Peras Keringat 8 Jam Sehari, 5 Hari Seminggu Hanya Demi Hidup Ala Kadarnya! 7 Alasan ini yang Membuatmu Tetap Bertahan!


Di dunia ini mana ada yang gratis. Hal itulah yang selalu kamu sadari setelah kamu lepas dari predikat pelajar atau mahasiswa. Setelah kamu masuk ke dunia kerja yang notaben banyak liku-liku, membuatmu sadar bahwa mimpi masih jauh dari kenyataan. Ternyata sekian lama tanpa sadar hidupmu masih begitu-begitu saja.

Soal kerja keras, kamu jelas sudah tahu rasanya. Delapan jam sehari dan lima hari seminggu sudah kamu jabani demi mencari sesuap nasi. Kamu yang menghabiskan sebagian besar waktumu di kantor, di ruangan kerja, di balik komputer, pasti tidak asing lagi dengan hal-hal ini.

1. Pergi pagi pulang malam. Kenyataannya, gaji hanya cukup untuk hidup sebulan


Sekian lama bekerja, tekad kerja kerasmu tak perlu diragukan lagi. Rela berangkat pagi-pagi, melewatkan sarapan bergizi hanya demi tiba di kantor tepat waktu. Rela pula pulang malam berjibaku dengan kemacetan, hanya berteman ponsel untuk membunuh kebosanan. Di jeda dua waktu itu, kamu sibuk bekerja di balik meja. Menerjemahkan permintaan atasan dan kejar-kejaran dengan deadline bulanan. Lupa soal mencari hiburan, apalagi mencari pasangan. Meskipun kenyataannya, gaji hanya cukup untuk sebulan. Atau seperti yang sudah-sudah, bahkan habis di dua minggu pertama.

2. Namanya juga manusia, terkadang sering khilaf juga. Bersenang-senang sehari, menyesalnya bisa berhari-hari



Sebagai karyawan biasa yang gajinya tak seberapa, kamu harus pandai-pandai menahan diri. Liburan sebulan sekali jelas hanya mimpi. Selain uangnya tak ada, mengajukan cuti juga tak semudah yang kamu kira. Namun namanya juga manusia, terkadang kamu butuh hiburan juga. Saat musim diskon tiba, kamu belanja tanpa kira-kira. Atau saat penyanyi luar negeri favoritmu konser di Indonesia, kamu hadir tanpa berpikir lama. Rasa puas dan senang pun tak bertahan lama. Apalagi setelah kamu melihat nominal uang di rekening sekaligus tanggal gajian yang masih lama. Senang-senang sehari ini, seringkali membuatmu menyesal berhari-hari. Ah, begini banget rasanya hidup pas-pasan.

3. Tak bisa bermuluk-muluk ingin berpartisipasi dalam misi sosial atau kemanusiaan, kamu masih berjuang keras memenuhi kebutuhan



Sebenarnya kamu ingin juga mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti jadi relawan pengajar di pelosok negara. Kamu juga ingin hidupmu yang singkat itu bisa memberikan banyak manfaat untuk orang lain sekaligus berbakti kepada negeri. Tapi apalah daya, kamu harus bekerja 8 jam sehari dan 5 hari seminggu demi membeli kebutuhan-kebutuhan hidup yang semakin mahal saja.

Sementara mengharapkan banyak uang dari misi kemanusiaan jelas tidak etis rasanya. Melihat teman-teman yang berkelana ke pelosok negeri demi bisa memberikan sesuatu untuk bangsa, kamu hanya bisa menatap iri. Sambil diam-diam berjanji, suatu saat nanti kamu akan melakukan hal yang sama.

