Selain Dosa Zalim, Hukuman Berat ini Mengancam Para Penimbun Masker

Penulis Dian Aprilia | Ditayangkan 04 Mar 2020

Selain Dosa Zalim, Hukuman Berat ini Mengancam Para Penimbun Masker

Jangan menimbun masker jika tak mau merasakan akibatnya - Image from beritasatu.com

Malah mencari untung di dalam musibah

Jangan berani-beraninya menimbun masker kalau tak mau rasakan akibatnya!!! Tak hanya dosa yang akan anda dapat, tetapi melainkan hukuman berat seperti ini yang akan mengancam anda. Tak hanya itu pastinya akan merugikan keluarga anak, dan istri. 

Memang ditengah mewabahnya corona peluang penjualan masker meningkat pesat namun banyak yang menyalahgunakan dan mencari untung diatas penderitaan orang lain.

Di tengah merebaknya virus corona, ada saja oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan pribadi dengan merugikan dan membuat susah orang lain. 

Oknum tersebut adalah para pedagang yang menimbun masker dan hand sanitizer atau cairan pencuci tangan. 

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang membeli masker dan hand sanitizer untuk perlindungan dari virus corona yang saat ini sudah masuk ke Indonesia. Akibatnya, pasokan kedua barang tersebut menipis dan mengakibatkan harga melonjak tajam. Khususnya di daerah DKI Jakarta. 

Baca juga : 

Polres Jakarta Barat membongkar praktik penimbunan masker yang ada di apartemen daerah Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, sore tadi. Disana, polisi menemukan ratusan dus masker yang sengaja ditimbun untuk dijual kembali pada saat harga semakin tinggi. 

"Ada 350-400 dus yang ditemukan di apartemen tersebut," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Selasa (3/3/2020).

Yusri mengungkapkan bahwa upaya polisi untuk membongkar praktik penimbunan ini adalah dalam rangka mengantisipasi kelangkaan masker di pasaran. Selain itu, hal ini juga efektif untuk menekan harga jual masker yang melonjak, tepat saat ditemukannya kasus Corona di Indonesia untuk pertama kalinya. 

"Iya, ini salah satu upaya kita mengantisipasi hal tersebut agar masyarakat bisa mendapatkan masker sesuai kebutuhannya," ujar Yusri.

Ketika ditanya lebih mendalam mengenai penggerebekan tersebut, Yusri belum mau berkomentar. Yusri mengatakan pihaknya akan menggelar jumpa pers terkait kasus ini. 

"Besok kami rilis di Polres Jakbar," kata Yusri.

Presiden Perintahkan Oknum Penimbun Segera Ditindak

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis segera bertindak terkait langkanya masker wajah. Jokowi mengungkapkan kemungkinan adanya penimbunan masker dan penjualan masker dengan harga yang tinggi. 

"Saya juga sudah memerintahkan Kapolri untuk menindak tegas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang memanfaatkan momentum seperti ini dengan menimbun, masker terutama. Ini masker dan menjualnya lagi dengan harga yang sangat tinggi," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2020).

Jokowi menegaskan pada pihak yang coba mengambil keuntungan ditengah semakin menipisnya pasokan masker ini dengan "Hati-hati ini saya peringatkan," tegas dia.

Jokowi sudah melakukan pengecekan stok masker di pasar. Ada beberapa jenis masker yang pasokannya kian menipis.

"Menteri cek, tetapi dari info yang saya terima, stok dalam negeri kurang-lebih 50 juta. Memang pada masker tertentu itu yang langka," ucapnya.

Jokowi juga meminta masyarakat agar tidak panik dengan membeli kebutuhan pokok secara berlebihan, sebab perilaku tersebut justru akan memancing terjadinya kelangkaan kebutuhan pokok. 

"Masyarakat tidak perlu borong keperluan sehari-hari, justru bikin langka pembelian besar-besaran, menimbun dan memborong. Pemerintah jamin ketersediaan. Saya cek Bulog, Apindo," tegas Jokowi.

Oknum Penimbun Terancam Hukuman Penjara 5 Tahun dan Denda 50 Miliar 

Oknum pedagang yang diketahui menimbun masker dan hand sanitizer atau cairan pencuci tangan bisa diganjar hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda paling banyak 50 miliar. 

Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menegaskan bahwa oknum yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang dapat dijerat Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

"Aturan yang mengakomodir selalu didasarkan pada orientasi mengambil keuntungan besar dengan cara tidak wajar bahkan merugikan orang lain yaitu menimbun barang," kata Fickar, Senin (2/3/2020). 

Pasal 107 UU Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, berbunyi: 

"Pelaku Usaha yang menyimpan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat dan/atau terjadi hambatan kelangkaan lalu Barang, lintas gejolak Perdagangan harga, Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)." 

Dengan adanya pasal tersebut, memungkinkan polisi untuk melakukan upaya paksa penangkapan dan penahanan. Oleh sebab itu ia menilai polisi perlu menindak cepat oknum-oknum tersebut. 

"Karenanya menjadi relevan penegak hukum melakukan tindakan yang cepat, sebagai upaya shock therapy agar oknum-oknum yang mencari untung dengan merugikan kepentingan umum dapat mengurungkan niatnya," ujarnya.

Hukum Menimbun Barang (Ihtikar) dalam Islam 

Pengertian ihtikar 

Ihtikaru berasal dari kata ihtikara-yahtakiru yang berarti alhabsu (menahan) dan aljam’u (mengumpulkan). Ibnu Mandhur berkata: “Yaitu menahan (tidak menjual) bahan makanan sambil menunggu (naiknya harga).”

