Ingin Berbagi Kepada Anak, Awas Dampak Mengerikan Angpau yang Sering Disepelekan


Siapa sih yang tidak suka diberi angpau lebaran? Sepertinya hampir semua orang suka ya diberi angpau lebaran. Kalau saya sih langsung berteriak, “Saya suka! Saya Suka!”.

Di Indonesia, salah satu kegiatan yg dilakukan kaum muslim dalam merayakan Lebaran adalah dengan melakukan salam tempel, yakni memberikan amplop berisi uang dengan jumlah tertentu, yang dilakukan oleh orang yg lebih tua atau lebih mampu kepada orang yg lebih muda (mayoritas penerimanya anak2 berusia 6-12 tahun).

Artikel pilihan : Mempersoalkan Ucapan Hari Lebaran, Benarkah "Minal Aidin Wal faizin" Bukan dari Rasulullah?

Pemberian amplop dilakukan pada saat anak-anak tersebut bersalaman kepada pihak yg lebih tua, pada saat si anak mengulurkan tangan maka pihak yg lebih tua menggenggam amplop dan menempelkannya ke tangan si anak disusul dengan diciumnya tangan orang yg lebih tua oleh si anak.

Oleh karena itulah, anak-anak bisa dikatakan orang paling bahagia dan mendadak kaya raya saat lebaran. lantas, Apakah keberadaan angpau lebaran patut diwaspadai? Ternyata selain harus waspada, orang tua juga harus cerdas dalam mengambil solusi.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diwaspadai terkait angpau lebaran anak-anak beserta solusinya.

1. Kesalahan presepsi mengenai nilai mata uang


Bagi anak yang belum mengerti nilai uang, menghitung jumlah biasanya hanya dari banyak lembarannya saja. Uang 2 ribu sebanyak 5 lembar kan lebih banyak dari pada uang 10 ribu sebanyak 1 lembar. Jadi semakin tebal lembaran yang didapat bisa diartikan itu lebih banyak.

Hal seperti ini mungkin bisa dijadikan pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal nilai mata uang, terutama bagi anak usia TK. Sederhananya kita bisa membantu melalui warna mata uang dan angka atau gambar yang tertera pada uang.

2. Tingkat konsumerisme anak menjadi lebih tinggi.


Hal ini tidak dapat dihindari lagi karena uang yang diperoleh anak-anak jauh lebih besar dari uang jajan harian mereka. Alhasil anak-anak kalap dan ingin membeli segala rupa mulai dari makanan, mainan, bahkan mungkin dipakai untuk hal-hal yang bagi orang tua dianggap tidak penting. Anak-anak menganggap itu uang mereka ya bagaimana mereka.

Jika hal diatas terjadi, coba beri pengertian kepada anak mengenai skala prioritas, sifat hemat, aktivitas menabung serta  beramal. Dengan skala prioritas anak belajar memanfaatkan uang yang diperoleh untuk keperluan sangat penting terlebih dahulu. Jangan lupa bantu anak untuk menentukan hal apa yang termasuk keperluan sangat penting beserta budgetnya. Jika ada lebihnya arahkan anak untuk menabung dan beri pengertian bahwa tabungannya akan bermanfaat kelak. Jangan lupa juga untuk mengingatkan pentingnya beramal dan beri pengertian bahwa di dalam rezeki kita juga ada rezeki orang lain.

3. Terjadi kecemburuan antar satu anak dengan yang lainnya


Moment yang paling seru biasanya saat menghitung angpau lebaran yang didapat. Antara satu anak dengan yang lain saling membandingkan jumlahnya dan tak jarang  terjadi kecemburuan. Padahal perbedaan jumlah juga terkadang terpengaruh dari usia sang anak. Misalnya jumlah yang diberikan kepada anak SD lebih kecil dari yang diberikan kepada anak usia SMP. Maksudnya sih supaya adil, tapi anak-anak menangkapnya lain.

Solusinya adalah biasakan anak untuk mengetahui kebutuhan sesuai usianya. Anak usia SD keatas biasanya sudah bisa diberi pengertian. Pengertian ini sebaiknya disampaikan secara perlahan dan bertahap dan tidak hanya pada saat lebaran. Pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari akan terbawa pada saat suasana lebaran.

4. Anak menjadi penagih atau meminta


Karena kegiatan berbagi angpau lebaran ini pada umumnya dilakukan rutin setiap tahun, maka anak-anak yang pernah mendapatkan angpau lebaran di tahun sebelumnya berani menagih atau meminta angpau kepada orang yang tahun sebelumnya memberi mereka. Mungkin kita bisa saja memaklumi tingkah polah anak tersebut. Tapi akan lebih baik jika anak-anak diingatkan untuk tidak melakukan hal tersebut.

Selain kurang sopan, anak-anak juga sebaiknya diberi pengertian bahwa kebiasaan meminta sebaiknya dihindari. Angpau lebaran adalah rezeki yang diperoleh dari Alloh melalui orang yang memiliki kelebihan rezeki. Kondisi tersebut tidak akan sama setiap tahunnya. Maka dari itu bersyukurlah jika mereka mendapatkannya dan jangan meminta atau menagih jika mereka tidak diberi.

5. Anak menjadi ketakutan uangnya hilang


Saking senangnya mendapatkan uang banyak dan banyak rencana yang mereka pikirkan mengenai penggunaan unag yang didapat, anak menjadi takut uangnya hilang atau berkurang. Bagi yang sudah mengerti nilai uang, kurang sedikit saja pasti mereka tahu. Sedangkan bagi yang belum mengerti nilai uang tapi sudah mengerti warna uang, hilangnya 1 warna uang pun mereka akan tahu. Tidak percaya? Nanti bisa dibuktikan sendiri ya.


Artikel pilihan : Sering Tukar Uang Saat Lebaran? Hati-hati, Jangan Sampai Dosa Zina Ini Ikut Engkau Amplopkan

Hal ini bisa diatasi dengan orang tua menawarkan bantuan sebagai agen penitipan uang. Yakinkan anak bahwa dengan dititipkan pada orang tua uang mereka aman. Selain membuat anak-anak tenang, orang tua juga bisa memantau arus keluar masuknya uang angpau lebaran.

6. Angpau lebaran dipakai oleh orang tua


Hal ini mungkin jarang terjadi… tapi dapat saja terjadi kan . Ada kalanya orang tua meminjam angpau lebaran yang dititip sang anak karena keperluan mendesak. Biasanya sih ya, kondisi uang yang masih baru, halus dan kinclong membuat orang tua tergoda untuk memakainnya terlebih dahulu untuk berbagi kepada anak lain.

Jika memang niatnya meminjam, tolong dikembalikan ya, mari menjadi orang tua yang amanah atas kepercayaan anak-anak kita.

Nah, itu dia beberapa serba-serbi tentang bahaya angpao yang sering tak diketahui oleh para orang tua. Pahami dengan bijak dan jangan sampai anak menjadi seperti hal di atas agar mereka mampu mengerti tentang bagaimana cara memegang dan mengelola uang dengan baik.
Top