Contoh Teks Khutbah Idul Fitri Dilengkapi Doa

 06 Sep 2019  Fajar R

Contoh khutbah Idul fitri. Apabila bulan Ramadhan telah berakhir, maka keesokan harinya setelah melakukan ibadah puasa Ramadhan selama 30 (hari).

Maka setelah 30 (hari) tersebut akan tiba suatu hari yakni hari Kemenangan.

Hari kemenangan ini disebut Hari Raya Idul Fitri.

Lalu mengapa disebut hari kemenangan?

Hari Raya Idul Fitri disebut hari kemenangan dikarenakan sebelum Hari Raya Idul Fitri ini, umat Islam berjuang dengan berpuasa Ramadhan.

Dimana ibadah puasa ini dilakukan sebagai latihan dengan tujuan agar diberikan kekuatan dan keistiqomahan dalam menghadapi cobaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara memerangi nafsu dan menahan lapar satu hari penuh, mulai dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Nah pada hari kemenangan ini umat Islam diwajibkan untuk merayakan perjuangannya dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Sekalipun merayakan, diharapkan umat Islam juga diharapkan tidak lupa menjaga kebaikan-kebaikan yang yang telah tercipta pada bulan Ramadhan.

Merayakan pun tidak serta merta dilakukan dengan cara senang-senang saja, tetapi juga dilakukan dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah yang diperintahkan oleh Allah SWT, salah satunya adalah diawali dengan serangkaian ibadah Sholat Idul Fitri yang dilakukan pada pagi hari.

Serangkaian sholat Idul Fitri ini terdiri dari sholat Idul Fitri itu sendiri dan khutbah Idul Fitri singkat

Khutbah Idul Fitri ini biasa diisi dengan contoh khutbah idul fitri dengan materi dan tema yang bervariasi, mulai soal makna Idul Fitri, konsumerisme, renungan capaian puasa Ramadhan, solidaritas dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan Idul Fitri serta bulan Ramadhan.

Terkadang khutbah idul fitri yang membuat jamaah menangis dibawakan untuk menyentuh jamaah sholat Idul Fitri agar khutbah yang dibacakan pesannya sampai pada hati jamaah.

Tema-tema khutbah diatas diangkat untuk membentuk pribadi yang tunduk pada syariat Allah SWT.

Tema dan materi khutbah Idul Fitri tersebut diperlukan sebagai bekal ketundukan dan komitmen terhadap syariat Allah SWT.

Nah di bawah ini adalah contoh teks khutbah Idul Fitri yang akan diulas oleh wajibbaca.com

Contoh Teks Khutbah Idul Fitri Dilengkapi Doa

Contoh Teks Khutbah Idul Fitri Dilengkapi Doa - Image from islam.nu.or.id/

Teks Khutbah Idul Fitri 

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُللهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً.
الحَمْدُللهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلىَ
الَّذِى جَعَلَ مُحَمَّدً اِمَامًا لَّنَا وَلِسَائِرِ البَشَر. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ
الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
المَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ لِيَنْفِذَهُمْ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ وَيُنَجِّيهِمْ مِنْ عَذَابِ
النَّارِ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ الأَطْهَارِ
وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة.
أَمَّا بَعْدُ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى
فِى القُرْآنِ الكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ القَائِلِيْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ
شَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْم: {يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ
ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْلَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ}
الله اَكْبَرُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Baca Juga :
1.  Waktu Pelaksanaan Sholat Idul Adha dan Idul Fitri
2. Tata Cara dan Bacaan Niat Sholat Idul Fitri
3. Contoh Teks Khutbah Jumat yang Akan Sangat Mengena ke Hati Para Jamaah
4. 5 Rukun Khotbah Jumat yang Tak Boleh Ditinggalkan

Ma’asiral muslimin Rahimakumullah

Puji Syukur kita ucapkan kepada Allah SWT,

Dimana di hari yang mulia ini, kita masih diberikan nikmat kesehatan serta keimanan oleh Allah SWT. Nikmat yang besar dan telah kita rasakan ini sebagai bukti bahwa Allah SWT tidak pernah melupakan kita sebagai makhluk ciptaanNya. Udara yang biasa kita hirup, darah yang mengalir di dalam tubuh kita, bahkan Jantung yang selalu berdetak yang kita sendiri tak bisa menghitung berapa banyak jumlah detak jantung tersebut, Semuanya itu tiada luput adalah sebagai perhatian dan kasih sayang Allah SWT untuk kita.

