri. Wallahua’lam.
Top