Yang Suka Bilang 'Bukan Muhrim', Sebaiknya Jangan Mendaki Gunung Deh



“Buat para cewek khususnya yang suka melontarkan kata atau dalil bukan muhrim mendingan jangan naik gunung, deh”

Itulah salah satu kutipan kocehan akun @Sindoro_Sumbing yang sempat ramai di twitter 26 Agustus silam. Suatu himbauan yang menyimpan sedikit kekesalan terlontar karena salah seorang oknum pendaki cewek yang enggan dievakuasi dengan alasan bukan muhrim.

Mendaki gunung bukan perkara mudah, karena selain fisik dan ketahanan mental pun dibutuhkan. Pendakian umumnya digemari kaum adam mengingat kekuatan fisiknya yang lebih dari perempuan. Namun hal itu tak menutup kaum wanita tak bisa mengikuti kegiatan menantang ini. Nah, masalahnya ketika cewek yang melakukan pendakian sudah tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan karena berbagai hal. Maka akan terjadi seperti kisah yang dikutip dari phinemo.com ini,

Kondisi pendaki cewek sudah cukup parah, tim basecamp Sindoro_Sumbing memutuskan untuk membantu evakuasi korban

Dilansir phinemo, menurut keterangan admin Sindoro_Sumbing yang dihubungi via telpon, kejadian bermula ketika si pendaki wanita tersebut mengalami cedera kaki yang cukup parah. Untuk berdiri saja dia tidak mampu apalagi harus menuruni Gunung Sumbing. Karena mempertimbangkan kondisinya yang cukup parah, seorang temannya menghubungi basecamp untuk meminta bantuan mengevakuasi pendaki wanita tersebut.

Korban sempat menolak dievakuasi dengan alasan ‘bukan muhrim’

Ketika tim evakuasi sampai di lokasi, si pendaki wanita menolak untuk dievakuasi dengan alasan bukan muhrim. Hal ini tentunya makin memperunyam suasana. Lucunya, si pendaki wanita itu sebenarnya saat itu mendaki bersama pacarnya, bukan suaminya. Nah, lho.

Permasalahan menyangkut keyakinan memang tidak bisa diganggu gugat. Semua sudah jelas tertuang dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2. Maka, sudah sepatutnya kita menjadi warga negara yang baik, yang menghormati keyakinan agama masing-masing individu. Karena itu, tim evakuasi pun berusaha menghormati keyakinan korban. Mereka memanfaatkan hammock sebagai alat evakuasi. Sebelumnya mereka memakaikan jaket tebal pada si pendaki wanita saat mengangkatnya ke hammock untuk menjaga jarak sehingga tidak menyentuh korban secara langsung (kulit ketemu kulit).

Tim evakuasi bagaimanapun juga hanya melaksanakan tugas dan kewajiban demi kemanusiaan.

Nah, kalau nggak siap dievakuasi oleh yang bukan muhrim, mending ajak orang yang muhrimmu mendampingi mendaki deh



Phinemo melansir, berkaca dari kejadian tersebut, banyak yang cenderung setuju dengan kicauan admin @Sindoro_Sumbing. Bukanya ingin mengomentari masalah keyakinan seseorang, tapi lebih pada bagaimana melakukan persiapan yang matang untuk pendakian. Jika memang tidak ingin bersentuhan dengan bukan muhrim, sebaiknya mengajak muhrimmu yang berpengalaman di dunia pendakian untuk mendampingi. Jadi, bila nanti terjadi sesuatu hal yang membahayakan di gunung, Kamu tidak merepotkan orang lain.

Permasalahan ini bisa menjadi pelajaran buat kita. Gunung itu bukan mall yang semua hal bisa didapatkan dengan mudah. Gunung juga bukan playground yang dengan entengnya kita bisa bermain-main sesuka hati tanpa mempedulikan sekitar.

Baca Juga : Jangan Pernah Lakukan ini di Media Sosial

Jika telah memutuskan untuk naik gunung, pastikan bahwa memang sudah paham betul konsekuensi yang menghadang di setiap jengkal langkah. Banyak yang pulang dengan suka cita, tidak sedikit pendaki yang pulang hanya membawa nama.

Persiapkan pendakianmu sebaik mungkin. Apalagi saat musim penghujan seperti ini. Beberapa hari sebelum pendakian, cobalah untuk jogging. Sedangkan buat cewek, sebaiknya jangan mendaki saat menstruasi. Karena pada saat itulah, tubuh cewek cenderung lemah.

Intinya, ketahui batas kekuatan diri sendiri sebelum mendaki agar tidak merepotkan orang lain. So, bagi kalian muslimah yang suka mendagi gunung dan berpetualang ajak orang yang jadi muhrim kamu deh.
Top