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjelama tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh telah habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”

Sedangkan tugas kita sebagai makhluk ciptaanNya adalah dengan tak lupa berucap syukur dan berubudiyah kepada Allah SWT sebagai tanda bahwa kita merupakan makhluk yang lemah dan sungguh menyadari betapa butuhnya kita akan perhatian, kasih sayang serta perlindungan dari Allah SWT. Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya apabila kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah (nikmat) kepadamu, dan bila kalian mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Sholawat beserta Salam tidak bosan-bosannya kita memohon ampun kepada Allah SWT untuk disampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW serta keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Karena berkat usaha dengan perjuangan yang gigih dan penuh kesabaran yang telah beliau lakukan, telah berhasil membawa umat manusia dari zaman Jahiliyah menuju zaman Ilmiyah, dari zaman yang biadab menuju ke zaman yang beradab.

Akhrajannasa mina Zulumati Ila Nur.

الله اَكْبَرُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Ma’asiral muslimin Rahimakumullah

Pada hari kemenangan ini kalimat takbir dari indra pengecap umat Islam bergema diberbagai belahan wilayah. Hal ini dilakukan adalah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur yang bercampur dengan rasa gembira, lantaran mereka telah ber-idul fitri atau kembali kepada kesucian (fitrah).

Kalimat tersebut terdiri dari dua kata, yaitu kata id yang artinya kembali atau hari raya, dan kata fitr yang artinya kesucian. Dengan demikian, Idul Fitri bisa diartikan dengan hari perayaan umat Islam atas keberhasilannya kembali pada kesucian diri serupa bayi yang baru lahir ke dunia.

Orang yang telah berhasil mengerjakan puasa sebulan penuh dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada Allah SWTdianggap sebagai orang yang kembali suci. Untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT, umat Islam dianjurkan untuk menutup ibadah Ramadhan nya dengan mengerjakan sholat sunnah 2 (dua) rakaat yang disebut dengan sholat Hari Raya Idul Fitri.

Landasan hukum mengenai pelaksanaan sholat Idul Fitri tersebut terdapat pada riwayat dari Anas ibn Malik yang menyebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW pertama kali hijrah ke Madinah, penduduk Madinah mempunyai dua hari khusus yang merupakan hari raya bagi mereka. kemudian Rasulullah SAW. bertanya: “Kedua hari ini hari apa?” Penduduk Madinah lalu menjawab: “Pada dua hari ini kami mengadakan perayaan, bergembira dan bermain-main sejak zaman Jahiliyah”.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah Swt. telah mengganti kedua harimu ini dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad ibn Hanbal).

Terdapat dalam riwayat ibnu Abbas bahwa ia bersama-sama Rasulullah SAW, Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab memulai sholat Idul Fitri. Sholat ini diadakan sebelum khutbah, tanpa azan dan iqamah (H.R. Bukhari dan Muslim).

Tetapi di sisi lain perasaan haru dan sedih juga dialami oleh umat Islam, karena bulan suci Ramadhan yang sungguh mulia telah berlalu. Kemuliaan bulan Ramadhan dapat dilihat dari banyaknya julukan lain dari bulan ke-9 tersebut selain julukan Ramadhan. Bulan ini dijuluki juga dengan Syahr al-Qur’an (bulan al-Qur’an), Syahr al-Shiyam (bulan puasa), Syahr an-Najah (bulan keselamatan), Syahr al-Juud (bulan kemurahan), Syahr al-Tilawah (bulan membaca), Syahr al-Shabr (bulan kesabaran), Syahr al-Rahmah (bulan curahan kasih sayang dari Allah).

Bulan Ramadhan menjadi bulan yang mulia, dikarenakan banyak kitab suci dan shuhuf diturunkan di bulan tersebut. Shuhuf Ibrahim, diturunkan Allah SWT di malam pertama Ramadhan; Kitab Taurat, diturunkan Allah SWT di malam keenam Ramadhan; Kitab Zabur, diturunkan Allah SWT lalu di malam ke-12 Ramadhan, Kitab Injil, diturunkan Allah SWT di malam ke- 18 Ramadhan dan Kitab al-Qur’an, diturunkan Allah SWT di malam ke-17 Ramadhan.

Ramadhan semakin terbukti kemuliaannya bila dilihat peristiwa- peristiwa penting yang mengukir lembaran sejarah Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan. Peristiwa-peristiwa itu antara lain: 1). Kemenangan Rasul dan pasukannya dalam perang Badr, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-2 H; 2). Persiapan perang Uhud dilakukan pada bulan Ramadhan tahun ke-3 H; 3). Persiapan perang Khandak dilakukan pada bulan Ramadhan tahun ke-5 H; 4). Pembebasan kota Mekah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 H; 5). Kemenangan umat Islam dalam perang Tabuk terjadi pada bulan Ramadhan
tahun ke-9 H; 6).

