Baca 2 Surat Ini Di Pagi Dan Petang Untuk Membentengi Rumah Dari Gangguan Jin Atau Suara-suara Halus di Malam Hari

Komentar


Setan adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang telah berjanji akan menggoda dan menyesatkan manusia. Setan mengerahkan segala kemampuannya untuk menyesatkan manusia dengan berbagai cara agar manusia terjerumus ke dalam api neraka sebagai teman setan.

Ada beberapa cara untuk menghindari godaan setan yang terkutuk, salah satunya yaitu dengan membaca bacaan Al-Qur’an. Surah apa yang dapat menghindarkan kita dari godaan setan?

Al-Qur’an merupakan kumpulan firman Allah SWT sebagai pedoman hidup manusia dan ternyata ada beberapa surat dalam kitab suci ini yang dapat digunakan untuk mengusir setan yang selalu menggoda manusia agar terjerumus dalam lembah dosa.

Manusia memiliki musuh, baik dari dirinya sendiri maupun dari lingkungan sekitarnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya setan mengalir dalam pembuluh darah anak Adam.” (HR. Muslim no. 2173)

Oleh karena itu, setiap hari manusia berada di medan peperangan, melawan musuh dalam dirinya. Hanya ada dua kemungkinan: menang atau kalah.

Ketika dia marah, pembuluh darahnya melebar sehingga setan pun leluasa menguasainya. Tatkala dia lalai dari dzikrullah, setan pun menguasainya, begitu pula sebaliknya.

Musuh manusia dari lingkungan sekitarnya lebih beragam. Musuh ini bisa berupa benda mati, hewan, kegelapan malam, bangsa jin[1], dsb. Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya n telah mengajarkan kepada hamba-Nya cara membentengi diri dan melawan musuh-musuh tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Fushshilat: 36)

Salah satu cara membentengi diri adalah membaca surat al-Falaq dan an-Nas. Kedua surat ini dikenal dengan sebutan al-Mu’awwidzatain (dua pelindung) karena diamalkan untuk berlindung dan membentengi diri.

Keutamaan al-Falaq dan an-Nas


Di antara keutamaan-keutamaannya adalah sebagai berikut.

Tidak ada surat yang menyerupainya-yang digunakan untuk beristi’adzah (minta perlindungan)—di dalam Taurat, Injil, bahkan al-Qur’an. Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ : قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ و قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

“Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini? Tidak ada yang semisal dengannya sama sekali. Ayat-ayat tersebut adalah surat Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbin nas.”

Keduanya membentengi diri dari penyakit ‘ain (penyakit akibat pandangan yang berbahaya, baik pandangan bangsa jin maupun manusia).

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam beristi’adzah dari penyakit ‘ain, baik dari bangsa jin maupun manusia.

Membacanya dapat menghilangkan rasa sakit. Diriwayatkan oleh al-Imam Malik dengan sanad yang shahih, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, apabila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam merasakan sakit, beliau membaca al-Mu’awwidzatain dan meniupkannya pada kedua telapak tangan kemudian mengusapkannya pada daerah yang sakit.

Surat al-Falaq dan an-Nas menjadi benteng ketika seseorang bermalam (tidur). Caranya disebutkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, yaitu dengan menggabungkan kedua telapak tangan, meniup pada keduanya, kemudian membaca pada keduanya surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas. Setelah itu, kedua telapak tangan diusapkan ke badan, dimulai dari kepala dan wajah, hingga anggota badan yang bisa dijangkau. Hal ini dilakukan tiga kali. (HR. al-Bukhari no. 5017 dan Muslim no. 2192)

Kedua surat ini termasuk surat yang paling sering dibaca, sebagai zikir pagi dan zikir petang, bacaan surat dalam shalat, dan yang telah disebutkan di atas.

Faedah

Akidah manusia mengenai jin dan setan berbeda-beda.

Meyakini bahwa jin dan setan itu ada, tetapi mereka tidak punya pengaruh terhadap badan kita. Begitu pula sihir, penyakit ‘ain, dan pendengki, tidak mempunyai pengaruh terhadap badan kita.

Mengingkari keberadaan jin dan pengaruhnya terhadap kita, dan menganggap semua itu sebagai khayalan manusia belaka.

Dua pendapat di atas adalah pendapat yang menyimpang.

Adapun ahlul haq menetapkan adanya jin dan setan sekaligus pengaruhnya, sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah menyebutkan sifat dan kejelekannya.

[1] Perbedan jin dan setan adalah dari sisi keumuman dan kekhususan. Jin adalah umum; ada yang saleh dan ada yang thalih (lawan kata saleh). Adapun setan lebih khusus; dia jin yang thalih. Iblis la’natullah ‘alaih (laknat Allah atasnya) adalah bapak para setan.
Top