Artikel kali ini adalah artikel sederhana tentang pembahasan pemotongan tali pusar.
Artikel ini dirangkum dari tulisan dr. Setyadewi Lusyati, SpA(K), PhD pada kelompok kerja neonatologi RSAB Harapan Kita seperti yang dikutip dari kedokteran-kesehatan.blogspot.co.id.
Artikel ini ditujukan untuk menambah bahan seputar pemotongan tali pusar pada artikel ini.
Berikut ini beberapa dampak bila ada perbedaan waktu pemotongan tali pusat pada bayi prematur:
Waktu pemotongan tali pusat dengan menunda 60 menit bukanlah waktu yang lama. Hal ini dapat dengan mudah dipraktikkan pada bayi baru lahir yang tidak memiliki masalah medis. Selama melakukan perawatan rutin termasuk inisiasi menyusui dini di atas perut ibu, penolong persalinan dapat menunda melakukan pemotongan tali pusat.
Pada laporan studi kasus dari Hosono S, et al. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed 2008 mebuktikan bahwa pada situasi yang tidak memungkinkan untuk menunggu, tali pusat dapat dilakukan pemotongan segera, tetapi lebih panjang sekitar 20 cm dengan maksud untuk memudahkan melakukan pengurutan tali pusat (milking). Dengan begitu, diharapkan bayi tetap mendapatkan efek transfus plasenta seperti pemotongan tali pusat yang ditunda agak lambat.
Penelitian telah dilakukan pada bayi prematur usia kurang dari 29 minggu dan terus diikuti hingga usia 3 bulan, Penelitian tersebut membandingkan bayi prematur yang mendapatkan millking dan yang tidak mendapatkan milking. Hasil pada kelompok milking didapatkan:
- Kebutuhan ventilasi dan oksigen yang lebih rendah
- Kebutuhan dan frekuensi transfusi yang lebih jarang
- Memiliki kadar hemoglobin dan hematokrit yang lebih tinggi
- Tidak adanya efek samping hiperbilirubinemia dan perdarahan intrakranial yang lebih tinggi.
Pada meta-analisis terhadap 15 penelitian pada kelompok bayi prematur (24-36 minggu) yang membandingkan antara kelompok pemotongan tali pusat lambat dan dunia ditambah milking menunjukkan hasil yang tidak berbeda dalam hal:
1. Kebutuhan akan terapi hipotermia
2. Kajeadian keadaan asfiksia
3. Terjadinya mortalitas
4. Munculnya gangguan pernafasan (sindrom gawat nafas, kebutuhan ventilasi mekanik, oksigen, atau surfaktan).
Bayi yang memerlukan resusitasi harus dipisahkan dari ibunya dikarenakan tindakan resusitasi perlu dilakukan segera.
Kondisi pada periode transisi, yaitu terjadi penurunan pada tahanan di paru-paru seiring dengan mengembangnya alveol. Waktu pemotongan tali pusat akan memberikan efek dan dampak berupa:
1. Pemotongan pada arteri umbilikalis akan memberikan efek peningkatan tekanan darah sistemik dan peningkatan beban ventrikel kiri (afterload).
2. Pemotongan pada vena umbilikalis akan memberikan efek terhadap penurunan pengisian ventrikel dan atrium kanan.
Keadaan bayi yang memerlukan tindakan resusitasi, akibat dari tahanan paru yang masih relatif tinggi mengakibatkan terjadinya penurunan aliran darah ke bagian atrium kiri dan akibat tingginya afterload akibat dari pemotongan tali pusat mengakibatkan cardiac output terjadi penurunan. Penurunan ini dapat menyebabkan hipotensi dan gangguan aliran darah otak.
"Jadi disimpulkan bahwa tiap-tiap bayi yang memerlukan resusitasi pada saat yang sama juga membutuhkan transfusi plasenta”
Catatan Penting:
The American College Obstetrician and Gynecologist dan ILCOR (Desember 2012) merekomendasikan:“Berdasarkan beberapa laporan penelitian dan meta-analisis, disarankan untuk melakukan pemutusan tali pusat sekitar waktu 30-60 detik dan bisa ditunda hingga 2 menit,demikian juga halnya terhadap bayi prematur (jika memungkinkan untuk dilakukan)”