Saat Melayat Sebaik Hindari 5 Larangan yang Sering Diabaikan Banyak Orang

Sudah menjadi kewajiban bagi umat muslim untuk mengurus saudarany yang meninggal dunia, mulai dari memandikan mensholatkan hingga mengantarkan ke pemakaman.



Tata cara diatas diperkuat menjadi hukum syariat fardhu kifayah, tidak akan gugur kewajibannya jika sebelum ada yang mengerjakanny.

Namun tak sekadar mengurus jenazahnya saja, ternyata ada beberapa adab yang diajarkan Rasulullah SAW saat datang ke rumah yang berduka.

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAWA bersabda,

Siapa yang mengantarkan jenazah seorang muslim dengan iman dan ihtisab hingga menyalatkannya dan selesai penguburannya, sesungguhnya dia akan kembali dengan membawa 2 qirath. Masing-masing qirath seperti gunung Uhud. Siapa yang menyalatinya saja kemudian pulang sebelum dikuburkan, sesungguhnya dia pulang membawa 1 qirath”.

Seperti yang dilansir bersamadakwah.net Beberapa diantaranya ternyata terdapat hal-hal sepele, yang kadang diabaikan para pelayat.

1. Bercanda


Salah satu adab yang dilarang namun banyak dilakukan saat melayat adalah melontarkan cadanaan.

Padahal Rasul mengajarkan, kematian seharusnya menjadi saat bagia manusia untuk merenung, bertafakur dan belajar mengingat kematian.

2. Bersuara Lantang


Selain itu, para pelayat juga dilarang banyak bicara apalagi mengeraskan suara yang melebihi suara dzikir.

Rasullah pernah mengatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni orang-orang yang bersuara lantang dalam suasana tersebut.

Nah, agar kesalahan fatal seperti itu tidak terjadi pada kamu.

3. Jangan mengeraskan suara


Tak ada larangan berbicara, hanya saja yang perlu dan penting saja. Selain itu jangan biarkan obrolan lebih keras daripada zikir.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. bahwa saat beliau berjalan mengiringi jenazah, beliau mendengar seseorang bersuara keras, “Mintakan ampunan untuk mayit ini, semoga Allah SWT mengampunimu.” Maka Ibnu Umar ra. berkata,”Allah tidak mengampunimu, munkar bila mengeraskan suara dan bertentang dari apa yang seharusnya dilakukan dalam suasana ini, seharusnya bertadabbur dan tafakkur dan mengambil pelajaran dari kematian”.

4. Jangan pusingkan kendaraan menuju pemakaman


Bisa naik kendaraan apapun. Jika seseorang sudah lansia (lanjut usia atau tak punya tenaga penuh untuk berjalan kaki, atau jika jarak pemakaman jauh, diperbolehkan untuk berkendaraan. Jika sebagian ada yang jalan kaki dan sebagian berkendaraan, sebaiknya kendaraan posisinya di belakang barisan. Sementara yang memilih jalan kaki bisa di depan, di belakang dan bisa di samping kiri atau kanan jenazah.

Dari Tsauban ra. Berkata, Rasulullah SAW dibawakan tunggangan saat mengantarkan jenazah. Akan tetapi beliau menolak untuk menaikinya. Sehingga beliau ditanya sebabnya dan menjawab, “Sesungguhnya para malaikat berjalan kaki dan aku tidak mau naik tunggangan sementara mereka berjalan kaki.” Saat para malaikat itu telah pergi, maka beliau pun naik kendaraan.
Bahwa Rasulullah SAW keluar mengiringi jenazah Abi Dahdah ra. dengan berjalan kaki, lalu pulangnya dengan berkendaraan.


5. Jangan terburu-buru, tapi bersegera


Terburu-buru berbeda dengan bersegera. Jika jenazah diketahui orang yang sholeh, maka saat diusung mayatnya, ia akan ‘minta’ disegerakan. Dari sinilah ada kebiasaan untuk mengusung jenazah dengan segera. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan:

Dari Abi Said Al-Khudhri ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila jenazah diangkat dan orang-orang mengusungnya di atas pundak, maka bila jenazah itu baik, dia berkata, “Percepatlah perjalananku.” Sebaliknya, bila jenazah itu tidak baik, dia akan berkata,”Celaka!, mau dibawa ke mana aku?” Semua makhluk mendengar suaranya kecuali manusia. Bila manusia mendengarnya, pasti pingsan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sementara itu, jika mengusung jenazah dengan terburu-buru hingga mengundang marabahaya bagi yang lain, tentu harus dihindari.
Wallahua’ lam. Semoga kita banyak mengambil pelajaran dari pengantaran jenazah. 
Top