Peringatan Bagi Orangtua, Balita di Cirebon ini Koma Berhari-hari Setelah Digigit Ular

Penulis Arief Prasetyo | Ditayangkan 12 Feb 2020

Peringatan Bagi Orangtua, Balita di Cirebon ini Koma Berhari-hari Setelah Digigit Ular

Balita di Cirebon Berhari-hari Koma Gegara Digigit Ular - Image from tribunnews.com

Hati-hati jangan biarkan anak bermain di sembarang tempat...

Tak mengerti tiba-tiba sudah ada bekas gigitan di telapak kaki, akhirnya balita ini tak sadarkan diri. Bisa yang menyerangnya sudah mengoyak pembuluh darahnya, dan juga menyerang sel saraf atau neurotiknya

Balita itu kini dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSD Gunung Jati Kota Cirebon.

Kejadian naas itu terjadi pada Sabtu (8/2) lalu. Petugas medis belum bisa memastikan jenis ular yang menyerang bocah tersebut.

"Kemarin koma, sekarang masih dirawat. Nanti diinformasikan lagi perkembangannya," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon Enny Suhaeni melalui pesan singkatnya, Rabu (12/2/2020).

Sebelumnya Enny menerangkan gigitan ular yang belum diketahui jenisnya itu ditemukan di telapak kaki korban. Petugas menemukan ada dua bekas luka gigitan di kaki korban.

"Ini kasus pertama untuk gigitan ular berbisa, sebelumnya ada tapi bisa-nya tidak seperti ini," kata Enny.

Sebelum dilarikan ke RSD Gunung Jati, bocah perempuan itu sempat dibawa ke puskesmas terdekat. Hingga akhirnya korban dirujuk untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Baca Juga:


Toksin atau bisa ular telah menyebar di tubuh balita perempuan asal Pamengkang itu. Menurut Wakil Direktur Pelayanan RSD Gunung Jati Cirebon Maria, kondisi korban tak sadarkan diri. Toksin atau bisa ular tersebut telah menyerang sel saraf atau neurotik juga sel darahnya.

Bisa ular yang belum diketahui jenisnya itu rupanya bisa mengoyak pembuluh darah korban. "Ternyata gejalanya bukan hanya neurotoxic, hemotoxic juga. Jadi racunnya itu menyebar ke darah. Ya bisa pecah pembuluh darahnya," kata Maria saat berbincang dengan detikcom di RSD Gunung Jati, Selasa (11/2/2020).

Maria menuturkan sampai saat ini kondisi pembuluh darah korban masih normal, tak ada yang pecah. Namun, lanjut dia, jumlah sel darahnya mengalami penurunan.

Maria mengaku pihaknya kerap menangani kasus gigitan ular. Ia menilai kasus gigitan ular yang dialami bocah Pamengkang merupakan baru. Sehingga, pihak rumah sakit dan Dinkes pun sepakat untuk memanggil salah satu dokter spesialis emergensi dari WHO yang bertugas di Kementrian Kesehatan (Kemenkes), yakni Tri Maharani.

"Kondisinya masih koma, masih di ruang PICU. Kita sudah memanggil dokter spesialis emergensi dari WHO, doktor dokter Tri Maharani," ucap Maria.

"Untuk jenis ularnya belum pasti, katanya jenis weling. Tapi tak teridentifikasi, dikhawatirkan jenis ularnya ini hasil perkawinan silang," tambah Maria.

Selain menangani korban, dokter WHO Tri Maharani sempat memberikan materi tentang penanganan pertama terhadap korban gigitan ular ke sejumlah dokter fungsional puskesmas di Kabupaten Cirebon. Para dokter fungsional itu dikumpulkan di Puskesmas Pamengkang, Kabupaten Cirebon.

Dinkes Kabupaten Cirebon berharap dokter fungsional yang bertugas di puskesmas bisa mendapatkan keahlian tambahan tentang penanganan gigitan ular versi WHO.

Pelatihan penangan kasus gigitan ular berbisa tersebut diprioritaskan pada sejumlah dokter fungsional yang bertugas di puskesmas terdampak banjir, yakni Kaliwedi, Susukan, Bunder, Pangkalan, Ciledug, Babakan, Astanalanggar, Gembongan, Losari, Mundu, Gunungjati, Jagapura, dan Waled.

Artikel Terkait
viral minggu ini

BAGIKAN !

Jika kontent kami bermanfaat
share wa
share fb