Teruntuk Kamu yang Telah Tega Merebut Keperawananku dan Kini Meninggalkanku, Aku Memaafkanmu

Jauh sebelum aku mengenalmu. Aku telah mengenal dan memiliki cinta. Rasa cinta itu selalu kuberikan untuk Ayah, Ibu, dan keluargaku. Aku juga berikan rasa cinta ini untuk teman-temanku. Aku jatuh cinta dengan hobiku. Aku mengira hidupku lengkap. Aku mengira aku cukup tahu rasanya cinta dan sayang.


Namun sekali lagi, itu jauh sebelum aku bertemu dan mengenalmu.

Hingga akhirnya aku bertemu denganmu, dan aku baru sadar. Bahwa ada satu ruang kosong dalam hati manusia yang tidak bisa diisi keluarga. Tidak bisa diisi hobi. Dan tidak bisa diisi oleh teman-teman. Bahwa ternyata ada emosi yang begitu berbeda dan tidak sama dengan yang kuberikan pada keluarga, pada kuliah, pekerjaan dan pada hobiku. Aku diberi definisi baru tentang cinta. Tentang sayang. Kamu merubah hidupku.



Awalnya aku terkejut. Tidak ada yang pernah memberi tahu padaku, bahwa menyayangi seseorang bisa sebegitu kuat rasanya. Mencintai seseorang itu luar biasa rasanya.

Kamu mengajarkanku banyak hal. Kamulah yang pertama kali memberiku pengalaman bahwa cemburu itu ada....dan nyata. Dan membakar. Namun kamu jugalah yang pertama kali mengajariku bahwa pelukan itu mampu menenggelamkan masalah.

Kamu mengajarkanku banyak hal. Kamulah yang pertama kali menunjukkan bahwa ketika bibir kita bertemu, mereka memberikan komunikasi tanpa kata, tanpa suara, namun mampu menyampaikan banyak emosi.



Kamulah yang pertama kali menunjukkan bahwa sentuhan kulit kita memberiku perasaan disayang yang belum penah aku rasakan.

Dan ketika kamu akhirnya pertama kali menunjukkan padaku bahwa kita berdua mampu melakukan dari hanya sekedar berciuman, bersentuhan, dan berpelukan, duniaku seketika berhenti. Aku ingin selalu bersamamu. Dan ketika kamu memasuki duniaku yang terdalam, aku ingin duniaku berhenti selamanya bersamamu.



Ketika kamu dan aku menjadi satu merenangi selimut, aku merasa dunia di sekitar kita tenggelam. Mereka ikut menyaksikan betapa kita saling menyayangi. Betapa aku merasakan hangatnya ketika sebagian dari dirimu ada di dalam diriku. Dan kamu selalu menutup adegan tersebut dengan dekapan hangat.

Setiap kita berdua menyatu, aku selalu merasa perempuan yang beruntung pada saat itu. Aku mengira aku ini milikmu. Dan aku mengira kamupun akan menjadi milikku.



Cuma masalah waktu, aku akhirnya tahu bahwa aku adalah perempuan dengan nomer antrian untukmu. Aku cuma giliran. Aku cuma rest area. Pemberhentian sementara. Toilet untukmu.

Bahwa ternyata ada perempuan lain yang kamu beri perasaan yang sama sebelum aku dan akan ada perempuan lain yang kamu tawarkan perasaan bahagia tersebut sesudah denganku.

Setelah semua hartaku sebagai perempuan kuberikan padamu, aku baru menyadari. Bahwa aku membawa nomer yang tidak terlihat. Kamu memiliki daftar panjang, yang hanya kamu pamerkan ke teman-teman lakimu.

Dan tidak ada yang lebih sakit selain menyadari bahwa satu-satunya hal yang seorang perempuan miliki, jaga, dan berikan dengan perasaan cinta, dimanfaatkan seorang pria dengan sia-sia. Dan seperti layaknya orang yang berdiri dalam antrian, kamupun melangkah pergi ketika giliranku sudah habis dan keperluanmu denganku sudah selesai.

Aku tidak bisa ingat berapa menit, jam, dan hari yang kuhabiskan untuk menyesali. Aku tidak bisa ingat berapa tabung airmata yang sudah keluar ketika melihatmu berpindah ke perempuan dengan nomer antrian berikutnya. Aku tidak bisa ingat berapa kali aku memiliki mimpi buruk bahwa aku tidak lagi layak mendapatkan pria baik di masa depan. Aku tidak bisa ingat karena aku terlalu berkeping-keping pada saat itu.



Namun aku pelan-pelan belajar. Bahwa kesalahan yang aku buat satu kali dalam hidup tidak akan membuatku gentar. Aku tidak akan menghadiahimu wahai laki-laki picik dengan cara menangisimu.

Aku akan menghadiahimu dengan sebuah kekuatan pikiran seorang perempuan. Bahwa aku mampu move on walaupun sudah disakiti, diperawani, dan ditinggal. Bahwa setidaknya ketika aku melakukannya dengan dirimu, itu karena karena aku mencintaimu sedangkan kamu melakukannya dengan diriku karena nafsu. Dan tidak ada yang lebih rendah di dunia ini selain nafsu. Aku manusia yang jauh lebih baik darimu.

Aku melangkah pergi sekarang. Menjauhi masa laluku denganmu. Aku berharap semua perempuan dengan nomer antrian darimu itu akan baik-baik saja sebagaimana diriku sekarang. Bukan mereka yang rendah, tapi kamu yang rendah.



Aku tidak akan berbuat kesalahan dengan membuat diriku merasa hancur. Aku bisa bangkit. Aku akan ajarkan anak perempuanku bahwa cinta tidak sama dengan nafsu. Aku akan ajarkan anak laki-lakiku bahwa perempuan bukan tempat sampah. Aku adalah saksi hidup bahwa perempuan boleh mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup.

Aku manusia yang lebih baik karena aku telah memaafkanmu. Dan kamu...ya kamu. Pertanggungjawabanmu ada dengan Dia yang di atas sana.
loading...
Top