Bagaimana Wudhu Kita Jika Tangan Terkena Lem dan Susah Hilang?


Bagaimana wudhu kita jika ada bagian kulit yang seharusnya terkena air kotor dari lem?

Bagaimana jika kita mengelem sesuatu dan lem terlanjur menempel di tangan. Sudah susah payah dibersihkan, namun saat tiba waktu shalat belum bisa hilang juga.

Dikutip dari Konsultasisyariah, diantara yang harus diperhatikan ketika wudhu, air harus mengenai permukaan kulit anggota wudhu. Karena itu, dua hal yang harus dilakukan sebelum wudhu,

Pertama, jamin keselamatan anggota wudhu, jangan sampai tertempel benda yang sulit dihilangkan.

Kedua, bersihkan lem  itu jika tertempel di anggota wudhu, semampu yang bisa kita lakukan.

Baca Juga: Apakah Islam Arab?

Imam Ibnu Utsaimin ditanya tentang lem yang sulit dibersihkan, jawaban beliau,

أولاً: ادفع، بمعنى: قبل أن تستعمل هذا الغراء اجعل على يدك قفازين من البلاستيك، فما دمت تعرف أنك سوف تمارس هذه المهنة فاجعل قفازين من البلاستيك، وهذه تمنع أن يعلق بك شيء من هذا الغراء.

Pertama, jauhkan, maksudnya, sebelum memakai lem ini, gunakan sarung tangan plastik. Ketika hendak menangani pekerjaan ini, gunakanlah kaos tangan dari plastik. Ini akan menghalangi ada lem yang menempel.

ثانياً: إذا قدر أنك لم تلبس القفازين فهل الغراء لا يذوب بأي شيء، أم له أشياء تذيبه؟ له أشياء تزيله وهو البنزين أو القاز ـ الكيروسين ـ لكن ذكر لي بعض الناس: أن بعض الغراء لا يزيله بنزين ولا قاز، وأنه لا يذهب إلا إذا ذهب شيء من الجلد معه، فمثل هذا لا تلزم إزالته، ويكفي أن يمر عليه الماء، وإن حصل أن تمسحه مع مرور الماء عليه فهذا أحسن

Kedua, ketika anda tidak memakai sarung tangan, apakah lem yang menempel tidak bisa dihilangkan ataukah tidak bisa dihilangkan?

Jawabannya, bisa dihilangkan, dengan bensin atau minyak tanah.

Hanya saja, ada sebagian orang yang menyampaikan informasi kepada saya, ada beberapa lem yang tidak bisa dihilangkan dengan bensin maupun minyak tanah. Lem ini bisa hilang jika permukaan kulit mengelupas. Lem semacam ini, tidak wajib dihilangkan. Cukup menyiramkan air ke permukaanya. Jika diusap sambil disiramkan air di atasnya, ini lebih baik.

(al-Liqa as-Syahri, 5/67).

Allahu a’lam.
Top