Pedihnya Sakaratul Maut yang Tak Bisa Diibaratkan dengan Kata-Kata



Semua yang hidup pasti akan mati. “Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan.” Hal tersebut tidak luput dari tawa dan tangis, akan tetapi kita harus paham dimana menempatkan tawa dan dimana kita harus menangis.

Sebuah cerita fiksi yang dapat diambil hikmahnya berikut ini dikutip dari islampos,

Alkisah, tidaklah seorang suami meninggalkan istri dan anak-anaknya atas aib yang di dera selama hidup di dunia.

Kerumunan buah hatiku yang nampak lesu menatap hampa dihadapanku, tetesan air mata tak hentinya membasahi pipinya. Pun demikian sang ratu yang cantik pelindung keluarga kecil, mukanya tak lagi segar. Hanya kalimat syahadat yang terdengar diwarnai isak tangis sesenggukan.

Sudut ruangan yang sesak dengan tetangga dan kerabat, menyuguhi tangisan dan muka layu. Mereka tampak sabar menunggu, pertanyaannya “Mungkinkah sampai detik terakhir nafas ini di hempas mereka setia menanti?” Dua, tiga tarikan nafas yang mereka kira ajal semakin mendekat, hingga syahadat tiada henti terucap. Satu jam menanti, dua jam menunggu, sampai akhirnya tetangga dan kerabat memutuskan untuk keluar satu demi satu.

Ganasnya maut tak pernah terfikirkan sebelumnya, begitu sakit yang aku derita, sungguh benar ucapan Rasul sakitnya sakaratal maut sama dengan tusukan pedang.

“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Seandainya dulu, aku tinggalkan pekerjaan demi menghadap kepada-Nya.
Seandainya dulu, aku tidak lalai dengan shalat lima waktu.
Seandainya dulu, aku dahulukan shalat dari pada kesibukan dunia yang fana.
Seandainya dulu, aku shalat berjamaah lima waktu sesuai perintah nabi-Nya.
Seandainya dulu, aku berwudlu sebelum adzan berkumandang dan menunggu shalat di awal waktu.
Seandainya dulu, aku perbanyak langkah menuju masjid untuk berjamaah demi keridoan-Nya.
Seandainya dulu, aku tidak ingin di puji karena suara yang merdu dalam mengumandangkan adzan di saban waktu.
Seandainya dulu, aku merapikan baju dan berminyak wangi sebelum shalat untuk menghadap-Nya.
Seandainya dulu, aku mantabkan wudlu untuk kesempurnaan shalat-ku.
Seandainya dulu, aku khusuk dalam shalat menghadap kiblat dan hati tertuju kepada-Nya.
Seandainya dulu, aku perbanyak dzikir, mungkin tidak semalang ini nasib-ku.
Seandainya dulu, aku lebih sering berdiam diri di Masjid dari pada nongkrong di warung kopi.
Seandainya dulu, aku sempatkan membaca Al-Quran dan maknanya dengan tidak menunggu waktu senggang kerja.
Seandainya dulu, aku mengaji tidak ingin di puji, tidak mengganggu orang tidur di malam yang sunyi

Kini tersisa anakku yang terus mengelus kening tetap setia menunggu, tatapan nanar yang terus iya suguhkan. Aku menyesal tidak mengajarkan ilmu tentang kematian, seperti untaian kecil yang di remehkan “Jangan tangisi Ayah ketika maut datang, tapi talqinkan ayah sebagai mana nabi mengajarkan”.

Andai saja aku kuat untuk berucap, “Janganlah gembira menikmati harta sepeninggalanku, karena harta itu sebenarnya bukan milik kita.”

Ingin sekali menasihatimu, akan tetapi tenggorakkan ayah tidak sampai untuk mengeluarkan suara, andai aku kuat untuk berucap,

“Jangan sia-siakan waktu, karena waktu cepat berlalu.”
“Putraku, engkau penerus ayah, engkau penerus agama ini, engkau penerus Negeri,” aku ingin sekali menasehatimu untuk terakhir kali.

Sekali lagi seandainya aku kuat untuk berucap “Setiap manusia adalah pemimpin, sesuai sabda nabiku dan nabimu.”

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan di mintai pertanggung jawaban dari apa yang di pimpinnya. Seorang imam (pimpinan) adalah pemimpin dan iya akan di mintai pertanggung jawaban dari apa yang di pimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan iya akan di mintai pertanggung jawaban atas apa yang di pimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan iya akan di mintai pertanggung jawaban atas apa yang di pimpinnya. Seorang khadim (pembantu) adalah pemimpin pada harta tuannya (majikannya), dan iya bertanggung jawab atas apa yang di pimpin.” (HR. Buhari, Muslim, Turmidzi, Abu Daud dan Ahmad Bin Hambal).