Sedangkan makna secara syar'i berarti secara syar’i menahan suatu barang (tidak menjualnya), padahal dia tidak membutuhkannya, sedangkan masyarakat sangat membutuhkannya, lalu men-jualnya di saat harga melambung tinggi sehingga menyulitkan masyarakat. 

Islam mengategorikan penimbunan barang sebagai salah satu perilaku zalim dan bertentangan dengan tujuan syariah dalam berdagang karena tindakan menimbun akan menyengsarakan orang banyak. Penimbunan termasuk dalam perilaku kriminal bidang ekonomi dan sosial.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan menimbun barang kecuali dia seorang pendosa.” (HR Muslim).

Hadist lain yang juga menyebut larangan melakukan penimbunan yakni sebagai berikut, Rasulullah SAW bersabda, 

“Barang siapa menimbun makanan selama 40 hari, ia akan lepas dari tanggungan Allah dan Allah pun cuci tangan dari perbuatannya, dan penduduk negeri mana saja yang pada pagi hari di tengah-tengah mereka ada orang yang kelaparan, sungguh perlindungan Allah Ta’ala telah terlepas dari mereka.” (HR Ahmad dan Hakim).

Ancaman kebangkrutan dan penyakit lepra 

Saking zalimnya perilaku ini, hingga Allah mengancam orang-orang yang melakukan penimbunan dengan penyakit berat dan kebangkrutan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menimbun bahan makanan bagi kaum Muslim, maka Allah akan menimpakan penyakit lepra dan kebangkrutan ke atasnya." (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim).

Apakah menimbun makanan saja yang diharamkan? 

Banyak hadist yang menjelaskan tentang haramnya perilaku penimbunan spesifik pada bahan makanan, sehingga ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa yang diharamkan hanyalah penimbunan bahan makanan, sedangkan penimbunan barang lainnya tidaklah diharamkan. 

Namun pendapat yang kuat, mengangkat keumuman dalil-dalil tentang ihtikar ini adalah diharamkannya penimbunan atas semua jenis barang yang menjadi kebutuhan orang banyak sebab akan menyengsarakan masyarakat jika terjadi penimbunan.

Penyebutan penimbunan bahan makanan secara khusus dalam beberapa hadist, diungkapkan ulama bertujuan untuk menunjukkan bahwa penimbunan bahan makanan lebih berbahaya dibandingkan penimbunan barang lainnya. 

Hukum penimbunan ini memberikan kita pembelajaran, agar jangan sampai sifat serakah sebagian oknum atau kelompok di masyarakat, menyebabkan kesengsaraan dan kesulitan bagi banyak orang. 

Sebab Islam adalah agama yang bertujuan untuk memberikan rahmat dan berkah kepada umatnya, dengan memberikan banyak kemaslahatan dan menghindari kemudharatan. 

Begitu pula dengan syariat ekonomi Islam yang sangat menghargai usaha seseorang dan melindungi kepemilikan pribadi, namun secara tegas akan melarang usaha-usaha yang memberikan kemudharatan lebih besar kepada umat. 

Secara umum, klasifikasi hukum atas perbuatan ihtikar adalah sebagai berikut : 

1. Haram. Ihtikar akan bernilai haram jika : 

  • Barang yang ditimbun adalah bahan makanan atau yang sangat dibutuhkan masyarakat di tempat tersebut. 
  • Penimbunan barang dengan tujuan menghilangkan dari pasaran sehingga dapat dijual kembali dengan harga mahal. 
  • Penimbunan barang melebihi kebutuhan keluarganya.
  • Kondisi pasokan barang di pasaran kian menipis.

2. Makruh. Ihtikar bernilai makruh jika : 

  • Penimbunan barang bukan bertujuan untuk menghilangkan barang dari pasaran ​
  • Barang yang ditimbun terdiri dari bahan makanan.
  • Menimbun pada saat barang dalam jumlah banyak. 
  • Tujuan menimbun barang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

3. Jaiz. Ihtikar bernilai jaiz jika : 

  • Barang yang ditimbun adalah bahan makanan ​
  • Menimbun pada waktu tidak terjadi lonjakan permintaan 
  • Penimbunan bukan bertujuan untuk mempengaruhi harga di pasaran
  • Tujuan menimbun barang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

4. Sunnah. Sunnah bernilai jika 

  • Barang yang ditimbun adalah bahan makanan 
  • Penimbunan dilakukan saat harga barang sedang murah
  • Permintaan barang sedang turun atau tidak banyak dibutuhkan oleh masyarakat
  • Barang akan dijual kembali jika sedang dibutuhkan
  • Menimbun barang dengan tujuan memberikan kemaslahatan untuk masyarakat.

Jika menilik dari hukum tersebut, menimbun masker dan hand sanitizer pada saat ini bisa dinilai haram. 

Sebab barang yang ditimbun adalah barang yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini untuk mencegah terinfeksi virus corona, penimbunan tersebut bertujuan untuk dijual kembali dengan harga mahal, dilakukan dalam jumlah besar-besaran yang melebihi kebutuhan keluarganya, dan kondisi pasokan masker dan hand sanitizer di pasaran kian menipis sebab banyak dijumpai stok kosong atau sedikit pada kedua barang tersebut, baik di apotek maupun swalayan.
Larangan mengambil keuntungan dengan jalan yang salah ini telah diperingatkan oleh Allah pada firmannya berikut ini yang berarti : 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu (QS. an-Nisa’[4]:29)

Tonton Video Hukum Menimbun Barang Menurut Ust Khalid Basalamah

viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb