Pengebom Gereja dan Perburuan Tiket ke Surga

Gambar- gambar dari peristiwa peledakan bom jenis molotov di Gereja Oikumene yang terletak di Kelurahan Sengkotek, Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.



Foto pertama merupakan foto rangkaian yang menunjukkan bocah-bocah dalam kondisi terluka. Nyaris di sekujur tubuh mereka. Luka bakar. Bocah-bocah itu menangis, dan di sisi mereka, perempuan dan laki-laki yang barangkali ibu dan bapaknya, tampak mencoba menenangkan. Seperti si bocah, perempuan dan laki-laki itu juga menangis.



Foto kedua, seorang laki-laki yang juga dalam kondisi terluka. Di beberapa bagian wajah. Sekujur tubuhnya kuyup. Dia berambut panjang dan mengenakan kaus oblong hitam yang pada bagian depannya bertuliskan 'JIHAD WAY OF LIFE'.

Seperti yang dilansir dari tribunnews.com dan ditulis oleh T. Agus Khaidir  Keterangan yang peroleh, foto pertama adalah korban ledakan bom molotov. Selain dia terdapat empat korban bocah lain. Sedangkan foto kedua diduga pelaku peledakan.

Kedua foto ini menghadirkan gejolak perasaan yang kontradiktif. Terus terang, agak sulit bagi  untuk tidak merasa terharu saat melihat foto bocah dan ibunya yang menangis itu.



penulis  bisa membayangkan kesakitannya. Anak saya pernah terkena knalpot dan dia menangis berjam-jam karena merasa sangat sakit. Bagaimana pula sakit akibat luka bakar ledakan bom molotov? Tentu sakit yang teramat pedih.

Namun lebih dari pada itu, hatinya pasti lebih sakit. Apakah salah dan dosanya? Minggu pagi, bocah tersebut barangkali masih beriang-riang belaka, masih tersenyum senyum dan tertawa saat akan berangkat bersama orangtuanya beribadah ke gereja.

Pikirannya yang masih bocah, masih lugu, tentu tak akan sanggup mencerna, betapa prosesi peribadatan, upacara menghadap Tuhan, ternyata juga mengandung bahaya.

Sebenarnya bukan cuma bocah itu. Sebenarnya saya pun begitu. Melihat foto kedua, lelaki gondrong yang mengenakan kaus bertuliskan kalimat sungguh gagah, saya pun tak mengerti, benar-benar tak habis mengerti, kenapa dia bisa sampai pada keputusan untuk melakukan pengeboman seperti ini?



Di manakah letak nalarnya? Di manakah letak perasaannya? Demi apa dia melakukannya? Apakah dia memang menganggap perbuatannya, melemparkan bom molotov ke halaman gereja dan membuat empat orang bocah harus menangis di pelukan orang tua mereka karena merasakan sakit yang teramat pedih, sebagai jihad seperti tertulis di kausnya?

Jihad, bagi umat Islam hukumnya fardhu 'ain. Hukumnya wajib! Para imam mahzab yang empat (Nu'man ibn Thabi, Malik ibn Anas, Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi'i, dan Ahmad ibn Hanbal) telah menyerukannya dengan kalimat yang nyaris senada: "Jihad adalah fardhu `ain bagi siapa saja yang mampu berperang dari kalangan orang-orang yang sudah baligh dan merdeka."

Pahala jihad tiada lain adalah surga, plus 70 bidadari yang konon sungguh aduhai dan selalu perawan pula. Dan orang-orang yang gugur, meninggal dunia dalam pertempuran di medan jihad, akan mendapatkan tiket langsung. Mereka masuk surga tanpa dihisab.

Lalu pertanyaan selanjutnya, tentu saja, kapan saat berjihad itu harus diserukan dan dilaksanakan? Atau lebih tepat, apa-apa saja latar penetapan status hukum agar jihad dapat dijalankan sebagai fardhu 'ain?

Di sinilah letak persoalan. Jihad adalah berperang melawan musuh-musuh Islam, musuh-musuh Allah. Siapa saja mereka? Dalam kondisi seperti apa mereka menjadi musuh dan patut diperangi dan dibunuh?

Apakah keempat bocah yang beriang-riang belaka, tersenyum dan tertawa-tawa saat mengikuti orang tua mereka beribadah ke gereja termasuk di dalamnya?

Saya kira tidak. Maka alih-alih jihad, perbuatan lelaki dalam foto itu justru biadab dan sungguh menghina akal sehat. Tidak ada jihad apapun dalam upaya merusak rumah ibadah pemeluk agama lain, sekali pun dalam keadaan perang --dar al-harbi (negeri perang/tidak aman). Rasulullah telah memberikan teladan itu.

Lantas apa yang harus dilakukan selanjutnya? Serahkan kepada ulil amri, kepada pemerintah. Biarkan hukum yang bekerja. Tak usah "kegatalan" mengemukakan kesimpulan-kesimpulan. Apalagi hanya berdasarkan syakwasangka.

Kesimpulan seperti ini, selain tidak ada faedahnya, percayalah, cuma akan menambah-nambah kengawuran.

twitter: @aguskhaidir 
loading...
Top