Penting Untuk Pemuda, Bukanlah Tentang Hasil, Namun Bagaimana Menjalani Prosesnya

Komentar

Jangan hanya melihat bagaimana keberhasilan itu, tapi tengoklah usaha yang telah dilakukan. Bagaimana bisa begitu?

Entah sadar atau tidak, ternyata hari-hari kita selalu diliputi dengan beragam keinginan dan angan-angan, timbul silih berganti tidak pernah hilang, semakin hari semakin bertambah, karena inilah sebenarnya yang dinamakan dengan tabiat manusia. Potensi “tidak puas” adalah sifat dasar yang selalu melekat dalam diri kita.

Ulasan terkait : Seminggu Dibacakan Al-Quran, Apel Bisa Jadi Begini, Lantas Bagaimana dengan Badan Kita?

Munculnya keinginan erat berhubungan dengan adanya ketidak puasan, Allah SWT berfirman: “ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” (Qs. al Maarij: 19). Kalau kenyataanya demikian, bagaimanakah Islam menyikapi sifat dasar yang melekat dalam diri setiap manusia ini?

Keinginan dan angan-angan di sini sifatnya universal, mencakup cita-cita dan harapan. Seorang pedagang berkeinginan sukses dalam berbisnis, stok dagangannya laku kemudian meraup keuntungan, komunitas pelajar berharap lulus saat ujian sehingga cita-citanya dapat tercapai.

Para pemikir yang berangan-angan mewujudkan tatanan sosial masyarakat yang damai sejahtera agar tercipta baldatun thayibah wa rabbun ghafur (gemah ripah loh jinawi). Ujung dari semuanya akan berhubungan dengan “keberhasilan” atau “kegagalan (predikat berhasil atau gagal)”.

Maka dari itulah setiap manusia yang ingin berhasil dalam mencapai keinginan baiknya dalam hidup, pastilah harus mempunyai sifat yang tak mudah menyerah, serta selalu membina harapan dan juga membina usaha. Membina adalah membangun. Karena begitulah asal katanya dalam bahasa Arab, ‘bina’ artinya membangun. Sebagaimana pembina, maka sudah sepatutnya kita memperhatikan unsur-unsur dan prosesnya dalam membangun.

Perlu takaran pas dan sentuhan khusus pada setiap bagiannya. Untuk itu kita harus bersabar. Inilah perjuangannya.

  • Jika berat, itulah jalannya.
  • Jika lama, itulah sifatnya.
  • Jika terancam hancur, itulah tantangannya.

Karena akhir yang indah akan kita tuai manakala kelak mereka dapat berdiri tegak mandiri tanpa perlu kita sangga lagi.


Ulasan terkait : Jangan Terburu Menyesal, Inilah Bagaimana Dirimu Ketika Terlanjur Jatuh Kepada Cinta yang Salah

Meski terkadang faktor penghancur datang karena hal kecil yang mudah dan terkesan sepele. Pun begitu, nikmati saja setiap prosesnya. Jika hancur, bangun lagi. Hancur, bangun lagi.

Pada akhirnya kita hanya perlu bersabar dan mengingat: kita dituntut untuk berusaha, bukan berhasil. Jika berhasil karena usaha itu mulia. Namun jika tidak, itu tidak akan mengurangi kemuliaan kita atas usaha kita dalam membina.

Dan katakanlah; bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu” (Qs. at Taubah: 105), spirit berusaha dan berikhtiar terkandung dalam ayat ini. perintah untuk bekerja artinya perintah untuk berusaha keras dalam menggapai suatu tujuan baik duniwai maupun ukhrowi.

Berusaha adalah langkah pertama yang harus dijadikan pijakan seorang muslim dalam meraih sejuta impian dan harapan, tanpa unsur “usaha” jangan berharap orang akan bisa mewujudkan keinginannnya. Man jadda wajada.
Top