Pengiriman pasukan khusu yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib ke Yaman terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H. Setahun kemudian penduduk Yaman berbondong-bondong masuk Islam; 7). Penaklukan Afrika oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Uthbah ibn Nafi’, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-53 H; 8). Islam menjajakkan kaki ke Eropa di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke- 91 H; dan 9). Indonesia merdeka terjadi juga pada bulan Ramadhan.

Kemuliaan Ramadhan semakin terlihat jelas, apabila dilihat dari khutbah Rasulullah SAW : 

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu dianugerahi bulan yang besar lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul Qadr); bulan yang diwajibkan di dalamnya untuk berpuasa; shalat malam di malam harinya dipandang sebagai ibadah sunat.

Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan satu perbuatan sunnah di dalamnya, pahalanya setara dengan melakukan satu perbuatan fardhu di bulan lain. Siapa saja yang mengerjakan satu perbuatan fardhu di dalamnya, pahalanya setara dengan orang yang mengerjakan 70 fardhu di bulan lain. Ramadhan adalah bulan sabar dan pahala dari sabar adalah surga.

Bulan Ramadhan merupakan bulan untuk memberikan pertolongan dan bulan dimana Allah SWT menambah rezeki bagi hamba yang beriman. Siapa saja yang memberikan makanan kepada orang yang berpuasa, maka semua dosanya akan diampuni dan dia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi sedikitpun”. 

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa?” Rasulullah bersabda: “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, seteguk air atau sedikit susu di bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh keampunan, dan akhirnya terbebas dari api neraka. Siapa saja yang meringankan beban seorang hamba, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan dimerdekakannya dari api neraka.

Karena itu dianjurkan memperbanyak yang empat di bulan Ramadhan; dua perkara untuk menyenangkan Allah SWT dan dua lagi kamu yang membutuhkannya. Dua perkara yang kamu lakukan untuk menyenangkan Allah SWT adalah untuk mengakui dengan sesungguhnya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Dua perkara lagi yang sangat kamu butuhkan adalah memohon surga dan berlindung dari api neraka. Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah akan memberinya minum yang jika diminum seteguk saja maka ia tidak akan merasa haus untuk selama-lamanya”.

Dari khutbah Rasul di atas telah tergambar jelas oleh kita betapa mulianya bulan Ramadhan, yang tidak akan pernah dijumpai di bulan-bulan lain. Sehingga wajar apabila Rasulullah SAW selalu sedih dan menangis ketika bulan Ramadhan akan berakhir. Atas dasar inilah wajar bila Rasulullah SAW mengucapkan bahwa andaikan umatku tahu betapa besarnya keutamaan bulan Ramadhan, pastilah mereka meminta supaya semua bulan dalam satu tahun itu dijadikan Ramadhan.

الله اَكْبَرُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Ma’asiral muslimin Rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk memperbanyak amal dan ibadah. Semua umat Islam berlomba-lomba untuk beramal. Tetapi bukan berarti, dengan berakhirnya Ramadhan berakhir pula kita beramal. Seharusnya kita dapat mempertahankan ibadah-ibadah yang telah kita lakukan selama satu bulan tersebut. Ibadah-ibadah yang harus kita pertahankan dan lestarikan tersebut
adalah:

Pertama, ibadah Puasa. Bila di bulan Ramadhan, puasa adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan selama satu bulan penuh, maka di luar Ramadhan disunnahkan kepada kita melakukan puasa di hari-hari tertentu, seperti puasa enam hari di bulan syawal, puasa senin dan kamis, puasa pertengahan bulan (13, 14, dan 15), dll.

Puasa adalah ibadah yang mempunyai berbagai manfaat. Selain baik untuk kesehatan, puasa juga dapat dijadikan sebagai sarana sebagai pengendali nafsu. Manfaat besar dari puasa, juga akan dapat dilihat dari percakapan yang terjadi diantara Abu Umamah dengan Rasulullah SAW. Abu Umamah bertanya kepada Rasulullah SAW.: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal apa yang dapat menjamin diriku memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dan masuk surga kelak? Rasul menjawab: Puasa! Abu Umamah bertanya dengan pertanyaan yang serupa, tetapi tetap saja jawaban Rasul sama, yaitu puasa.

