Curhatan Cewek, Untukmu yang Kutunggu untuk Menghalalkanku


Usia matang membuat kamu mau tak mau sering menerima pertanyaan “kapan nikah?” Meski kamu sendiri tak terlalu menganggapnya sebagai beban. Justru pertanyaan itu kamu jadikan doa atas keinginan selama ini. Mengingat kamu sudah tak lagi repot mencari seseorang tambatan hati. Dibilang cukup beruntung kamu pun mengamininya, sebab hubungan yang ada sekarang memang terbilang dewasa karena jauh dari drama. Ya, walaupun peselisihan kecil tetap saja selalu ada sebagai ujian untuk lebih menguatkan hubungan.

Baca juga : Secuek Apapun Cowok, Gesture Inilah yang Bisa Jadi Tanda Dia Tulus Mencintaimu Atau Hanya Nafsu Belaka

Tapi, memiliki hubungan yang dewasa pun tak juga memberi jaminan untukmu. Pastinya sesaat akan terpikir tentang persoalan “kapan dilamar olehnya?” Sesekali kamu akan memikirkan sebab akibat lamaran dia tak kunjung datang, sampai kadang terjebak ke rasa-rasa yang membuatmu resah. Kira-kira seperti apa yang dia rasakan? Curahan hati kamu ini perlu dipahami oleh kalian para pria yang tak kunjung melamar pasangannya.

1. Apa yang kurang dari diri ini? Jadi pertanyaan yang sering kali datang dipikiranmu


Ada kalanya lamaran yang tak kunjung datang membuatmu hampir frustasi, dan merasa diri ini masih punya banyak kekurangan. Mengingat kata orang, menikah itu bisa terjadi pada waktu yang tepat ketika Tuhan tahu diri kamu sudah benar siap. Jadi mungkin saja sekarang kamu masih perlu berbenah diri sekali lagi, sambil menunggu lamaran darinya. Namun juga tak bisa kamu elak, di dalam pikiranmu selalu sibuk bertanya “sebenarnya apa yang kurang dari diriku?”

2. Ada kalanya perasaanmu mendadak ragu, mempertanyakan keseriusannya dalam menjalani hubungan yang sekarang


Dia bilang sayang. Dia juga bilang tak akan main-main dengan hatimu. Sedangkan sikapnya tak ada yang perlu dipertanyakan, dia selalu berusaha memperlakukan diri ini dengan sebaik-baiknya. Tapi saat ingat dia tak juga mengatakan niat untuk melamar, kamu sendiri mendadak ragu dengan semua ucapan sayang, perhatian, pengertian dan semua sikap baiknya.

Ragu dia benar serius atau tidak menjalani hubungan selama ini. Sebab seiring dengan usia yang sudah matang, ukuran keseriusanmu terletak pada niatan baiknya untuk menghalalkan hubungan yang ada sekarang. Lagipula mau sampai kapan hubungan ini jalan di tempat, pacaran saja terus. Tak mau hal itu terjadi bukan?

3. Melihat teman-teman sudah banyak yang menikah, rasanya ingin menegaskan lagi “Hubungan kita kapan melangkah ke sana?”


Bukan hanya usia, tolak ukur keharusan menikah pun datang sekonyong-konyong dari teman yang sudah banyak membangun rumah tangga. Bahkan ada dari mereka yang sudah memiliki momongan. Sedangan kamu masih saja berdiam diri dengan status pacaran. Entah sikap siaga atau memang naluri wanita yang sudah berusia matang, rasanya kamu ingin sekali bertanya tegas kepadanya, “Kita sendiri kapan bisa membawa hubungan ini seperti mereka?” dan yang terjadi adalah apapun jawabannya, tetap saja yang kamu tunggu masih seputar harapan.

4.  Gregetan sudah pasti, sambil kadang bergumam sendiri “Sebenarnya apa sih yang dia tunggu lagi?”


Padahal hubungan yang kalian jalani sudah lama dan banyak perjuangannya. Usia pun sama-sama sudah matang. Dan urusan karir, bisa dibilang sudah hampir mapan. Jadi sebenarnya apa yang lagi yang dia tunggu? Tanggal baik? modal yang cukup banyak? Toh kita sudah saling sepakat jika nikah bukan persoalan foya-foya. Lalu apa?

5. Kamu jadi lebih sensitif dalam segala hal, termasuk saat dia sibuk dengan hal lain di luar karir ataupun hubungan


Cewek sensitif tak hanya saat sedang PMS saja. Saat pikirannya seperti gulungan benang yang kusut, perasaannya pun bisa mendadak sensitif sekali yang tak bisa tersenggol sedikit. Seperti saat dia yang kamu harapkan fokus menyelesaikan targetnya tahun ini, tapi malahan menyibukkan diri dengan hal lain di luar dari targetnya itu. Siapa yang tak lantas kesal? Sebab kami sendiri tahu, kalau saja targetnya tak tercapai tahun ini, harapan dia melamar secepatnya pun jadi angan belaka.

6. Akhirnya menunggu pinangannya mengharuskan kamu bersabar sebentar lagi, berpikiran positif barangkali dia sedang menyiapkan diri dan materi


Mungkin memang kami perlu bersabar sebentar lagi menunggu lamaran darinya. Toh, kita semua tahu melamar itu bukan seperti mengajakmu makan di kedai mie langganan. Melamar itu mirip-mirip mengajakmu menaiki roller coaster, agak mengerikan dan memang butuh persiapan mental. Bahkan untuk membangun rumah tangga sendiri pun perlu persiapan materi yang matang. Supaya kita semua tenang.

Nah, bukannya harus untuk memaksa si dia agar cepat menegaskan hubungan kalian. Hanya saja lebih untuk mengawasi apakah dia memang serius atau hanya untuk bermain-main. JIka memang ada tandanya dia jauh dari keseriusan, pastikan terlebih dahulu alasannya, dan ketika memang tak ada kata yang pantas untuk mempertahankan alibinya. Maka, sebuah jalan baru tentang hubungan harus kamu buka kembali dengan yang lain.
loading...
Top