Ceramah Uje Tentang Kadaluarsa Sebelum Wafat, Sudahkah Kamu Mengenal Waktu?


Siapa yang tak mengenal ustadz Jefri Al-Buchori yang banyak sekali penggemar karena selain pandai berdakwah, juga karena ketampanannya hingga sering menghiasi acara di televisi. Akan tetapi, ustadz yang kerap dipanggil Uje tersebut kini telah meninggalkan kita, yakni tepatnya pada beberapa tahun lalu, dalam usia yang masih sangat muda yakni sekitar 40 tahun. Suami Pipik Dian Irawati itu meninggal karena tragedi kecelakaan.

Baca juga : Matahari dan ABG Masa Kini, Apa Hubungannya? Simak Agar Kehidupanmu Tak Sia-Sia!

Meskipun beliau telah menghadap pada sanga pencipta terlebih dahulu, ketahui bahwa semua hal baik darinya masih tetap dikenang hingga saat ini. Beliau yang sangat mencintai agama, keluarga, dan penggemarnya ini kerap kali mengingatkan untuk senantiasa memperbanyak ibadah dan memohon pengampunan kepada Allah SWT. Seperti pada suatu waktu, sebelum ajal menjemputnya, ustadz gaul tersebut pernah bercerita tentang makna kematian dan segala persiapannya.

Penasaran seperti apa ceramah Uje? Berikut ceramah singkat beliau untuk umat muslim agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Bicara soal mati itu, kadang-kadang yang muda itu jadi sombong.  Yang muda hanya berpikir yang mati hanya yang tua. Karena cara berpikirnya adalah cara berpikir logika.  Kalau logika ya seperti itu cara berpikirnya.  Logika kan bicara, mangga muda atau mangga tua yang dipetik?  Yang sering dipetik mangga tua. Jadi siap-siap yang tua.

Sekarang timbul lagi pertanyaan logika. Kelapa muda atau tua yang dipetik? Semua rata-rata kelapa muda yang dipetik. Jadi yang muda juga harus siap-siap.

Artinya dari sini digambarkan urusan mati nggak memandang yang muda atau tua. Mati itu pasti, nggak usah lama-lama. Belum tentu kita akan panjang umur.

Banyak orang sesungguhnya takut mati. Siapa yang takut mati? Sudah pasti yang takut mati yang tidak percaya kepada Allah.  Kita di dunia ini kan mengembara, kita ini merantau ke dunia. Yang namanya merantau pasti akan pulang kampung.  Lihat setiap kali setelah Ramadhan, banyak yang kembali ke kampung halaman. Lihat perilaku dan sikap mereka ketika pulang kampung,  11 bulan di perantauan, bulan ke-12 ketika pulang kampung tidak membawa rasa malu. Malu dong ketika di Jakarta lama-lama tapi ketika pulang kampung tidak bawa apa-apa. Malu dong pastinya nggak bawa sesuatu. Lalu bagaimana dengan kampung akhirat? Masa nggak bawa apa-apa?

Lihat perjuangan orang kampung (dunia). Di terminal ada yang tidur dua hari saking takutnya tidak bisa pulang kampung. Begitu mobil datang bawa barang banyak, belum anak kanan kiri. Mau masuk juga serba salah karena pintu busnya kecil, akhirnya barang di lempar eh mobil jalan.

Orang pengin pulang kampung dengan naik kereta sampai tidur di lantai, di lorong kereta, di lewati orang-orang. Saking takutnya bila tidak bisa pulang kampung.


Baca juga : Meskipun Sudah Berjihad, Ketahui Orang Mati Syahid yang Masuk Neraka!

Kita lihat bila persiapan pulang ke kampung akhirat. Pergi ke masjid, di bawah ramai di lantai dua ramai. Kadang dibilang gila untuk urusan akhirat sementara urusan dunia dianggap wajar? Karena orang beriman meyakini bahwa ada hari akhir.

Duh, namanya hidup ada masa expired. Ada masa kadaluarsa.

Oleh karena itulah, sebagai umat muslim kita haruslah bersiap-siap dan semakin memperbanyak amalan kita di dunia. Semoga Allah mengampuni dosa kita, dan menggolongkan kita ke dalam golongan orang-orang yang berbudi luhur yang baik.
loading...
Top