Puasa yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW tersebut tentunya tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih dari itu, puasa yang dikerjakan dengan keimanan dan penuh perhitungan. Bila hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, inilah puasa yang disinyalir oleh Nabi dalam hadistnya:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الجُوْعُ وَالعَطَش

Mereka yang benar-benar mengerjakan puasa akan senantiasa mempuasakan totalitas dirinya, tidak saja dari makan, minum dan syahwat; tetapi juga mempuasakannya dari segala hal yang dapat membatalkan pahala puasa.

Adapun hal-hal yang dapat membatalkan pahala tersebut –sebagaimana yang disebutkan Rasulullah SAW adalah berdusta atau berbohong, memfitnah, sumpah palsu, ghibah atau membicarakan orang lain, dan memandang kepada sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT.

Ibadah puasa seperti inilah yang dapat menghapuskan dosa-dosa di masa silam, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْصَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ(رواه الجماعة)

Berakhirnya bulan Ramadhan bukan berarti berakhir juga ibadah puasa kita. Puasa tetap bisa dikerjakan di waktu-waktu tertentu, yang biasa disebut dengan puasa sunnah. Puasa-puasa ini tidak kalah pentingnya dan banyak pula manfaatnya apabila mengerjakannya.

Kedua, Sholat berjamaah. Di bulan Ramadhan, semua umat Islam berusaha mengerjakan sholat secara berjamaah, terlebih lagi terhadap sholat sunnah tarawih dan witir. Sehingga seluruh bagian masjid dan mushallah penuh sesak dengan jamaah. Dengan berakhirnya bulan Ramadhan, sebaiknya jangan sampai masjid dan mushalallah menjadi sunyi dari shalat berjamaah.

Bila dilakukan suatu analisa, banyak orang tidak mau shalat berjamaah ke masjid, lantaran menganggap sepele sholat berjamaah yang hukumnya sunnah tersebut. Padahal apabila merujuk pada kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dahulu, mereka tak pernah dengan sengaja meninggalkan sholat berjamaah. Kalaupun sholat berjamaah tertinggal, itupun lantaran adalah ketidak sengajaan. Meskipun tidak sengaja meninggalkannya, tapi banyak para sahabat yang justru memberi sanksi pada dirinya sendiri atas kelalaian yang berakibat tertinggalnya shalat berjamaah.

Umar bin Khattab, misalnya, di suatu siang ia sedang asyik bekerja di kebunnya yang berada di kota Madinah. Selesai bekerja, dia duduk untuk beristirahat di bawah pohon hingga akhirnya tertidur pulas. Tiba-tiba ia terbangun, ia terkejut karena waktu ashar telah masuk. Ia pun berlari ke masjid Rasulullah SAW untuk melakukan sholat berjamaah, tetapi sesampai di masjid ia menemukan Rasulullah SAW dan sahabat yang lain baru saja selesai mengerjakan sholat berjamaah.

Tertinggalnya sholat ashar berjamaah tersebut dianggap Umar sebagai keteledoran yang besar, sehingga ia pun memberi sanksi untuk dirinya dengan cara memberikan kebunnya yang rindang tersebut untuk digunakan sebagai modal perjuangan umat Islam. Padahal kebunnya tersebut bernilai 600.000 dinar (sekitar Rp. 45.000.000.000,- ).

Ketiga, Zakat dan shodaqoh. Ibadah sosial ini biasa dilakukan oleh umat Islam pada bulan Ramadhan. Ibadah shodaqoh ini dapat membuat manusia memiliki sifat kepedulian sosial (dermawan) terhadap sesama. Meskipun harta diperoleh dengan jerih payah usaha kita, tetapi pada harta tersebut terdapat hak orang lain, seperti hak fakir-miskin, hak masjid, hak anak yatim, dan lain-lain. Ini sejalan dengan firman Allah SWT :

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang
meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian” (Q.S. adz-Dzariyat (51): 19)

Zakat merupakan ibadah yang sangat banyak disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Kira-kira ada 82 kali pengulangan penyebutan zakat di dalam Al-Qur’an. Jumlah ini dibandingkan dengan pembicaraan tentang puasa jauh lebih banyak yang hanya sekitar 13 kali dan ibadah haji yang hanya terulang sebanyak 10 kali penyebutan. Bahkan perintah ibadah zakat seringkali digandengkan dengan perintah mendirikan sholat di dalam Al-Qur’an. Setidaknya penggandengan tersebut ditemukan sebanyak 26 kali. Hal ini menunjukkan bahwa zakat tidak kalah pentingnya dengan ibadah sholat. Bila sholat adalah lambang keharmonisan hubungan vertikal dengan Allah SWT, maka zakat adalah sebagai lambang keharmonisan hubungan horizontal sesama manusia. Karena alasan itu pula tidak dapat disalahkan, apabila ada ulama yang mengatakan bahwa kalau sholat dikerjakan sementara zakat tidak dibayarkan, maka keimanan orang tersebut masih dipertanyakan.

