Miris,Tak Cuma Jadi Korban Gempa Bumi, Warga Selandia Baru Juga Jadi Korban Pencurian



Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu ungkapan yang tepat bagi warga Selandia Baru saat ini. Setelah Minggu dini hari rumah mereka terlanda gempa, mereka harus menerima kenyataan pahit, barang berharga mereka hilang dicuri.

BACA JUGA : Bareskrim Polri Sebarkan Undangan Gelar Perkara Kasus Dugaan Penistaan Agama Oleh Ahok

Polisi Selandia Baru mengatakan telah menerima 19 laporan terkait pencurian di perusahaan properti di Canterbury dan di perumahan sejak gempa bumi yang melanda pada Minggu dini hari. Polisi berjanji akan mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencari pencuri yang tega menggasak rumah warga korban gempa bumi. "Saya dapat memastikan Cantabrians (penduduk Canterbury) bahwa para pencuri ini akan kami selidiki secara ketat dan mereka yang bertanggung jawab (atas kasus ini) akan dimintai keterangan terlebih dulu," ujar Komandan Distrik Pengawas Canterbury, John Price, yang dikutip melalui media online www.nzherald.co.nz.

"Sangat disayangkan, ketika orang-orang sedang menghadapi musibah dan membutuhkan bantuan, ada sebagian kelompok yang justru memanfaatkan situasi ini dengan mengambil keuntungan dari musibah yang menimpa bersama," ujarnya.

Polisi mengatakan, sebelum gempa warga sempat melaporkan terjadinya pencurian. Namun kasus itu meningkat setelah gempa terjadi. Banyak warga yang kehilangan barang elektronik milik mereka setelah pemiliknya dievakuasi. Polisi kemudian berkomitmen untuk meningkatkan jumlah pasukannya dan melaksanakan patroli untuk menjamin keamanan wilayah tersebut.

Sebuah keluarga yang pergi mengungsi ke New Brighton pagi ini, datang kembali ke Cartenbury dan menemukan barang berharga mereka telah dijarah. "Kami datang melalui pintu masuk pagar rumah dan menemukan truk kami sudah lenyap. Lalu kami mendapati pintu depan rumah kami terbuka, pintu samping, pintu garasi, dan kamar tidur," tutur Melissa Mill, pemilik rumah.

Pencuri telah mengacak-acak rumah Mill dan mengambil televisi, sebuah Xbox, dan properti lain, termasuk mesin mikrofon wireless milik anak perempuannya. Mikrofon tersebut biasa digunakan oleh putrinya yang berusia 12 tahun tersebut untuk berkomunikasi lantaran putri Mill mengalami keterbatasan dalam hal pendengaran.

Mill mengatakan sistem dalam mikrofon tersebut bernilai sekitar 5.000 AUD dan diatur secara khusus untuk putrinya, sehingga ia merasa benda tersebut tidak akan berguna bagi orang lain. Sementara itu, polisi  Canterbury telah mengumpulkan keterangan dari para saksi dan meminta mereka untuk segera melapor apabila melihat tindakan mencurigakan atau kehilangan barang.
loading...
Top