Satu Juta Muslim Didaftarkan Untuk Ikuti Pemilu di Amerika Serikat



Dua organisasi Muslim besar di Amerika Serikat, sepakat untuk mendaftarkan satu juta umat Islam untuk memilih dalam pemilihan presiden 8 November 2016.

BACA JUGA : Sungguh Malang, Bayi Orang Utan yang Tak Berdaya Dirantai untuk Pertunjukan

Dewan Organisasi Muslim Amerika (U.S Council of Muslim Organizations/USCMO) dan Dewan Hubungan Islam Amerika (Council on American Islamic Relations / CAIR), mengungkapkan, jumlah umat Muslim yang mendaftar pada pilpres tahun ini meningkat 50 persen dari empat tahun lalu yang sekitar 500 ribu orang.

"Laporan dari berbagai kota di Amerika, menunjukkan bahwa ribuan pemilih Muslim baru telah terdaftar tahun ini. Jumlah ini melebihi tahun-tahun sebelumnya," kata Sekretaris Jenderal USCMO, Oussama Jammal, seperti dikutip situs Anadolu Agency.

Ia pun sangat mengapresiasi bahwa selama ini banyak organisasi, aktivis maupun tokoh masyarakat Muslim, yang telah bekerja keras untuk menangkal aksi Islamophobia dan kejahatan kebencian terhadap Muslim di negeri Paman Sam.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CAIR, Dawud Walid menambahkan bahwa pencurahan besar dukungan dan partisipasi dalam kampanye menggambarkan keseriusan pemilihan ini bagi komunitas Muslim Amerika.

Kelompok hak-hak sipil Muslim terbesar di AS ini juga menyindir kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, yang bermain 'dua kaki', di mana satu sisi mengucapkan terima kasih atas dukungan komunitas Muslim terhadap dirinya, namun sisi lain mengaku anti-Muslim.

Dalam sebuah survei jajak pendapat yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang diambil sekitar dua minggu yang lalu ditemukan 86 persen daftar pemilih Muslim berniat untuk memilih pada 8 November.

Dari satu juta pemilih Muslim, mayoritas atau 72 persen memilih Hillary Clinton dan Partai Demokrat, dan hanya empat persen memilih Trump.

Sedangkan tiga persen menyukai Partai Hijau pimpinan Jill Stein, serta Partai Libertarian pimpinan Gary Johnson sebanyak dua persen. Tetapi, 12 persen responden ragu-ragu dan  tujuh persen menolak berkomentar.
Top