Abu Bakar ash-Shiddiq, yang melihat antara sholat dan zakat tidak bisa dipisahkan, sehingga dia memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Sikap ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ
أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ
عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ
أَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْعَلَى اللَّهِ (رواه البخارى والمسلم)

dari dasar itulah zakat tidak dapat dipandang remeh. Apabila zakat ini telah dibayarkan oleh seluruh umat Islam, ditambah lagi dengan kesadaran yang tinggi untuk bersedekah, berinfak dan berwakaf, insyaAllah segala masalah sosial maupun ekonomi umat dapat teratasi dengan baik.

الله اَكْبَرُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Ma’asiral muslimin Rahimakumullah

Bulan syawal merupakan bulan peningkatan. Di samping melestarikan nilai-nilai di bulan Ramadhan, kita berusaha untuk melakukan peningkatan dalam bidang amal. Untuk dapat melakukan usaha tersebut, bisa diupayakan melalui 6 (enam) cara, yaitu:

Pertama, musyawarah (komitmen dan tekat yang bulat. Artinya, mengawali bulan Syawal (bulan peningkatan) ini hendaknya punya komitmen dan tekat yang bulat bahwa kita betul-betul akan berupaya meningkatkan amal.

Kedua, muraqabah yakni memantau diri kita atau merasakan bahwa Allah SWT juga memantau diri kita. Apabila sikap ini ada pada diri kita, tentu kita tidak akan main-main dalam melaksanakan tekad tersebut. Karena Allah SWT akan senantiasa memantau keseriusan tekad kita.

Ketiga, muhasabah yakni dengan melakukan introspeksi sejauh mana kita melaksanakan tekad yang diikrarkan tersebut. Apakah sudah terlaksana dengan baik, atau terlaksana tetapi dipenuhi dengan kelalaian, atau tidak terlaksana sama sekali.

Keempat, mu’aqabah yakni memberikan sanksi yang bernilai efek jera terhadap kelalaian dalam melaksanakan tekad. Sebab, apabila kelalaian tersebut tidak diberikan sanksi, maka dikhawatirkan kelalaian serupa akan terjadi kembali.

Kelima, mujahadah yakni mengerahkan segenap kemampuan yang terdapat pada diri untuk memperbaiki kelalaian dari pelaksanaan tekad yang pernah terjadi. Apabila seluruh kemampuan telah dikerahkan untuk melakukan tekad dalam peningkatan amal tersebut, insyaAllah peningkatan amal dapat terwujud.

Keenam, taubikh wa mu’atabah yakni senantiasa mengkritik diri. Karena dengan cara inilah kita sadar bahwa amal-amal kita dipenuh dengan kekurangan sehingga ke depan kita akan berusaha meningkatkannya.

Demikianlah khutbah Idul Fitri pada hari ini, semoga dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat merayakan Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.

باَرَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ وَنَفَعَنِيْ وَاِياَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Khutbah Ke 2

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
الحَمْدُللهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَه وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَحَزَمَ
الأَحْزَابَ وَحْدَه. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنبَِيَّ بَعْدَه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَباَرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَا
عِباَدَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. إِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم وَعَلىَ آلِ اِبْرَاهِيْم وَباَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ
وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم فِى اْلعاَلَمِيْنَ اِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْد.اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَارْحَمْهُمْ كَمَارَبَّوْنَا
صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ
اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
. اَللّهُمَّ آرِناَ الْحَقَّ حَقاًّ وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَآرِناَ اْلباَطِلَ باَطِلاًوَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ.
اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا اَبْوَابَ الخَيْرِ وَاَبْوَابَ البَرَاكَةِ وَاَبْوَابَ النِّعْمَةِ
وَاَبْوَابَ السَّلاَمَةِ وَاَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَاَبْوَابَ الجَنَّةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا وَإِنْ لمَ ْتَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّناَ
آتِناَ فِىالدُّنْياَ حَسَنَةِ وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةِ وَقِناَ عَذاَبَ الناَّر.
وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَوَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Sekian ulasan mengenai contoh teks khutbah Idul Fitri ini. Semoga dapat dijadikan refrensi tentunya juga bermanfaat.