3 Tingkatan Manusia dalam Melawan Hawa Nafsu, Dari Lemah hingga yang Paling Kuat

Penulis Dian Editor | Ditayangkan 18 Nov 2020

Godaan hawa nafsu - Image from islam.nu.or.id

Kamu masuk tingkatan yang mana? 

Saat manusia mampu dikalahkan dan dikendalikan hawa nafsu, maka saat itulah ia termasuk kelompok yang paling merugi. Karena saat manusia mempertuhankan hawa nafsunya, maka ia akan dibiarkan sesat oleh Allah SWT. 

Allah SWT memerintah kepada manusia untuk melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu tersebut tentu bertingkat-tingkat, bergantung pada kemampuan dan kekuatan imannya. 

Imam Ghazali menyebutkan tiga tingkatan manusia dalam melawan hawa nafsu: 

Dikuasai Hawa Nafsu 

Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya. Ia bahkan tak sanggup melawan hawa nafsunya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. 

Dengan sikap ini, maka mereka sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya sebagaimana maksud ayat ini: 

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ 

"Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya." (Al-Jatsiyah: 23).

Senantiasa Bertarung dengan Hawa Nafsu 

Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Ada kalanya ia menang dan ada kalanya ia kalah. Jika maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia akan tergolong orang-orang yang mati syahid. 

Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sebagaimana perintah Nabi Muhammad SAW. 

"Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu." 

Menguasai dan Mengendalikan Hawa Nafsu 

Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah golongan orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. 

Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para nabi dan juga wali-wali Allah. 

Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus. Hal ini agar ia jangan tertipu (ghurur). 

Ghazali juga menerangkan banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa. Padahal sejatinya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya.

Perlu Selalu Waspada 

Sikap waspada juga harus senantiasa dilakukan sebab sering timbul kerancuan (iltibas) antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). 

Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia pada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi mana yang baik dan buruk. Juga sulit untuk menentukan pilihan. 

Dalam situasi seperti itu, Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. 

Hal ini dikarenakan, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Sebagaimana berpijak pada hadist Nabi Muhammad SAW: 

حُجِبَتِ الجنَّةُ بالمكَارِهِ و حُجِبتِ النَّارُ بالشَّهواتِ 

"Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan."

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa bertarung dengan hawa nafsu. Meski mengalami kesulitan, inshaallah akan diganjar balasan di Surga kelak. Aamiin ya robbal alamiin. 

loading...