Berbanding Terbalik - Dulu Umar Menolak Jadi Gubernur, Saat ini Jabatan Gubernur Jadi Rebutan

Setiap manusia terlahir ke bumi memang ditakdirkan menjadi imam, menjadi pemimpin. Dan dalam lingkup paling kecil adalah memimpin dirinya sendiri untuk selalu berlaku baik dan tidak terjerumus kedalam perbuatan keji dan mungkar, yang hal ini sudah menjadi kewajiban setiap insan. Meningkat lebih tinggi menjadi seorang ibu memimpin anak, menjadi ayah memimpin seluruh keluarga. Dan ke tingkat lebih tinggi lagi sebagai RT, RW, bahkan pimpinan organisasi atau perusahaan.

Terlepas dari kewajiban memimpin diri sendiri serta keluarga dalam lingkup paling rendah. mirisnya saat ini jabatan-jabatan sebagai pemimpin ini malah diperebutkan bahkan sampai menghabiskan miliaran rupiah hanya untuk menjadi seorang pemimpin. Mari kita ingat kembali sejarah Islam yang sangat patut dijadikan contoh.



Sebuah Kisah Umar yang disampaikan KH. Zainuddin M.Z yang sungguh menyentuh hati, apalagi jika dikaitkan dengan konteks saat ini. Tema utama yang dapat kita ambil hikmahnya adalah keteladanan Umar dalam memimpin saat menjadi khalifah. Jabatan khalifah adalah tertinggi saat itu. Kalau zaman sekarang adalah presiden.

Banyak pelajaran dapat dipetik dari kisah Umar bin Khattab, salah satunya adalah tentang kesederhanaannya dalam memimpin. Meski punya kekuasaan tertinggi sebagai khalifah, Umar tidak aji mumpung. Tidak hanya ditanamkan dalam diri sendiri, tapi juga pada keluarga.

Umar selalu mengingatkan agar anaknya tak mengambil untung dari jabatan ayahnya. Apalagi sampai memanfaatkan. Umar membatasi itu semua.

Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari dari kisah Umar. Seperti tentang marahnya Umar ketika ada sahabat mengusulkan agar Abdullah bin Umar diangkat sebagai Gubernur Kuffah. Abdullah adalah anak kandung Umar. Umar begitu marah dan sampai melotot matanya.

"Jangan macam-macam kau, cukup satu orang umar memegang jabatan ini, kalau berhasil kami keluarga Umar sudah merasakannya. Kalau gagal cukup kegagalan seorang Umar," begitu kata Umar.

Sang sahabat awalnya tidak berniat memantik emosi Umar. Saat itu ada musyawarah. Umar mengaku bingung dengan persoalan di Kuffah. Umar mengaku sulit mencari orang yang tepat untuk menjadi Gubernur Kuffah. "Diangkat (gubernur) yang lemah rakyat ngeluh, diangkat yang keras rakyat juga ngeluh," demikian cerita Umar.

Baca Juga : Wanita ini Mengamuk Lihat Toilet Hotel Bintang 6 Lebih Mewah Daripada Musholanya

Sahabat kemudian memberanikan diri mengusulkan nama Abdullah. Bukannya diterima malah ditolak mentah-mentah. Sejak didaulat sebagai pemimpin, Umar tidak ada niatan mewariskan jabatan khalifah ke anak-anaknya. "Kau jangan makan di atas punggungku, kau jangan menikmati fasilitas di atas keringatku."

Inilah suri tauladan dari Umar. Meski sebagai khalifah, ia tidak lantas mengorbitkan anak untuk disiapkan menggantikan sebagai khalifah. Meski Abdullah anak yang saleh dan bertaqwa, bagi Umar lebih baik cari orang lain. "Anak lain yang saleh dan bertaqwa juga banyak," kata Umar.

Tidak hanya soal jabatan, ketika anak Umar berbisnis juga ada pembatasan yang sangat ketat. Suatu hari Umar melihat ada unta yang gemuk di antara unta-unta kurus. Setelah diusut, ternyata unta tersebut milik anak Umar. Ketika itu juga, unta milik anaknya diminta dijual, keuntungannya diserahkan ke baitul mal. Padahal bisnis Abdullah adalah bisnis halal. Umar hanya tak ingin ada persepsi negatif saat anaknya berbisnis.

Itulah Umar. Sederhana dan tegas dalam memimpin. Sampai Nabi Muhammad menjuluki Umar sebagai Al Faruq, artinya orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Kita semua pasti berharap pemimpin sekarang bisa meniru Umar. Tidak aji mumpung, apalagi memanfaatkan kekuasaan dan mewariskan jabatan. Semoga tidak.

Berikut ini ceramah K.H. Zainuddin MZ tentang kisah Umar bin Khattab

loading...
Top