4. Keluarga terkadang menjadi nomor dua. Ingin ngobrol dan bercengkrama tapi tubuh sudah terlalu lelah untuk lebih dari sekadar menyapa



Dunia kerja adalah dunia yang sibuk sekaligus kejam. Entah sudah berapa banyak artikel dan buku yang kamu habiskan demi memahami caranya bisa work-life-balance. Sayangnya, memberi saran memang lebih mudah daripada melakukan. Sekeras apapun kamu berusaha menyeimbangkan kehidupan kerja dan kehidupan luar kerja, pasti ada salah satu yang kamu korbankan.

Kamu yang tinggal di kota besar penuh kemacetan, pulang tepat waktu pun terasa sia-sia bila kamu sampai di rumah malam-malam juga karena kemacetan jalan raya yang semakin lama semakin tak masuk akal. Sampai di rumah tubuh sudah sangat lelah. Jangankan menekuni hobi, ngobrol dengan keluarga pun terkadang tak tuntas. Bagaimanapun juga, kamu harus segera istirahat, menyiapkan tenaga untuk bertarung esok hari.

5. Weekend menjadi hari yang paling dinanti. Karena saat itu kamu bisa sesaat melarikan diri



Dalam kamusmu, barangkali weekend lebih berarti daripada Adam Levine. Setiap hari Senin tiba, kamu berusaha menghibur diri dengan mengatakan bahwa weekend akan datang lima hari lagi. Lima hari berkarya dan memforsir energi, kamu butuh jeda untuk melarikan diri agar tetap waras dan siap menjalani hari-hari selanjutnya.

Saat weekend tiba, rasanya kamu ingin waktu berhenti berputar. Kamu bisa bersenang-senang hangout dengan teman tanpa direcoki pekerjaan. Kamu juga bisa mengganti waktu lima hari yang hilang dengan berkumpul dengan keluarga. Atau bisa juga kamu hanya tidur seharian. Menyatukan diri dengan kasur, sebagai aksi balas dendam segala lelah yang kamu rasakan. Itu juga kalau tidak harus lembur untuk menyelesaikan kerjaan.

6. Menuruti hati, tak ingin menggadaikan hidup untuk kerja. Tapi bagaimanapun juga hidup memang butuh biaya



Kadangkala kamu bertanya-tanya juga. Apakah ini tidak seperti menggadaikan hidup untuk mendapatkan uang? Bila menuruti keinginan, ingin juga kamu memilih pekerjaan yang fleksibel. Bisa dikerjakan di mana saja dan tidak harus ke kantor untuk bekerja 9-5 setiap harinya. Sehingga selain punya uang, kamu juga punya kehidupan.

Namun lagi-lagi kamu terbentur pada kenyataan. Hidup memang butuh biaya. Kamu punya orang tua yang ingin kamu cukupi kebutuhannya agar bisa menikmati hari tua dengan tenang. Kamu punya mimpi-mimpi di masa depan yang ingin kamu kejar. Belum lagi keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Sampai di sini kamu menyadari bahwa mungkin memang ada yang harus dikorbankan.

7. Keinginan menjadi pengusaha juga tak bisa begitu saja diwujudkan. Sebab kamu tahu bahwa menjadi pengusaha tak hanya butuh modal



Khas generasi millennial, semua berlomba-lomba untuk menjadi pengusaha. Kaum muda dituntut untuk mandiri, tidak lagi mencari lowongan kerja, tapi menciptakan lapangan kerja. Setiap harinya, ada saja startup yang tumbuh meramaikan dunia industri ekonomi Indonesia. Kamu pun punya mimpi yang sama. Menjadi pengusaha, berdiri di atas kaki sendiri, dan bekerja dengan bos diri sendiri.

Dengan begitu barangkali kamu tidak harus terkurung di kantor selama delapan jam sehari. Kamu juga bisa memberikan sesuatu yang bisa membantu masyarakat. Tapi kamu pun menyadari bahwa menjadi pengusaha tidak pernah sederhana. Mimpi dan modal uang saja tidak cukup, sebab menjadi pengusaha butuh skill-skill lainnya yang belum tentu kamu miliki sekarang.
loading...
Top