Pertanyaan Kritis Untuk Sang Guru, Kenapa Harus Wallahu A'lam Kyai?

Salah satu sikap yang menonjol pada diri seorang kiai adalah perilaku rendah hati atau tawadhu-nya. Meskipun seorang kiai dikenal memiliki ilmu agama luas dan penguasaan kitab yang kuat, tetapi hal itu tidak lantas membuatnya lebih tahu dari siapapun.



Suatu ketika, kiai di sebuah desa bernama Amrun memberikan pengajian fiqih dengan menggunakan Kitab Taqrib. Pengajian ini dilakukan Kiai Amrun setiap malam Kamis untuk umum bagi warga di desanya. Di setiap akhir pengajian, Kiai Amrun selalu berucap Wallahu A’lam (dan Allah Maha Mengetahui).

Seperti yang dilansir nu.or.id Pada suatu hari dalam kesempatan yang sama, seorang warga bernama Didin berupaya kritis dengan mempertanyakan sikap Kiai Amrun yang selalu mengucapkan Wallahu A’lam di setiap akhir pengajian.

“Kenapa kiai selalu mengatakan Wallahu A’lam setiap akhir pengajian?” tanya Didin.

“Ya karena Allahlah yang Maha Mengetahui.”

“Tapi Allah kan tergantung persepsi umatnya kiai, di sini kita diajarkan untuk yakin atas segala sesuatu yang menurut kita benar,” ujar Didin yang mulai lupa dia berbicara dengan siapa.

“Wallahu A’lam Din,” timpal kiai.
Top