TERBARU: Ini "Versi Lengkap" Terbunuhnya Feby Kurnia Mahasiswi UGM di Toilet

Penulis Penulis | Ditayangkan 14 May 2016

    Tak berselang lama demonstrasi mereda di gedung rektorat Universitas Gadjah Mada, mahasiswa kaget mendengar temuan Feby Kurnia (19).

    Mahasiswi jurusan Geofisika Fakultas MIPA asal Batam itu ditemukan di dalam toilet Gedung S2 dan S3 FMIPA UGM, Yogyakarta pada Senin (2/5/2016) petang.

    Mayat mahasiswi itu diduga kuat korban pembunuhan sebab ada bekas jeratan di leher. Menurut informasi, Feby sudah meninggal sejak empat hari lalu sebelum ditemukan.

Bau Busuk

TERBARU: Ini
Senin sore, petugas keamanan kampus Sutriyadi merasakan ada kejanggalan di toilet lantai lima Gedung MIPA, muasal bau bangkai. Saat hendak dibuka, toilet terkunci dari dalam.

"Ketika sedang memeriksa gedung pada sore hari sekitar pukul 18.30 WIB, ia mencium bau yang tidak sedap," ungkap petugas keamanan UGM, Setya Hadi, teman Sutriyadi.

Sutriyadi lalu memanggil Setya dan rekan lainnya untuk memeriksa ada apa di dalam toilet, tapi pintu tak bisa dibuka karena dikunci dari dalam.

"Pintu terkunci dari dalam, kami intip ada hitam-hitam. Kami langsung curiga ada yang enggak beres," sambung Setya.

Setelah beberapa kali gagal mendobrak pintu toliet, mereka kemudian turun dan menghubungi petugas keamanan dari sektor barat pusat.

Jumlah petugas keamanan yang datang ke toilet bertambah. Saat melongok ke dalam mereka mendapatkan sesosok mayat perempuan dalam posisi terduduk.

"Kami berempat langsung turun dan menghubungi pihak berwajib," ujar dia.

Polisi yang datang ke tempat kejadian perkara langsung melakukan mengidentifikasi jasad yang sebelumnya tidak dikenal itu.

Setelah beberapa jam melakukan identifikasi, petugas mendapatkan informasi jasad perempuan tersebut mengarah ke Feby Kurnia, mahasiswi semester dua UGM.

"Dari identitas yang kami temukan, korban bernama Feby Kurnia," ungkap Dir Reskrimum Polda DIY, Kombes Hudit Wahyudi di lokasi.

Kamera Pengawas Mati

TERBARU: Ini
Hasil identifikasi sementara, polisi menemukan jeratan di leher korban. Petugas menduga korban telah meninggal empat hingga lima hari sebelum ditemukan.

Saat ditemukan kondisi mayat sudah dalam keadaan tidak sempurna dan membusuk.

Kombes Hudit mengungkapkan, berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan pihaknya menduga ada unsur pembunuhan terhadap Feby.

"Luka tidak terlihat jelas. Penyebab kematian secara pasti nanti akan bisa dilihat nanti setelah keluar hasil otopsi," terang Hudit. Di dekat jasad korban, polisi menemukan adanya beberapa botol serta beberapa benda yang diduga milik korban.

Sedangkan untuk masalah pintu toilet yang terkunci polisi belum dapat mematikan apakah di kunci dari luar atau dari dalam.

Dirinya menerangkan, di area dekat toilet terdapat kamera pengawas, namun dalam keadaan mati.


"Ini kebiasan di Indonesia, CCTV hanya seperti figuran. CCTV mati, seandainya CCTV hidup bisa mengetahui kejadian kriminalitas," terang Hudit.

Pria diduga pembunuh Feby Kurnia sudah diamankan.

TERBARU: Ini
Kecurigaan muncul karena hingga sore Feby tidak ada kabar. Pada Jumat (29/4/2016), rekan satu kelas Feby mencoba mencarinya dan sempat menghubungi lewat pesan pendek dan telepon.

Rekan-rekan Feby sempat berkoordinasi dengan kepolisian untuk mencari Feby dengan melacak nomor telepon genggamnya, namun satu kali ditelpon justru seorang pria yang mengangkat.

"HP-nya terlacak di Jalan Parangtritis," terang Sabrina.
Setelah dilakukan pemeriksaan sementara oleh pihak kepolsian, jasad korban kemudian dibawa ke RSUP dr Sardjito. Kini beredar kabar pembunuh Feby sudah ditangkap.

Bukan Tulisan Korban


Kematian Feby begitu membekas di benak ibunya, Nurcahaya Ningsih (48). Ia merasa janggal dengan pesan pendek yang dikirim dari nomor ponsel Feby.

Bahasa yang digunakan di pesan singkat itu terasa asing. "Bahasa yang digunakan tak biasa dipakai anak saya," kata Nurcahya kepada Tribun Jogja, Selasa (3/5/2016).

Nurcahaya menerima pesan singkat terakhir dari ponsel Feby pada Jumat (29/4/2016), bertepatan keluarga di rumah mendapatkan kabar dari penjaga kost bahwa Feby tidak pulang.

Kejanggalan pesan singkat itu terlihat dari pilihan kata Feby yang menyebut dirinya "by", biasanya Feby tak menuliskan kata seperti itu.

"Biasanya hanya menulis Feby, enggak pernah By," imbuh Nurcahaya.
Kejanggalan lain, menurut Nurcahaya, Feby kerap singkat ketika membalas pesan, tak pernah panjang. Sementara pesan terakhir terlalu panjang.

Informasi yang dihimpun Tribun Jogja, Feby terpantau keluar dari kos untuk kuliah pada Kamis (28/4/2016) dan ditemukan sudah tewas pada Senin (2/5/2016) malam.
SHARE ARTIKEL