Kini malaikat maut duduk di sampingmu, ayah tidak dapat menjelaskan wujudnya, mahluk ini tidak pernah ayah liat sebelumnya. Andai di beri kesempatan satu kali lagi untuk beriman kepadaNya, maka tidak akan ayah tinggalkan masjid, mulut ini akan selalu melantunkan ayat-ayat-Nya, semua harta ayah salurkan kepada anak yatim. Dan tidak tinggal diam atas sumbangan demi penderitaan fakir miskin.

Baca Juga : MasyaAllah, Inilah Pemimpin yang Dijamin Masuk Surga

Sungguh menyesal atas perbuatan.

Jika dulu, aku menjadi pemuda yang jujur, pemuda yang bertakwa dan beriman, yang di harapkan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam, pemuda yang bersih dari maksiat tanpa kontaminasi kehidupan jahiliah di akhir jaman.

Jika dulu, aku relakan darah mengalir membela saudara seiman yang berjihat di jalanNya, betapa berharganya diri ini di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Jika dulu, aku berdagang dengan jujur bersih dari menipulasi dan kecurangan, maka malaikat tidak sekejam ini merenggut nyawa.

Jika dulu, aku serahkan harta kepada ibumu tanpa berbohong kepadanya di setiap waktu, seandainya dulu aku sisihkan waktu luang untuk mu dan ibumu yang itu artinya tidak mementingkan barang elektronik, hanphone kesayangan, laptop kesukaan, serta game kegemaran.

Jika dulu, aku tunduk patuh terhadap orang tua, tanpa mendengus ketika iya berbicara, tidak ketus ketika iya gembira, tiada acuh ketika di ingatkan, lalu mendoakan setelah shalat. Alangkah gembiranya kakek nenekmu kelak di hari pembalasan.

Jika dulu, aku bersahabat dengan orang-orang sholeh, tinggalkan teman peminum, aku ajak seorang pemabuk untuk berjalan pada kebenaran, seandainya dulu aku mengingatkan tetangga yang tidak benar, meluruskan tetangga yang suka hiburan malam, dan berkomitmen atas semua tindakan.


Sampai akhirnya aku hanya pilu, hanya ber angan-angan tentang masa lalu, sungguh dosa ini tidak dapat di tulis meski tinta seluas lautan, kayu seantero dunia di jadikan pensil itupun tidak juga cukup menulis dosa yang telah lalu aku perbuat.

Kini tersisa nyawa yang ambang, tidak keluar dan tidak kembali pada raga yang terlentang. Entahlah apakah malaikat menunggu sepi, atau memang nasibku tiada orang tau ketika nafas ini melayang. Para penunggu ajal tidur pulas di sampingku, tak terkecuali anak dan istriku. Lantunan Quran Tidak lagi berkumandang, sungguh aku menginginkan kemerduannya, tapi apalah daya suara yang aku tangkap hanyalah suara ramai seperti di pasar.

Untungnya aku pernah menyatakan keislaman, sehingga di sela nafas yang terisak, meski sulit dan sakit untuk bernafas aku dapat ucapkan dua kalimat syahadat, dalam hati berisyarat. Detik itulah tubuh terasa sakit, tiada tanding di alam dunia.

Dengan cepat jantung mendegup, merenyut, meronta, seakan keluar dari dada. Setelah jantung berhenti berdetak, lalu fungsi jaringan tubuh di matikan, urat saraf mengendor dengan sendirinya, akhirnya tusukan pedang yang terasa beratus kali saat inilah malaikat benar-benar mencabut nyawa dari bawah ujung kaki sampai leher dan dilanjutkan ke otak dan berakhirlah sudah Innalillahi.


Ketahuilah saudaraku kematian juga akan datang kepadamu. Jika aku merasakan seperti ini semoga engkau lebih mulia dari kematianku. Aku berwasiat sekali lagi, dengan jujur tiada tanding sakitnya sakratul maut.

Jika dirimu masih risau dengan harta untuk di sedekahkan segeralah bertaubat, karena seperti yang kebanyakan orang ceritakan, kematian tidak pernah membawa harta, jabatan, dan istana, ataupun kehormatan keluarga meski konglomerat.

Tapi jika engkau risau karena kurang dekatan denganNya. Maka sekarang waktu yang tepat, tingkatkan ibadah, ikuti Rasulullah, tinggalkan mudarat, buang syirik, serta jauhkan kesenangan dunia. Maka engkau akan beruntung kelak pada saat ajal tiba.

Duhai putraku, saudaraku dan kerabat serta keluargaku se-Adam dan se-Hawa, pesan terkahirku, “Bertakwalah kepada Allah Ta’ala.”

Top