Tak Hanya Menyatukan Dua Hati, Menikah itu Janji untuk Berani Mengalah



Membangun sebuah biduk rumah tangga memang bukan hal yang mudah. Tapi kalau sudah ada niatan, segalanya bisa jadi mudah kok, apalagi kalau sudah sepakat menjalin komitmen. Sebetulnya ada banyak petuah dan nasehat dari orang tua yang sering kita dengar tentang menikah. Namun, banyak dari kita yang justru semakin mendengar cerita tentang pernikahan, rasanya semakin takut dan belum siap untuk benar-benar masuk ke jenjang yang nggak main-main itu.

Tentang sebuah komitmen serius yang nantinya akan membawamu pada perubahan besar dalam hidup, berikut gambaran yang dikutip dari hipwee bahwa menikah adalah sebuah seni mengalah. Ya, dengan menikah, kamu juga harus berani mengalah. Mengalah untuk apa?

Mengalah bukan berarti kalah, mengalah justru untuk mempertahankan kapal yang sedang berlayar agar tak karam


Mengalah bukan berarti kalah via www.pexels.com

Menikah bisa diibaratkan seperti sedang mengarungi samudra yang sangat luas. Jika cuaca bagus, perjalanan akan sangat menyenangkan. Tapi, saat badai tiba-tiba datang, pertahanan harus dilakukan agar kapal tak karam dan penumpang selamat. Ada kalanya pernikahan dibumbui pertengkaran kecil yang membuat kapal menjadi goyah. Meski kadang akar dari masalah belum juga jelas terlihat, mengalah untuk lebih dulu meminta maaf bisa menjadi jurus jitu untuk meredakan badai. Dari situlah, saat kepala sudah lebih dingin, permasalahan akan lebih mudah untuk diatasi.

Menikah berarti terikat. Mengalahlah pada keegoisan diri bahwa ada tanggung jawab baru yang sudah seharusnya dipenuhi



Ada tanggung jawab baru via www.pexels.com

Menikah berarti terikat. Bukan maksudnya mengekang, tapi ada tanggung jawab baru yang sudah seharusnya untuk dipenuhi. Wajar jika waktu tak lagi sebebas dahulu. Tapi, bukankah menyenangkan menghabiskan waktu bersama keluarga kecil yang sedang mulai kamu bangun? Mengalahlah pada waktu yang entah sampai kapan akan kamu miliki. Sebelum kelak menyesal menjadi kata yang selalu menghantuimu.

Romantisme pernikahan bisa terjadi saat sekadar mengalah untuk membagi makanan menjadi dua; kamu yang banyak, aku yang sedikit


Nih, kamu yg banyak via stylesweekly.com

Suatu hari, seorang teman berujar bahwa suaminya selalu memberikan potongan roti dengan bagian lebih besar untuknya, sedangkan yang kecil untuk sang suami sendiri.
“Kenapa kalau makan roti berdua, kamu selalu kasih bagian yang lebih besar untukku?”
“Karena kamu lebih butuh itu, kamu ‘kan yang lagi menyusui anak kita, sayang.”

Mengalah juga tidak sama dengan pengecut. Karena dari situlah akan timbul rasa saling menghargai


Akan timbul saling menghargai via www.indiaearl.com

Mengalah tidak sama dengan pengecut atau didasari rasa takut dengan pasangan. Justru, dari berani mengalah inilah, akan timbul rasa saling menghargai. Kamu akan makin mencintainya dengan sangat karena seringnya ia untuk mengalahkan egonya sendiri demi pernikahannya yang baru dijalani seumur jagung ini. Tak ada rasa yang pas selain membalasnya dengan kasih dan sayang karena mengalah memang tak mudah, tapi dia berani melakukannya.

Tapi, mengalahlah dengan tegas!


Mengalahlah dengan tegas via www.shutterstock.com

Mengalah bukan berarti tanpa pegangan kemudian sudah. Ada yang harus dilakukan agar mengalah tak lalu menjadi senjata yang lemah. Mungkin kamu memang meminta maaf duluan, tapi bicarakan baik-baik setelahnya apa yang menjadi akar dari permasalahan tadi. Dari situlah mengalah akan menjadi berarti.

Ya, tak ada yang instan jika akan mendapatkan sesuatu yang besar. Mengalah memang tak mudah, tapi, belajar dari kebiasaan bisa kamu terapkan untuk hal ini. Karena tak ada hasil yang mengkhianati usaha, kamu akan rasakan sendiri bahwa menikah adalah sebuah hal yang luar biasa dan mengalah adalah salah satu kunci untuk membuatnya menjadi semakin bermakna.
loading...
Top
loading...