Hantavirus, Tak Dapat Menular Antar Manusia 

Penulis Isfatu Fadhilatul | Ditayangkan 27 Mar 2020

Hantavirus, Tak Dapat Menular Antar Manusia 

Ilustrasi hantavirus - Image from seputarpapua.com

Tak usah panik, hantavirus tak menular antar manusia

Beredarnya berita mengenai virus baru masyarakat pun lantas khawatir, mungkinkah hantavirus yang ditularkan melalui tikus ini berpotensi menjadi wabah seperti corona? 

Hal itu agaknya sedikit berlebihan, karena tak seperti coronavirus yang menyebar dengan cepat, hantavirus tidak menular, jikapun menular hanya di lingkungan tertentu saja. Simak penjelasan pakar berikut ini.

Virus corona penyebab penyakit COVID-19 yang saat ini telah menjadi pandemi, pertama kali muncul pada Desember 2019 lalu. Namun di tengah pandemi virus corona, muncul laporan kasus hantavirus di China yang membuat heboh seluruh dunia.

Namun tahukah Anda, berbeda dengan virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19, munculnya hantavirus ini sudah diidentifikasi oleh para ilmuwan sejak 70 tahun lalu. 

Artinya, hantavirus bukanlah virus baru. Melansir laman Liputan6.com (26/3), virus yang ditularkan oleh tikus telah dipelajari sejak 1993 lalu. 

Dan Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kasus-kasus hantavirus jarang terjadi, sebab penyakit ini menyebar sebagai akibat dari kontak dengan urin, kotoran atau air liur hewan perekat yang menjadi media penyebaran hantavirus.

Pertanyaannya, akankah hantavirus berpotensi menjadi seperti corona? 

Mari kita bandingkan dengan mencari perbedaan antara kedua virus yang sama-sama bersifat zoonosis (bisa menular dari hewan ke manusia) ini.

Sebelumnya, seorang pria di China dilaporkan tewas setelah terinfeksi hantavirus pada Senin (23/3). 

Kematian pria asal Provinsi Yunnan itu tentu saja mengejutkan warganet, karena belum rampung urusan COVID-19, muncul lagi korban jiwa lantaran terjangkit virus yang berbeda. 

Virus SARS-CoV-2 yang menyerang sistem pernapasan manusia, berasal dari keluarga besar virus corona. 

Begitupun dengan Hantavirus yang juga menyerang sistem pernapasan. Virus ini menjadi salah satu penyebab penyakit pernapasan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Hanya saja keduanya berasal dari keluarga virus yang berbeda. 

Baca juga: Peneliti Menemukan, Virus Corona Bisa Hidup di Air Selokan, Benarkah?

Ketika menjangkiti tubuh manusia, baik virus corona jenis baru penyebab COVID-19 maupun hantavirus sama-sama mengincar korban jiwa. Artinya, kedua virus ini sama-sama mematikan. 

Pertama kali muncul pada tahun 1950-an, hantavirus memiliki case fatality rate hingga 38 persen. Bahkan negara adidaya Amerika Serikat termasuk negara yang pernah dihampiri oleh wabah HPS pada Mei 1993. Korban pertamanya adalah seorang pemuda dari Suku Navajo. 

Tikus rusa atau Peromyscus maniculatus disebut-sebut sebagai dalang dari wabah HPS yang menjangkiti AS kala itu. Tikus rusa banyak menghuni wilayah pedesaan. Hewan ini bersarang di tumpukan kayu dan di dalam rumah-rumah penduduk.

Sedangkan virus corona dengan penambahan jumlah kasus kematian yang masih bergerak secara dinamis hingga saat ini, memiliki tingkat kematian sekitar 4,6 persen. 

Dengan rincian, ada 20.485 orang yang tewas dari 444.916 orang yang terjangkit di seluruh dunia. Data terakhir diperoleh dari South China Morning Post per Kamis (26/3). 

Baca Juga: 7 Fakta Hantavirus yang Digadang-gadang Lebih Ganas dari Corona

Bagaimana dengan inang virus? Melansir Kumparan (26/3), melalui berbagai penelitian, para ilmuwan sudah bisa memastikan bahwa inang virus dari hantavirus adalah tikus.

Hantavirus, Tak Dapat Menular Antar Manusia 

Ilustrasi gambar - Image from katadata.co.id

Berbeda dengan SARS-CoV-2 yang masih membuat ilmuwan bingung hingga sekarang. Belum jelas asal muasal virus corona jenis baru ini, meskipun muncul dugaan bahwa virus tersebut berasal dari hewan liar. 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah menyebut bahwa sebenarnya virus dari keluarga besar corona berasal dari hewan seperti seperti kelelawar, burung, monyet, ayam, sapi, hingga tikus. 

Dulu, ketika COVID-19 belum digolongkan sebagai pandemi global, ada yang beranggapan bahwa virus SARS-CoV-2 berasal dari ular. 

