Bijaklah Dalam Bersikap Ketika Keuanganmu Sedang Jatuh Bangun

Penulis Cang Karna | Ditayangkan 09 Mar 2017

Bijaklah Dalam Bersikap Ketika Keuanganmu Sedang Jatuh Bangun

Yang namanya kondisi keuangan keluarga itu tidak bisa diprediksi secara pasti alias tepat 100 persen. Ada kalanya pemasukan biasa aja, tapi pengeluaran rutin sedikit, sehingga saldonya banyak (surplus). Ada kalanya pemasukan banyak, tapi pengeluaran rutinnya juga banyak bahkan lebih banyak daripada pemasukan, alhasil kondisi keuangan pun bisa defisit. Yang paling enak sih pemasukan banyak, pengeluaran sedikit ya.

Ada juga yang pemasukan dan pengeluarannya stabil, tapi tiba-tiba perusahaan tempat bekerja melakukan pengurangan karyawan dimana kita/pasangan juga menjadi salah satu korbannya. Nah. Kejadian-kejadian di luar rencana seperti ini bisa mempengaruhi keharmonisan keluarga jika tidak pandai-pandai menyikapi. Lantas, kita harus bagaimana?


Saat pemasukan banyak dan pengeluaran masih sedikit, jangan abaikan investasi

Gunakan kondisi ini untuk berinvestasi yang sifatnya jangka panjang entah itu dalam bentuk tanah (yang nanti bisa dibangun rumah), logam mulia (kalau ini sifatnya lebih untuk menjaga nilai mata uang), rumah (bisa diwujudkan saat mendapat bonus tahunan misalnya), atau investasi jangka panjang lainnya.

Sisihkan dana cadangan

Dana cadangan tidak perlu banyak-banyak, sesuaikan saja dengan kondisi. Misal, sehari menyisihkan Rp10.000,00 dan tidak diambil-ambil. Maka dalam jangka waktu setahun, uang yang terkumpul sudah Ro3.650.000,00. Uang senilai tersebut jika dikonversi ke logam mulia bisa dapat sekitar 5 gram (dengan asumsi 1 gram 500ribu lebih) & itu pun masih ada sisa sekitar 1,1jutaan. Itu artinya, setidaknya kita bisa menabung dana cadangan senilai 5 gram emas per tahun. Lakukan secara rutin dan sabar. Lihat hasilnya nanti.

Istri membantu suami? Mengapa tidak jika memang diperlukan

Istri membantu suami ini bentuknya juga beragam, tentu disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Menghemat pengeluaran dan enggak neko-neko  juga termasuk membantu suami. Setidaknya suami tidak akan pusing memikirkan gaya hidup istrinya yang menguras kantong. Atau punya usaha di rumah (menulis, bisnis online, mengajar privat, memasak, dll) juga bisa dilakukan.

Istri membantu suami bukan berarti mengecilkan peran suami, tentu bukan. Toh suami yang bertanggung jawab (dan bukan suami pemalas) pasti akan makin semangat bekerja ketika tahu istrinya seperti itu.

Jangan lebay bergaya hidup alias biasa aja

Biasanya, orang yang sudah terbiasa dengan standar tinggi atau gaya hidup wah akan syok ketika diminta mengubah perilaku saat kondisi mengharuskannya begitu. Misal orang yang sudah terbiasa naik mobil merasa enggak nyaman ketika harus naik angkutan umum. That's why bergayahiduplah biasa saja walaupun serba ada. Naik kendaraan pribadi, yuk. Naik kendaraan umum juga enggak masalah. Pun untuk hal lainnya.

Jangan sembrono atau menggampangkan

Kita tidak selamanya muda, tidak pula selamanya sehat. Gunakan 5 waktu sebelum datang 5 waktu yang lain. Nasihat tsb juga bisa berlaku dalam hal mengatur keuangan keluarga. Ketika berada di titik enak, jangan mudah tergoda untuk menghabiskannya dengan hal-hal konsumtif.
SHARE ARTIKEL