Sungguh Menggetarkan! Inilah Puisi dari B.J. Habibie untuk Sang Istri Tercinta, Ibu Ainun


Semua orang sudah tau bagaimana tulus dan murninya kisah cinta sang Presiden Ketiga Indonesia, Bapak BJ. Habibie dan almarhumah sang istri, Ibu Ainun. Sampai detik ini, kisah cinta mereka masih melegenda dan menginspirasi banyak orang. Kepergian sang istri keharibaan Ilahi menimbulkan rasa kehilangan yang dalam bagi seorang BJ Habibie. Rasa cinta yang besar dan kebersamaan selama 48 tahun tiba-tiba hilang dan membuat jiwanya terasa kosong.

Baca juga : Mantan Punya Pacar Baru? Belajar dari Wanita Ini, Agar Kamu Bisa Berdamai dengan Dia dan Pacarnya

Kesetiaan itu terlihat dari puisi kecil yang diciptakan oleh Pak Habibie saat ditinggal pergi oleh sang istri, Ibu Ainun. Dalam puisi tersebut terlihat jelas rasa cinta yang besar Pak Habibie terhadap Ibu Ainun. Kebersamaan selama 38 tahun bukanlah waktu yang singkat. Hanya Ibu Ainun yang ada di samping Pak Habibie dalam menapaki jatuh bangun kehidupan.

Berikut ini adalah puisi dari Pak Habibie untuk Ibu Ainun, sang cinta sejatinya yang kisah cintanya tak akan lekang oleh waktu.

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.


Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku

-Bacharuddin Jusuf Habibie-

Baca juga : Pernah Terlintas Pertanyaan Ini Dalam Benakmu? Jangan Risau, Itu Tandanya Kamu Sudah Mulai Beranjak Dewasa
Top