Ada pula beberapa orang yang menyebut bahwa inang COVID-19 adalah kelelawar, sampai-sampai ada larangan keras untuk mengkonsumsi sup kelelawar yang dituding sebagai dalang munculnya wabah.

Terakhir, hasil penelitian ilmuwan dari South China Agricultural University menemukan bahwa, hewan trenggiling yang biasa dikonsumsi daging dan sisiknya, berpotensi sebagai inang virus corona. 

Bicara perihal penularan, hantavirus hanya menginfeksi manusia jika mereka melakukan kontak dengan cairan urine, feses, ataupun air liur tikus. 

Sedangkan virus corona yang disebut memiliki sifat host-specific, sebenarnya sangat jarang menginfeksi manusia. Kasus tersebut dapat terjadi apabila virus corona bermutasi. 

Berdasarkan hasil penelitian The Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, ditemukan bahwa gen protein yang membentuk tubuh virus corona penyebab sindrom pernapasan akut (SARS), jauh berbeda dengan virus corona yang kita ketahui selama ini, baik dibandingkan dengan virus yang menginfeksi manusia ataupun yang menginfeksi binatang

Jika dilihat dari jenis antigennya, virus corona dibagi menjadi tiga kelompok. Mudahnya begini, hasil analisis gen dan asam amino pembentuk protein N, protein S, dan protein M menunjukkan bahwa virus corona SARS terpisah dari ketiga kelompok tersebut. 

Artinya, virus corona yang menjadi penyebab SARS merupakan jenis virus corona baru yang merupakan hasil dari mutasi, yang kemudian virus ini dinamakan virus SARS-CoV.

Begitu pula dengan novel coronavirus (SARS-CoV-2) yang saat ini tengah menjangkiti 156 negara di seluruh dunia itu.

Novel coronavirus sendiri diduga merupakan virus corona yang telah bermutasi, dan masih satu spesies atau satu keluarga dengan virus penyebab penyakit SARS.

Baca Juga: 5 Hal yang Wajib Diketahui Soal Infeksi Virus Corona Tanpa Gejala 

Penyebaran virus COVID-19 umumnya terjadi melalui air bersin ataupun batuk dari orang yang terinfeksi COVID-19 kepada orang sehat yang berada di dekatnya. 

Hantavirus, Tak Dapat Menular Antar Manusia 

Bentuk hantavirus - Image from jateng.idntimes.com

Dalam bentuk fisik, hantavirus berwujud bulat ataupun pleomorfik, nukleokapsid berbentuk helical

Hantavirus merupakan virus single stranded RNA dengan selubung yang mengandung lipid atau lemak, berpolarisasi negatif, serta berdiameter 80 hingga 120 nanometer. 

Hantavirus seperti yang disebutkan dalam laporan penelitian di jurnal Balaba tahun 2009, kurang infeksius. Kecuali di lingkungan atau daerah tertentu. 

Kasus infeksi hantavirus pada manusia terjadi secara sporadis, artinya penyebaran virus ini terjadi di suatu daerah yang tidak merata dan hanya dijumpai di beberapa daerah saja.

Biasanya di daerah pedesaan yang masih terdapat hutan, ladang, serta peternakan. Lokasi tersebut menawarkan habitat yang cocok untuk inang hewan pengerat virus seperti tikus.

Selain itu, lokasi yang berpotensi menjadi paparan hantavirus adalah area di sekitar rumah ataupun tempat kerja hewan pengerat dapat hidup, misalnya seperti rumah, lumbung, bangunan tambahan, serta gudang.

Tidak diketahui secara pasti berapa lama waktu virus ini bisa bertahan di lingkungan, setelah keluar dari tubuh tikus.

Namun percobaan laboratorium menunjukkan bahwa, daya infektivitas hantavirus tidak dijumpai setelah dua hari pengeringan.

Baca Juga: Seberapa Besar Potensi Anda Terjangkit Corona? Jawab dengan Pertanyaan Berikut

Hantavirus, Tak Dapat Menular Antar Manusia 

Bentuk virus corona - Image from www.liputan6.com

Sementara virus corona, digambarkan berbentuk bulat dengan diameter sekitar 100 hingga 120 nanometer. 

Virus corona memiliki RNA positif sebagai genomnya, atau yang biasanya sering disebut dengan RNA virus. Mutasi virus corona terjadi pada saat replikasi. Virus RNA bermutasi sekitar 1 juta kali lebih cepat daripada virus DNA. 

Sejauh ini, belum ada vaksin ataupun obat spesifik untuk menyembuhkan infeksi hantavirus maupun COVID-19.

Penderita yang positif kedua virus ini hanya dirawat dengan pengobatan suportif sesuai dengan gejalanya, termasuk penggunaan alat ventilator apabila timbul sesak yang membuat pasien kesulitan bernapas.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb